Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: Menteri PU: Kegiatan P3TGAI jaga keberlanjutan sistem subak di Bali

Published June 25, 2026 · Updated June 25, 2026 · By Linda Martin

Menteri PU: P3TGAI Mendukung Keberlanjutan Subak di Bali

Latest Program - Dalam upaya memastikan kelangsungan pertanian di Bali, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menegaskan bahwa program P3TGAI (Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi) berperan penting dalam menjaga keberlanjutan sistem subak. Dody menyampaikan hal ini saat menghadiri acara di Jakarta, Kamis lalu, menekankan bahwa penguatan infrastruktur irigasi merupakan bagian kunci dari strategi nasional untuk memastikan pasokan air yang stabil bagi para petani. Dengan infrastruktur yang lebih baik, produktivitas pertanian diharapkan terus meningkat, mendorong stabilitas produksi pangan secara nasional.

Program IBM Berdampak Luas pada Ekonomi Lokal

Menurut Dody, program P3TGAI yang dikelola dengan pendekatan Infrastruktur Berbasis Masyarakat (IBM) memiliki efek domino yang signifikan. Selain membangun sarana irigasi, program ini juga memberikan manfaat langsung kepada masyarakat melalui skema padat karya. Dengan melibatkan petani dalam proses konstruksi dan pengelolaan, kegiatan ini tidak hanya meningkatkan ketersediaan air tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat desa. Dody menjelaskan bahwa keterlibatan aktif masyarakat dalam proyek ini memastikan manfaatnya bertahan lama, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bantuan pemerintah.

“Program IBM memberikan penghasilan langsung kepada masyarakat sekaligus memperkuat kelembagaan petani. Dengan kolaborasi ini, infrastruktur irigasi tidak hanya menjadi alat teknis tetapi juga bantuan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Dody.

Pelaksanaan P3TGAI di Bali Mulai Berjalan

Kementerian PU telah mengawali implementasi P3TGAI Tahun Anggaran 2026 di Provinsi Bali sebagai langkah untuk memperkuat layanan irigasi pertanian. Upaya ini bertujuan menjaga keberlanjutan sistem subak, yang merupakan tradisi pengelolaan air pertanian berbasis komunitas di Bali. Dody menjelaskan bahwa proyek ini melibatkan kerja sama antara Balai Wilayah Sungai Bali Penida dengan gabungan kelompok petani, seperti GP3A dan P3A, serta subak yang menerima bantuan. Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) menjadi tanda dimulainya program tersebut.

Program ini fokus pada rehabiliasi, peningkatan, dan pembangunan jaringan irigasi secara partisipatif. Dody menyebutkan bahwa dalam 2026, P3TGAI akan dijalankan di 78 lokasi, tersebar di enam kabupaten: Gianyar (26 lokasi), Bangli (17), Tabanan (17), Klungkung (9), Jembrana (5), dan Karangasem (4). Jaringan irigasi yang diperbaiki meliputi sistem kecil dengan layanan kurang dari 150 hektare, jaringan tersier, serta irigasi desa. Dengan demikian, keandalan pasokan air diharapkan meningkat, terutama pada musim kemarau, yang sering kali memengaruhi produktivitas pertanian.

Pendekatan Subak untuk Peningkatan Adaptasi Iklim

Dody menjelaskan bahwa desain P3TGAI 2026 disesuaikan dengan sistem subak yang telah diakui sebagai kearifan lokal masyarakat Bali. Subak, sebagai unit pengelolaan air pertanian, dikenal memiliki kelebihan dalam mengatur distribusi air secara efisien. Dukungan dari jaringan irigasi yang lebih andal diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan subak, sekaligus meningkatkan kemampuan pertanian daerah dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Dengan menyesuaikan kebutuhan lokal, program ini memastikan bahwa infrastruktur yang dibangun selaras dengan praktik pengelolaan air yang telah terbukti efektif.

Kebutuhan adaptasi terhadap iklim juga menjadi faktor penting dalam perencanaan P3TGAI. Dody mengatakan bahwa jaringan irigasi yang diperbaiki tidak hanya meningkatkan hasil panen tetapi juga mengurangi risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem. Dengan pengelolaan air yang lebih terstruktur, petani di Bali diharapkan mampu menjaga kestabilan produksi pangan, yang menjadi fondasi penting bagi ketahanan pangan daerah. Selain itu, penggunaan air secara optimal akan mengurangi pemborosan, berkontribusi pada pertanian berkelanjutan.

Kolaborasi Masyarakat sebagai Kunci Sukses

Kementerian PU menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam pelaksanaan P3TGAI. Dody menegaskan bahwa program ini tidak hanya membangun infrastruktur tetapi juga menumbuhkan kemampuan lokal petani dalam mengelola sumber daya air. Dengan memperkuat kapasitas kelembagaan, petani diharapkan lebih mandiri dalam menghadapi tantangan pertanian, baik secara teknis maupun finansial.

Dody menyebutkan bahwa keberhasilan P3TGAI tergantung pada partisipasi aktif masyarakat. Dengan melibatkan petani langsung dalam proses perencanaan, konstruksi, dan pemeliharaan, program ini memastikan bahwa manfaatnya mencapai tingkat yang optimal. Selain itu, kegiatan ini juga menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan keluarga petani, dan membangun rasa memiliki terhadap infrastruktur yang dibuat.

Dengan adanya P3TGAI, sektor pertanian Bali diperkirakan akan lebih produktif dan tangguh. Ketersediaan air yang stabil berdampak langsung pada peningkatan hasil panen, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Dody yakin bahwa keberlanjutan sistem subak tidak hanya memperkuat ketahanan pangan tetapi juga menciptakan pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Proyek ini diharapkan menjadi contoh baik dalam mengintegrasikan kearifan lokal dengan teknologi modern untuk pengelolaan air irigasi.

Kelangsungan program ini juga memerlukan dukungan pemerintah daerah dan pihak terkait lainnya. Dody menyatakan bahwa kemitraan yang kuat antara lembaga pemerintah, organisasi petani, dan masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan. Dengan pendekatan partisipatif, P3TGAI tidak hanya meningkatkan ketersediaan air tetapi juga membangun sistem pengelolaan yang adaptif terhadap perubahan iklim. Program ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat adalah kunci untuk mencapai pertanian yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Keadilan dan Kemandirian Pertanian Bali

Dody menambahkan bahwa keberhasilan P3TGAI tidak hanya diukur dari infrastruktur yang dibangun tetapi juga dari perbaikan kualitas layanan bagi petani. Dengan memastikan akses air yang merata dan efisien, program ini membantu masyarakat pedesaan memperoleh keuntungan ekonomi. Selain itu, penguatan kelembagaan subak diharapkan mendorong keadilan dalam distribusi air, mengingat subak memiliki peran penting dalam mengatur alokasi air di daerah-daerah yang terpencil.

Dengan menyesuaikan kebutuhan masing-masing subak, P3TGAI membantu menjaga keseimbangan antara pertanian dan lingkungan. Dody menekankan bahwa program ini menjadi bagian dari upaya nasional untuk mencapai ketahanan pangan, sekaligus memperkuat keberlanjutan sumber daya air. Dukungan dari seluruh pemangku kepentingan, menurutnya, akan memastikan bahwa Bali tetap menjadi pusat pertanian yang berkelanjutan di Indonesia.