Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

BEI catat sembilan perusahaan antre IPO hingga Oktober 2026

Published October 24, 2026 · Updated October 24, 2026 · By David Garcia - fukushimask.com

Foto : David Garcia - fukushimask.com

Antrean IPO di BEI Berisi Sembilan Perusahaan hingga 23 Oktober 2026

Fukushimask.com – Aktivitas penghimpunan dana di pasar modal Indonesia masih berlanjut hingga penghujung Oktober 2026. PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada sembilan perusahaan yang tengah mempersiapkan pencatatan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) per 23 Oktober 2026.

Daftar calon emiten tersebut mencerminkan minat perusahaan dari sejumlah bidang usaha untuk membuka akses pendanaan melalui bursa. Kehadiran perusahaan baru juga menjadi bagian dari upaya memperbesar jumlah emiten di pasar modal domestik, yang ditargetkan mencapai 1.100 perusahaan pada 2030.

“Hingga saat ini, terdapat sembilan perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ungkap Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat.

Komposisi calon emiten

Dari sembilan perusahaan yang berada dalam pipeline IPO, tiga perusahaan masuk kategori aset besar dengan nilai aset di atas Rp250 miliar. Lima perusahaan lainnya berada pada kelompok aset menengah, yaitu memiliki aset lebih dari Rp50 miliar sampai Rp250 miliar.

Satu calon emiten sisanya tergolong perusahaan berskala kecil karena asetnya berada di bawah Rp50 miliar. Pengelompokan tersebut menggunakan ketentuan dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 53/POJK.04/2017.

Ragam sektor dalam antrean IPO memperlihatkan dominasi sektor kesehatan. Sebanyak empat perusahaan yang sedang menuju pasar saham berasal dari sektor ini. Sektor energi dan barang baku masing-masing menyumbang dua perusahaan, sedangkan satu perusahaan berasal dari sektor keuangan.

Komposisi ini memberi gambaran bahwa pasar modal tidak hanya menjadi pilihan pendanaan bagi satu jenis industri. Perusahaan dapat memanfaatkan IPO untuk memperluas basis modal, mendukung agenda pengembangan usaha, sekaligus meningkatkan keterbukaan informasi kepada publik setelah tercatat di bursa.

Tujuh IPO telah terlaksana

Sepanjang 2026 hingga 23 Oktober, BEI telah mencatat tujuh perusahaan yang sukses melaksanakan IPO. Nilai dana yang diperoleh dari seluruh aksi penawaran saham perdana itu mencapai Rp2,16 triliun.

Dengan tambahan emiten tersebut, jumlah perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia telah mencapai 963 perusahaan. Angka ini masih menyisakan ruang pertumbuhan menuju sasaran 1.100 perusahaan pada 2030.

Bagi investor, bertambahnya jumlah emiten berpotensi memperluas pilihan instrumen saham di pasar domestik. Sementara bagi perusahaan, status sebagai emiten membawa kewajiban tata kelola dan keterbukaan informasi yang lebih tinggi. Karena itu, proses menuju IPO mencakup kesiapan struktur perusahaan, pelaporan keuangan, serta pemenuhan ketentuan pasar modal.

Pipeline IPO sendiri tidak selalu berarti seluruh perusahaan akan langsung mencatatkan saham dalam waktu bersamaan. Tahapan penawaran umum tetap membutuhkan proses persiapan dan pemenuhan persyaratan sebelum suatu perusahaan resmi menjadi emiten.

Penggalangan dana obligasi dan sukuk tetap kuat

Selain saham, aktivitas pendanaan melalui Efek Bersifat Utang dan Sukuk atau EBUS juga mencatat nilai signifikan. Hingga 23 Oktober 2026, terdapat 149 emisi yang diterbitkan oleh 66 penerbit EBUS dengan dana terkumpul sebesar Rp151,95 triliun.

Angka tersebut menunjukkan instrumen utang dan sukuk tetap menjadi salah satu jalur penting bagi perusahaan dalam memperoleh pembiayaan dari pasar modal. Berbeda dari penerbitan saham, instrumen ini pada umumnya memiliki kewajiban pembayaran sesuai ketentuan yang ditetapkan dalam penerbitannya, sehingga karakteristik risikonya perlu dipahami secara terpisah oleh investor.

Di sisi lain, terdapat 25 emisi dari 16 penerbit EBUS yang masih berada dalam antrean penerbitan. Para calon penerbit tersebut berasal dari beragam sektor usaha, menandakan kebutuhan pendanaan pasar modal tidak terbatas pada industri tertentu.

Rights issue mencapai Rp37,35 triliun

Jalur penambahan modal melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD), yang lazim disebut rights issue, juga mencatat aktivitas besar sepanjang tahun berjalan. Sebanyak 16 perusahaan telah merealisasikan aksi tersebut hingga 23 Oktober 2026.

Total nilai rights issue yang telah terlaksana mencapai Rp37,35 triliun. Dalam skema ini, pemegang saham yang ada memperoleh hak untuk membeli saham baru sesuai ketentuan emiten. Mekanisme tersebut dapat digunakan perusahaan untuk memperkuat permodalan tanpa harus melakukan IPO sebagai pendatang baru di bursa.

Saat ini terdapat satu perusahaan dari sektor properti yang masuk antrean untuk melaksanakan rights issue. Rencana itu menambah daftar aktivitas korporasi yang berpotensi mewarnai pasar modal pada periode berikutnya.

Perkembangan IPO, penerbitan EBUS, dan rights issue memperlihatkan bahwa pasar modal menyediakan beberapa pilihan bagi perusahaan untuk mencari dana. Setiap instrumen memiliki tujuan, struktur, serta konsekuensi yang berbeda, sehingga investor perlu mencermati prospektus, keterbukaan informasi, dan kondisi perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is BEI catat sembilan perusahaan antre IPO hingga?

BEI catat sembilan perusahaan antre IPO hingga is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does BEI catat sembilan perusahaan antre IPO hingga matter?

BEI catat sembilan perusahaan antre IPO hingga matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.