Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi rantai pasok dalam BRICS

Published September 15, 2026 · Updated September 15, 2026 · By Matthew Taylor - fukushimask.com

Foto : Matthew Taylor - fukushimask.com

China Dukung Penguatan Rantai Pasok dan Industrialisasi Bersama di BRICS

Fukushimask.com – Pemerintah China menyatakan dukungannya terhadap gagasan Indonesia untuk mempererat kerja sama industri dan rantai pasok di antara negara-negara BRICS. Dukungan tersebut muncul setelah Presiden Prabowo Subianto mengajak anggota kelompok itu memadukan sumber daya, kemampuan produksi, teknologi, dan pasar guna menghadapi tekanan global secara kolektif.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyampaikan bahwa Beijing melihat kerja sama teknologi dan keterhubungan industri sebagai bagian penting dari agenda BRICS ke depan. Ia menegaskan China ingin mendorong pertumbuhan yang tidak hanya lebih kuat, tetapi juga lebih tahan terhadap berbagai guncangan.

“China akan memperkuat kerja sama teknologi dengan negara-negara BRICS, memperdalam penyelarasan industri, melaksanakan proyek-proyek peningkatan kapasitas, serta mewujudkan pembangunan yang lebih berkelanjutan dengan kualitas yang lebih tinggi dan ketahanan yang lebih kuat,” kata Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Senin.

Usulan Indonesia di KTT BRICS

Pernyataan Guo menanggapi pidato Prabowo pada sesi kedua KTT BRICS ke-18 di New Delhi, Minggu (13/9). Dalam forum tersebut, Presiden Indonesia menekankan perlunya kerja sama yang lebih nyata dalam industrialisasi dan pembentukan rantai pasok global, terutama untuk menjaga pertumbuhan negara-negara berkembang di tengah tantangan ekonomi maupun geopolitik.

Prabowo menawarkan pendekatan yang menempatkan negara anggota sebagai mitra pembangunan, bukan sekadar pemasok bahan mentah atau pasar bagi produk jadi. Ia mengajak BRICS mengoptimalkan sumber daya dan kapasitas yang tersedia secara bersama-sama.

“Biarkan saya menawarkan sesuatu yang konkret. Biarkan kita industrialisasi bersama-sama dan biarkan kita mengoptimalkan sumber dan kapasitas yang kita tanggung bersama-sama,” ujar Prabowo.

Gagasan itu relevan bagi Indonesia yang memiliki sejumlah sumber daya strategis untuk pembangunan jangka panjang. Prabowo menyoroti mineral kritis dan logam tanah jarang, potensi energi terbarukan bagi pengembangan teknologi bersih dan teknologi tinggi, serta kawasan hutan sebagai modal masa depan.

Potensi tersebut dapat memiliki nilai lebih besar apabila diiringi peningkatan kemampuan pengolahan, transfer pengetahuan, investasi, dan pengembangan industri. Dalam konteks kerja sama BRICS, integrasi rantai pasok membuka ruang untuk menghubungkan kekayaan sumber daya dengan kapasitas manufaktur, kebutuhan teknologi, serta akses pasar yang dimiliki anggota lain.

Kerja Sama Industri sebagai Agenda BRICS

China menilai penguatan industrialisasi bukan hal baru di dalam BRICS. Guo menyebut kelompok tersebut telah lama mendorong kolaborasi di bidang itu melalui sejumlah wadah, termasuk Pusat Inovasi Kemitraan BRICS untuk Revolusi Industri Baru dan Pusat Kompetensi Industri BRICS.

Kedua inisiatif itu mencerminkan upaya BRICS untuk membangun kemampuan industri di tengah perubahan teknologi global. Pengembangan ekonomi digital, manufaktur maju, energi bersih, dan peningkatan keterampilan tenaga kerja menjadi isu yang berkaitan langsung dengan daya saing jangka panjang negara-negara berkembang.

Bagi Indonesia, kerja sama rantai pasok juga berkaitan dengan peluang memperluas kegiatan ekonomi bernilai tambah. Prabowo menyampaikan bahwa kekuatan ekonomi dan sumber daya anggota BRICS saling melengkapi. Kombinasi tersebut dapat memperkuat posisi kelompok ini dalam rantai nilai global.

Ia juga menekankan bahwa persoalan yang dihadapi Indonesia tidak berdiri sendiri. Banyak negara BRICS dan negara-negara Global South menghadapi tantangan yang saling berhubungan, mulai dari kebutuhan investasi dan penciptaan lapangan kerja hingga tuntutan mempercepat transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Melalui kerja sama yang lebih erat, negara-negara BRICS diharapkan dapat meningkatkan investasi, memperkokoh sektor industri, menciptakan kesempatan kerja yang lebih luas, dan membuka peluang ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat. Arah ini menempatkan kolaborasi ekonomi sebagai salah satu jawaban atas ketidakpastian yang berkembang di tingkat internasional.

Empat Pilar KTT BRICS ke-18

KTT BRICS ke-18 mengangkat ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan sebagai empat pilar utama. Tema tersebut mencerminkan fokus anggota dalam merespons tantangan global, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik yang dapat memengaruhi perdagangan, investasi, energi, dan kelancaran pasokan lintas negara.

Pertemuan itu dihadiri Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Indonesia Prabowo Subianto, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed Ali, Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, serta Perdana Menteri India Narendra Modi.

Brasil mengirim Menteri Luar Negeri Mauro Vieira sebagai wakil, sedangkan Arab Saudi diwakili Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud. Kehadiran para pemimpin dan perwakilan tersebut menunjukkan luasnya cakupan kepentingan ekonomi maupun politik dalam kelompok BRICS saat ini.

BRICS juga membuka kemitraan bagi sejumlah negara lain, yaitu Belarus, Bolivia, Kazakhstan, Kuba, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, Uzbekistan, dan Vietnam. Kerangka kemitraan itu memperluas ruang dialog dan potensi kolaborasi di luar keanggotaan inti.

Saat ini BRICS beranggotakan 11 negara: Brasil, China, Mesir, Ethiopia, India, Iran, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Uni Emirat Arab, dan Indonesia. Kelompok ini mewakili sekitar 49,5 persen populasi dunia, 40 persen produk domestik bruto global, serta 26 persen perdagangan global. Besarnya skala tersebut membuat pembahasan mengenai rantai pasok, teknologi, investasi, dan industrialisasi memiliki dampak penting bagi arah ekonomi negara-negara anggotanya.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi?

China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi matter?

China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.