Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Kakak-beradik asal Indonesia jembatani budaya melalui seni bela diri

Published July 21, 2026 · Updated July 21, 2026 · By Richard Wilson - fukushimask.com

Foto : Richard Wilson - fukushimask.com

Kakak Beradik Asal Indonesia Jembatani Budaya Melalui Seni Bela Diri dan Pendidikan

Warisan Budaya yang Menghubungkan Indonesia dan Tiongkok

Fukushimask.com – Zeela Nebulani dan Zoura Nebulani adalah dua bersaudari yang lahir dan besar di Indonesia, namun memiliki akar budaya yang kuat dari Provinsi Fujian, Tiongkok. Keluarga mereka telah lama mempertahankan tradisi seni bela diri sebagai bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Kedua orang tua mereka bekerja sebagai pelatih profesional di bidang seni bela diri, sehingga lingkungan rumah selalu dipenuhi dengan semangat latihan dan penghayatan budaya Timur. Kehidupan mereka di Indonesia membentuk fondasi kuat yang kemudian membawa mereka kembali ke tanah leluhur untuk menempuh pendidikan.

Zeela, sebagai adik, telah memulai perjalanan bela dirinya sejak masih berusia enam tahun. Ketertarikannya pada seni bela diri tumbuh subur seiring waktu, dan pada usia dua belas tahun, ia mulai mendalami Tai Chi, sebuah seni bela diri kuno yang menekankan keseimbangan antara tubuh dan pikiran. Keahlian ini menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter dan disiplin diri Zeela selama bertahun-tahun. Latihan rutin setiap hari membantu ia mengembangkan ketahanan fisik dan mental yang luar biasa.

Perjalanan Pendidikan di Tanah Tiongkok

Titik balik penting dalam kehidupan Zeela terjadi pada September 2024, ketika ia memutuskan untuk melanjutkan studi di Universitas Politeknik Rizhao, yang berlokasi di Provinsi Shandong, Tiongkok. Di universitas tersebut, Zeela memilih jurusan perdagangan internasional, sebuah bidang yang relevan dengan ambisinya untuk menjadi penghubung antara dua negara. Keputusan ini tidak hanya mencerminkan minat akademis, tetapi juga visi jangka panjangnya dalam memperkuat hubungan ekonomi dan budaya.

Inspirasi dari Zeela membawa Zoura, kakaknya, untuk mengambil keputusan yang sama. Zoura pun mendaftar dan diterima di universitas yang sama pada tahun yang sama, dengan jurusan yang identik. Kehadiran kedua bersaudari ini di kampus yang sama menciptakan dinamika unik, di mana mereka dapat saling mendukung dalam menjalani kehidupan akademik sekaligus mempertahankan tradisi keluarga. Mereka berbagi pengalaman, tantangan, dan kesuksesan dalam perjalanan pendidikan mereka.

Keseimbangan Antara Akademik dan Seni Bela Diri

Selama menempuh pendidikan di Rizhao, kedua bersaudari ini tidak membiarkan aktivitas bela diri mereka terabaikan. Mereka tetap konsisten menjalani latihan harian, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas mereka. Latihan ini tidak hanya menjaga kebugaran fisik, tetapi juga menjadi sarana untuk tetap terhubung dengan warisan budaya keluarga dan identitas Indonesia mereka. Seni bela diri menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan mereka.

Di luar jam kuliah, Zeela dan Zoura aktif berpartisipasi dalam berbagai pertunjukan budaya yang diselenggarakan di kampus. Mereka juga terlibat dalam kegiatan pertukaran pemuda dengan mahasiswa asal Tiongkok dan negara-negara lain. Melalui interaksi ini, mereka berbagi cerita tentang kehidupan di Indonesia, termasuk tradisi lokal, kuliner khas, dan nilai-nilai kekeluargaan yang dianut. Setiap kesempatan mereka gunakan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia.

Kami berharap dapat menjadi jembatan bagi generasi muda di Tiongkok dan Indonesia, serta berkontribusi dalam mempererat persahabatan antara kedua negara melalui budaya dan pendidikan.

Menghadirkan Indonesia Lewat Media Digital

Salah satu inisiatif kreatif yang dilakukan oleh kedua bersaudari ini adalah produksi video pendek dwibahasa. Video-video tersebut menampilkan keindahan panorama pesisir Rizhao, tradisi rakyat lokal, serta gambaran kehidupan sehari-hari di kota tersebut. Konten ini kemudian dibagikan melalui berbagai platform media sosial di Indonesia, sehingga masyarakat Indonesia dapat merasakan pengalaman mereka dari jarak jauh. Media digital menjadi alat efektif untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

Keberadaan mereka di Tiongkok juga membuka kesempatan untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada dosen dan rekan-rekan mahasiswa. Melalui percakapan sehari-hari, presentasi, dan kegiatan sosial, Zeela dan Zoura berhasil menciptakan ruang dialog yang hidup antara dua budaya yang berbeda namun saling melengkapi. Mereka tidak hanya belajar, tetapi juga mengajar tentang identitas mereka sebagai orang Indonesia.

Dengan segala upaya yang telah dilakukan, kedua bersaudari ini optimis bahwa kontribusi mereka akan memberikan dampak positif bagi generasi mendatang. Mereka melihat bahwa seni bela diri, pendidikan, dan media digital adalah alat yang ampuh untuk membangun pemahaman dan saling menghargai antarbangsa. Perjalanan mereka membuktikan bahwa budaya dapat menjadi kekuatan pemersatu yang melampaui batas-batas geografis.