Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Discussion: Menua bukan akhir kisah, Sidaya jadi solusi nyata

Published June 29, 2026 · Updated June 29, 2026 · By Sandra Jones

Menua Bukan Akhir Kisah, Sidaya Jadi Solusi Nyata

Key Discussion - Samarinda – Di sebuah ruangan yang hangat dan penuh senyum di Sekolah Lansia Santa Matilda, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), sekelompok warga lanjut usia berkumpul dalam lingkaran. Mereka berbagi pengalaman, mendengarkan materi, dan sesekali tertawa bahagia. Tidak ada wajah muram atau kesan menunggu waktu berlalu. Sebaliknya, yang terlihat adalah semangat untuk terus belajar dan menikmati kehidupan. Sekolah Lansia ini seolah membantah anggapan tradisional bahwa usia tua selalu identik dengan kesepian, kelemahan, atau ketidakberdayaan. Di Kaltim, gambaran umum tentang lansia yang sepi dan lemah perlahan berubah. Lembaran baru sedang ditulis, dengan harapan menghadirkan masa tua yang sehat, mandiri, produktif, dan bermakna.

Program Sidaya: Harapan untuk Generasi Lansia

Program Sidaya, yang diinisiasi oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) Provinsi Kalimantan Timur, menjadi jawaban atas perubahan demografi di wilayah tersebut. Dengan meningkatnya usia harapan hidup, jumlah penduduk lansia terus bertambah. Di sejumlah daerah, populasi lansia bahkan mulai mendekati jumlah balita. Perubahan ini membawa tantangan baru, di mana lansia tidak hanya perlu memiliki usia panjang, tetapi juga harus tetap sehat secara fisik, bugar secara mental, mandiri secara ekonomi, serta aktif dalam kehidupan sosial dan keluarga. "Program Sidaya dirancang agar lansia tetap menjadi aset berharga yang bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya," jelas Sunarto, Kepala BKKBN Provinsi Kalimantan Timur. Ia menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah memastikan lansia tidak hanya menikmati usia, tetapi juga terus berkarya dan berkontribusi.

Sidaya menghadirkan pendekatan holistik dalam membantu lansia membangun kehidupan yang bermakna. Jantung dari program ini berada di Sekolah Lansia yang dibentuk di berbagai Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB). Meskipun dinamai "sekolah," tempat ini tidak memiliki fasilitas seperti ruang kelas dengan meja dan papan tulis. Sebaliknya, ruang pertemuan yang nyaman menjadi pusat aktivitas mingguan para lansia. Di sini, mereka belajar berbagai hal yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari, mulai dari pengelolaan keuangan sederhana hingga peningkatan nilai spiritual.

Keberhasilan program ini berawal dari adaptasi metode pendidikan yang lebih fleksibel. Materi yang disampaikan tidak hanya berupa teori, tetapi juga penerapan langsung. Tim kesehatan secara rutin melakukan pemeriksaan fisik dan deteksi dini penyakit degeneratif, seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan jantung. Hal ini membantu lansia mengidentifikasi masalah kesehatan sejak dini, sehingga bisa diberikan intervensi tepat waktu. Selain itu, para peserta juga dilatih dalam keterampilan usaha ringan dan kerajinan tangan. Dengan bimbingan, mereka mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai jual, seperti pernak-pernik dari bahan daur ulang atau bahan-bahan lokal.

Program Sidaya juga memperkuat peran sosial lansia dalam masyarakat. Mereka diberikan kesempatan menjadi kader pembina keluarga atau sosok yang menjadi tempat bertanya dan berbagi pengalaman. Dengan demikian, lansia tidak hanya menjadi anggota keluarga, tetapi juga bagian aktif dari komunitas. "Kami ingin mereka tetap dianggap sebagai sumber kebijaksanaan dan pengalaman," tambah Sunarto. Ia menekankan bahwa pelibatan lansia dalam berbagai aspek kehidupan bisa meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirian mereka.

"Program Sidaya dirancang agar kaum lansia tetap sehat, produktif, mandiri, dan berperan aktif dalam lingkungannya. Kami ingin mereka tidak menjadi beban, melainkan tetap menjadi aset berharga yang pengalaman dan kebijaksanaannya bisa terus diwariskan," ujar Kepala BKKBN Provinsi Kalimantan Timur, Sunarto.

