Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: Akademisi nilai PSEL Bali strategis kendalikan sampah dan emisi

Published July 9, 2026 · Updated July 9, 2026 · By Daniel Johnson

Akademisi: PSEL Bali Kunci Strategis Atasi Krisis Sampah dan Emisi

New Policy - Jakarta menyoroti pentingnya pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali sebagai solusi komprehensif. Lina Tri Mugi Astuti, yang menjabat sebagai Ketua Harian Perkumpulan Ahli Lingkungan Indonesia atau dikenal dengan singkatan IESA, menyampaikan pandangannya mengenai langkah ini. Ia menilai bahwa inisiatif tersebut memiliki peran krusial dalam mempercepat penanganan masalah sampah sekaligus memperkuat upaya pengendalian dampak lingkungan di Pulau Dewata.

Relevansi PSEL dengan Kondisi Sampah Saat Ini

Menurut pandangan Lina, konsep PSEL sangat relevan dengan realitas pengelolaan sampah yang ada saat ini. Hal ini terutama terlihat ketika sistem pemilahan sampah dari sumber belum berjalan secara optimal. Kondisi penumpukan sampah secara terbuka atau yang dikenal sebagai open dumping berpotensi melepaskan gas metana secara tidak terkendali. Pelepasan gas ini berkontribusi signifikan terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca yang menjadi isu global.

"Ketika dilakukan open dumping, masalah utamanya berkaitan dengan perubahan iklim. Gas metana terlepas secara tidak terkendali dan berpotensi besar menyumbang gas rumah kaca. Berbeda ketika sampah dikelola," jelas Lina dalam pernyataannya di Jakarta pada hari Kamis.

Lina lebih lanjut menjelaskan bahwa teknologi PSEL memiliki fleksibilitas tinggi. Berbagai metode dapat diterapkan, mulai dari produksi biogas hingga proses pirolisis. Namun, dengan mempertimbangkan karakteristik sampah yang belum sepenuhnya terpilah, teknologi insinerasi dinilai sebagai pilihan tepat untuk mempercepat pengolahan sampah dalam skala besar. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa PSEL tidak terbatas hanya pada penggunaan insinerator.

Pentingnya Sistem Pengendalian Emisi

Keberhasilan implementasi teknologi PSEL sangat bergantung pada konsistensi sistem pengendalian emisi dan pengawasan lingkungan. Lina menekankan bahwa insinerator harus melalui proses pengujian yang ketat. Emisi yang dihasilkan harus dapat dikendalikan dengan baik agar tidak mencemari lingkungan sekitar. Selain itu, audit lingkungan dan penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan atau amdal harus dilakukan secara komprehensif.

Pemantauan berkala juga menjadi elemen penting yang harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat. Hal ini memastikan bahwa setiap aspek operasional PSEL berjalan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Tanpa pengawasan yang memadai, manfaat lingkungan dari PSEL dapat berkurang secara signifikan.

Keterkaitan dengan Ekonomi Sirkular

Meskipun PSEL menawarkan solusi teknologi, keberadaan fasilitas ini tidak dapat menggantikan upaya pengurangan dan pemilahan sampah sejak dari sumber. Lina menegaskan bahwa PSEL dan ekonomi sirkular harus berjalan dalam satu sistem pengelolaan yang saling melengkapi. Kesadaran masyarakat untuk memilah sampah organik dan anorganik menjadi tantangan utama yang harus diatasi bersama.

Selain mengurangi beban di tempat pemrosesan akhir, kualitas sampah yang masuk juga memengaruhi kinerja fasilitas pengolahan menjadi energi. Kadar kelembaban sampah yang tinggi berpotensi memengaruhi proses pengolahan dan kemampuan fasilitas menghasilkan energi sesuai kapasitas yang direncanakan. Oleh karena itu, insinerasi memang menjadi teknologi yang paling cepat untuk saat ini, tetapi itu tidak menjamin keberlanjutan apabila tidak didukung perilaku masyarakat dalam memperlakukan sampah.

Aspek Sosial dan Ekonomi

Transformasi pengelolaan sampah juga perlu memperhatikan aspek sosial, termasuk keberadaan sektor informal. Selama ini, sektor informal menggantungkan mata pencaharian pada aktivitas pemilahan dan pengumpulan material bernilai ekonomi. Dalam jangka panjang, Lina menilai PSEL berpotensi memberikan dampak positif bagi lingkungan Bali apabila dibangun dan dioperasikan sesuai standar. Indikator yang paling mudah dirasakan masyarakat adalah lingkungan yang semakin bersih dan berkurangnya sampah di ruang publik, termasuk kawasan pantai.

"Kalau PSEL sudah ada dan Bali tidak bersih, itu menjadi tanda tanya, terutama jika sampah masih terlihat di pantai. Pemerintah daerah tidak boleh diam. Pengumpulan sampah tetap harus dilakukan secara masif," tegas Lina.

Selain manfaat lingkungan, pengoperasian PSEL juga berpotensi memberikan efek berganda terhadap perekonomian melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan aktivitas ekonomi sirkular di sektor hulu. PSEL Bali diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sampah berkelanjutan dengan tata kelola yang transparan, pengawasan lingkungan yang kuat, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

"Praktik pembangunan PSEL yang bersih harus menjadi tolok ukur. Kerja sama antara swasta dan pemerintah harus berjalan dengan baik. Dukungan regulasi dan kebijakan harus kuat," pungkas Lina.

Tata kelola yang baik sejak proses pengadaan, penyusunan amdal, pembangunan, hingga pengoperasian menjadi fondasi agar pengembang dapat bekerja secara profesional dan fokus memenuhi standar lingkungan. Kalau prosesnya bersih, developer atau investor tidak akan terganggu dengan hal-hal yang bersifat nonteknis. Mereka bisa bekerja dengan baik.