Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Wakil Ketua MPR sebut subsidi hambat percepatan transisi energi

Published September 30, 2026 · Updated September 30, 2026 · By Daniel Johnson - fukushimask.com

Foto : Daniel Johnson - fukushimask.com

Penataan Subsidi Dinilai Penting untuk Mempercepat Energi Bersih

Fukushimask.com – Kebijakan subsidi energi perlu ditata kembali agar Indonesia memiliki ruang fiskal dan sinyal harga yang lebih kuat untuk mempercepat peralihan menuju energi terbarukan. Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menilai subsidi yang besar membuat energi fosil tampak jauh lebih murah bagi pengguna, meski biaya penyediaannya sebenarnya lebih tinggi.

Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi dorongan masyarakat maupun dunia usaha untuk memilih sumber energi yang lebih rendah emisi. Ketika bahan bakar fosil dijual dengan harga yang ditekan melalui subsidi, energi bersih akan menghadapi persaingan harga yang tidak seimbang di tingkat pengguna akhir.

“Problem kita adalah subsidi. Padahal energi fosil artificially cheap, karena subsidinya besar,” ujar Eddy dalam sebuah forum di Jakarta, Rabu.

Selisih Harga dan Beban Subsidi

Eddy menggambarkan persoalan itu melalui harga Pertalite. Konsumen saat ini membayar sekitar Rp10.000 per liter, sementara biaya produksinya disebut mencapai kurang lebih Rp16.100 per liter. Perbedaan antara harga jual dan biaya penyediaan tersebut ditanggung pemerintah melalui subsidi.

Situasi serupa terlihat pada LPG tabung 3 kilogram. Biaya penyediaan satu tabung LPG bersubsidi berada di kisaran Rp56.000, sedangkan harga yang dibayar masyarakat sekitar Rp20.000 hingga Rp25.000 per tabung. Artinya, terdapat komponen pembiayaan yang cukup besar dari anggaran negara agar harga tetap terjangkau.

Subsidi memang memiliki fungsi sosial yang penting, terutama untuk menjaga daya beli kelompok yang membutuhkan. Namun, penyaluran yang terlalu luas dapat membuat manfaat anggaran tidak seluruhnya diterima oleh kelompok sasaran. Dalam konteks transisi energi, pola subsidi juga memengaruhi pilihan konsumsi dan arah investasi jangka panjang.

Harga energi bukan sekadar angka di stasiun pengisian bahan bakar atau pangkalan LPG. Struktur harga ikut menentukan apakah rumah tangga, pelaku industri, dan investor melihat energi terbarukan sebagai pilihan yang layak secara ekonomi. Karena itu, perubahan kebijakan perlu dilakukan secara hati-hati agar perlindungan bagi masyarakat tetap terjaga.

Right Sizing dan Right Targeting

Eddy mendorong penerapan right sizing atau penyesuaian nilai subsidi, disertai right targeting agar bantuan benar-benar diterima pihak yang berhak. Penghematan dari perbaikan skema tersebut dapat dipakai untuk membiayai kebutuhan transisi energi yang semakin besar.

“Kalau kita bisa lakukan right sizing dan right targeting dari subsidi itu, tentu ada sebagian penghematan yang bisa kita gunakan untuk membiayai transisi energi yang ada sekarang,” katanya.

Penataan subsidi dipandang perlu masuk dalam agenda prioritas pemerintah karena dampaknya meluas, mulai dari pengelolaan anggaran hingga daya tarik proyek energi hijau. Kebijakan yang lebih tepat sasaran dapat membantu menjaga akses energi terjangkau tanpa terus-menerus mempertahankan harga fosil pada level yang tidak mencerminkan biaya penyediaannya.

Pendekatan tersebut juga perlu disertai komunikasi yang jelas kepada masyarakat. Perubahan dalam skema subsidi berpotensi menyentuh kebutuhan sehari-hari, sehingga tujuan kebijakan, penerima manfaat, serta bentuk perlindungan yang tersedia perlu dipahami secara terbuka. Transisi energi akan lebih mudah diterima apabila masyarakat melihat bahwa manfaatnya tidak hanya terkait target jangka panjang, tetapi juga ketahanan energi dan kualitas lingkungan.

Investasi Besar hingga 2034

Selain pembenahan subsidi, percepatan penggunaan energi terbarukan membutuhkan investasi dalam jumlah sangat besar. Eddy menyebut kebutuhan pembiayaan agenda transisi energi Indonesia hingga 2034 mencapai sekitar 180 miliar dolar AS. Dana itu mencakup pembangunan pembangkit berbasis energi terbarukan dan infrastruktur yang mendukung pengoperasiannya.

Kebutuhan tersebut belum memasukkan rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt. Untuk proyek PLTS sebesar itu, kebutuhan investasi tambahan diperkirakan sekitar 100 miliar dolar AS.

Besarnya angka pembiayaan menunjukkan bahwa pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Keterlibatan sektor swasta dan investor menjadi unsur penting, terutama untuk menyediakan teknologi, membangun fasilitas pembangkitan, memperkuat jaringan, serta mendukung sistem penyimpanan energi. Iklim investasi yang jelas dan kebijakan energi yang konsisten akan menjadi faktor penentu bagi masuknya modal jangka panjang.

Transisi energi juga tidak hanya berkaitan dengan pembangunan pembangkit baru. Energi surya dan sejumlah sumber terbarukan memiliki karakter produksi yang dapat berubah mengikuti kondisi alam. Karena itu, pengembangan baterai dan infrastruktur pendukung diperlukan agar pasokan listrik tetap andal ketika produksi energi terbarukan berfluktuasi.

Target Kapasitas Energi Terbarukan

Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik atau RUPTL, pemerintah menargetkan pembangunan hampir 70 gigawatt pembangkit listrik baru sampai 2034. Dari total tambahan kapasitas tersebut, sekitar 52 gigawatt direncanakan berasal dari energi terbarukan, termasuk sistem penyimpanan energi baterai.

Tambahan kapasitas itu diharapkan mendorong porsi energi terbarukan dalam bauran energi Indonesia. Angkanya diproyeksikan meningkat dari sekitar 17 persen saat ini menjadi hampir 30 persen pada 2034. Pada 2040, porsinya ditargetkan mencapai 40 persen.

Target tersebut memperlihatkan skala perubahan yang dibutuhkan dalam satu setengah dekade ke depan. Pembangunan pembangkit perlu bergerak sejalan dengan kesiapan jaringan listrik, pembiayaan, perizinan, teknologi penyimpanan, serta kepastian bagi investor. Tanpa pembenahan kebijakan yang saling mendukung, target kapasitas berisiko sulit diterjemahkan menjadi proyek yang berjalan tepat waktu.

Penataan subsidi, pembiayaan hijau, dan pembangunan infrastruktur pada akhirnya merupakan bagian dari satu agenda yang sama. Subsidi yang lebih terarah dapat melindungi masyarakat yang membutuhkan, sementara sebagian ruang anggaran yang tercipta dapat memperkuat fondasi energi bersih. Dengan kebijakan harga yang lebih seimbang dan investasi yang memadai, transisi energi dapat bergerak dari target perencanaan menuju perubahan nyata dalam sistem energi nasional.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Wakil Ketua MPR sebut subsidi hambat?

Wakil Ketua MPR sebut subsidi hambat is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Wakil Ketua MPR sebut subsidi hambat matter?

Wakil Ketua MPR sebut subsidi hambat matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.