Dalam pembelajaran di Sekolah Lansia, fokus utama adalah meningkatkan keterampilan hidup sehari-hari. Materi yang diberikan mencakup pengetahuan tentang nutrisi, cara mengatur keuangan, hingga penguatan nilai-nilai budaya yang membantu lansia merasa lebih tenang dan bermakna. Selain itu, program ini juga mengajarkan cara menjaga kesehatan mental melalui kegiatan sosial dan kreatif, seperti diskusi kelompok atau membuat seni tradisional. Aktivitas ini memberikan ruang bagi lansia untuk berinteraksi dengan sesama, mengurangi rasa kesepian, dan merasa terhubung dengan lingkungan sekitar.

Perubahan demografi Kalimantan Timur membutuhkan respons yang lebih cepat. Dengan usia harapan hidup yang terus meningkat, jumlah lansia di daerah tersebut semakin signifikan. Hal ini berdampak pada struktur keluarga dan masyarakat. Sebagai contoh, di beberapa wilayah, lansia mulai menjadi kekuatan utama dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga. Namun, hal ini juga membawa risiko jika tidak ada dukungan yang memadai. Program Sidaya bertujuan mengatasi tantangan ini dengan memperkuat kemampuan lansia dalam mengelola sumber daya, baik secara fisik maupun finansial.

Melalui Sidaya, lansia diberikan pelatihan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, mereka belajar cara mengoptimalkan penggunaan teknologi sederhana seperti ponsel atau media sosial, sehingga bisa tetap terhubung dengan keluarga dan lingkungan. Selain itu, pelatihan tentang manajemen keuangan membantu mereka membangun tabungan untuk masa depan atau menabung untuk kebutuhan medis. Dengan peningkatan keterampilan ini, lansia tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga rasa percaya diri untuk tetap berkontribusi.

Program Sidaya juga membuka peluang bagi lansia untuk berbagi pengalaman dengan generasi muda. Mereka menjadi pembicara di acara lokal, atau bahkan diberdayakan dalam kegiatan komunitas. "Masa tua bukan akhir dari perjalanan, melainkan fase baru yang penuh makna," tambah Sunarto. Ia menambahkan bahwa peran lansia dalam keluarga dan masyarakat sangat penting, terutama dalam menjaga kestabilan sosial dan ekonomi. Dengan tetap aktif secara sosial, lansia bisa menjadi teladan bagi anak-anak dan remaja dalam membangun kehidupan yang sehat dan bermakna.

Sidaya tidak hanya fokus pada aspek individu, tetapi juga keluarga dan masyarakat. Melalui kolaborasi dengan pihak-pihak terkait, seperti desa dan organisasi lokal, program ini mendorong pemberdayaan kolektif. Para lansia dianggap sebagai bagian dari sistem kependudukan yang berkelanjutan. Dengan memiliki kemampuan dan kontribusi, mereka tidak hanya memperpanjang usia, tetapi juga menjaga kualitas hidup di tengah tantangan keterbatasan fisik dan mental. Tantangan tersebut bisa diatasi dengan pendekatan yang berbeda, yakni melalui pembelajaran berkelanjutan dan partisipasi aktif dalam kegiatan sosial.

Dari perspektif ekonomi, lansia menjadi aset yang tidak tergantikan. Dengan pelatihan usaha ringan, mereka mampu memperoleh pendapatan tambahan, baik melalui jasa maupun produk yang dihasilkan. Hal ini mengurangi ketergantungan pada keluarga dan meningkatkan kemandirian. Di sisi lain, penguatan nilai spiritual memberikan dampak psikologis yang mendalam. Mereka belajar cara menjaga keseimbangan hidup, mengurangi stres, dan merasa lebih tenang dalam menghadapi usia tua.

Kehadiran Sidaya menunjukkan bahwa usia lanjut bisa menjadi masa keemasan bagi setiap individu. Dengan pendekatan yang tepat, lansia tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang. Mereka bisa tetap menjadi inspirasi bagi generasi muda, mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang mengutamakan keberlanjutan dan kolaborasi. Program ini menjadi contoh nyata bahwa kehidupan usia tua bisa diisi dengan makna dan kontribusi yang terukur, sekaligus menjaga keharmonisan dalam masyarakat.