Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Topics Covered: Phapros lakukan mitigasi dampak pelemahan rupiah pada bahan baku

Published June 11, 2026 · Updated June 11, 2026 · By Daniel Johnson

Phapros Terapkan Strategi Mitigasi untuk Kurangi Dampak Pelemahan Rupiah

Topics Covered - Jakarta, Kamis – Sebagai anak perusahaan BUMN farmasi PT Kimia Farma Tbk, PT Phapros Tbk berupaya mengambil tindakan pencegahan untuk mengurangi dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang kini berdampak pada biaya bahan baku impor serta operasional perusahaan. Direktur Produksi Phapros, Ida Rahmi Kurniasih, menyatakan bahwa fluktuasi kurs rupiah menjadi faktor eksternal yang sulit dikendalikan, sehingga perusahaan fokus pada langkah-langkah internal untuk meminimalkan efek negatifnya.

Kenaikan Biaya Bahan Baku dan Pengiriman

Kurs rupiah yang terus mengalami pelemahan sejak penutupan perdagangan Rabu sore telah memengaruhi kenaikan biaya bahan baku dan pengiriman, menurut Ida. Dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025, ia menjelaskan bahwa perusahaan telah mengambil langkah-langkah mitigasi, seperti penyusunan skenario pelemahan rupiah, renegosiasi harga dengan pemasok luar negeri, serta diversifikasi sumber bahan baku. Selain itu, Phapros juga mempertimbangkan penggunaan mata uang alternatif dalam transaksi impor, termasuk renminbi (yuan Tiongkok) dan euro, sebagai upaya mengurangi risiko fluktuasi.

“Kami terus mencari alternatif bahan baku agar bisa memperoleh harga yang lebih baik, termasuk kemungkinan melakukan transaksi selain dolar AS,” ujar Ida Rahmi Kurniasih.

Ida menekankan bahwa perusahaan berusaha menjaga stabilitas harga dan kontinuitas pasokan dengan menandatangani kontrak pengadaan bahan baku lebih awal dan dengan jangka waktu yang lebih panjang. Selain itu, Phapros juga menerapkan strategi lindung nilai (hedging) untuk meminimalkan risiko perubahan kurs terhadap operasionalnya. Langkah ini diperlukan karena sebagian besar bahan baku industri farmasi Indonesia masih bergantung pada impor, yang mencapai lebih dari 90 persen.

Pertumbuhan Industri Farmasi dan Peluang Ekspor

Direktur Utama Phapros, Intan Abdams Katoppo, menyoroti bahwa meskipun ketergantungan impor masih tinggi, pertumbuhan kebutuhan layanan kesehatan dan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tetap membuka peluang untuk pertumbuhan industri farmasi dalam negeri. Ia menjelaskan bahwa perusahaan menyiapkan ekspansi pasar ekspor ke beberapa negara, termasuk Timor Leste, Kamboja, Filipina, Myanmar, Papua Nugini, dan Peru, guna memperluas jangkauan bisnis secara internasional.

“Untuk bisa memanfaatkan momentum penguatan dolar ini, kami mendorong penjualan ke pasar luar negeri seperti Timor Leste, Kamboja, Filipina, Myanmar, Papua Nugini, dan Peru,” ungkap Intan Abdams Katoppo.

Pertumbuhan ekspor ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam mengimbangi dampak pelemahan rupiah, sekaligus memperkuat posisi perusahaan di pasar global. Intan menegaskan bahwa perusahaan juga menyiapkan empat produk baru pada tahun 2026, yaitu multivitamin anak Vicom Grow, Vicom Star, serta antibiotik Pehafosh. Produk-produk ini menjadi bagian dari strategi untuk memenuhi permintaan pasar domestik dan internasional.

Langkah Efisiensi dan Diversifikasi Sumber

Sebagai bagian dari upaya mitigasi, Phapros tidak hanya fokus pada diversifikasi sumber bahan baku, tetapi juga melakukan efisiensi di berbagai divisi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kinerja operasional dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya. Ida Rahmi Kurniasih menambahkan bahwa diversifikasi sumber tidak hanya berarti mengubah mata uang transaksi, tetapi juga mencari alternatif pemasok di luar Amerika Serikat.

Dalam rangka mengurangi ketergantungan pada impor, perusahaan juga melakukan evaluasi terhadap strategi pengadaan bahan baku. Dengan menyiapkan skenario pelemahan rupiah, Phapros berusaha memperkirakan perubahan harga dan mengambil langkah proaktif untuk menyesuaikan. Renegosiasi harga dengan pemasok luar negeri, kata Ida, menjadi cara efektif untuk memperoleh kesepakatan yang lebih menguntungkan, terutama di tengah ketidakstabilan kurs.

Selain itu, perusahaan mendorong penggunaan mata uang seperti renminbi dan euro dalam transaksi impor, yang dinilai lebih stabil dibandingkan dolar AS. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi risiko perubahan nilai tukar yang signifikan. Dengan demikian, Phapros berupaya memastikan bahwa kenaikan biaya tidak menghambat pertumbuhan bisnis, terlebih dalam kondisi ekonomi yang dinamis.

Dukungan untuk Program Nasional

Produk multivitamin anak yang akan diluncurkan pada 2026, seperti Vicom Grow dan Vicom Star, menjadi bagian dari upaya Phapros untuk mendukung program penurunan stunting yang digalakkan pemerintah. Ida Rahmi Kurniasih menjelaskan bahwa inisiatif ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar, tetapi juga sejalan dengan tujuan peningkatan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Dengan menambahkan variasi produk, Phapros berharap dapat memperluas pangsa pasar sambil tetap fokus pada keberlanjutan usaha.

Ekspansi ke pasar ekspor juga disertai dengan persiapan dalam membangun hubungan bisnis yang lebih kuat. Intan Abdams Katoppo menekankan bahwa perusahaan terus memperkuat jaringan distribusi di luar negeri, sekaligus memanfaatkan peluang penguatan dolar AS terhadap rupiah. Meski tren pelemahan rupiah terus berlangsung, perusahaan optimistis bahwa strategi yang diambil akan membantu meminimalkan dampak negatif, baik dalam hal biaya maupun volume produksi.

Phapros berkomitmen untuk menjaga konsistensi dalam layanan farmasi nasional, sambil menyesuaikan diri dengan perubahan ekonomi global. Dengan menggabungkan langkah-langkah mitigasi, efisiensi operasional, dan diversifikasi sumber, perusahaan berharap dapat tetap berkontribusi pada industri farmasi Indonesia, bahkan di tengah tantangan yang semakin kompleks. Penyesuaian ini, kata Intan, menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan dan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Perusahaan juga memperhatikan pengembangan produk baru sebagai cara untuk meningkatkan daya saing di pasar. Dengan menyiapkan empat produk baru, Phapros mencoba memenuhi kebutuhan yang semakin berkembang, baik dari segi jenis maupun kualitas. Penyusunan skenario dan penggunaan strategi lindung nilai, menurut Ida, adalah dua pilar penting dalam menghadapi fluktuasi kurs yang terus mengancam.

Kinerja Phapros pada 2026 akan menjadi ujian bagi keberhasilan langkah-langkah mitigasi yang diambil. Dengan menyiapkan ekspor dan produk baru secara bersamaan, perusahaan berharap dapat mengurangi ketergantungan pada impor, sekaligus memperkuat daya tahan terhadap perubahan ekonomi. Kebijakan ini diperlukan untuk menjaga stabilitas harga, mengoptimalkan pasokan, dan mendukung pertumbuhan industri farmasi nasional dalam kondisi pasar yang terus berubah.