Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: BRIN bersama UBH Padang riset situs arkeologi di pesisir Sumbar

Published June 21, 2026 · Updated June 21, 2026 · By Jessica Martin

BRIN bersama UBH Padang Lakukan Riset Arkeologi di Pesisir Sumbar

Latest Program - Padang, Sumatera Barat — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Universitas Bung Hatta (UBH) Padang mengadakan penelitian pengembangan situs arkeologi di daerah pesisir Sumatera Barat (Sumbar) selama sepuluh hari, mulai 8 hingga 17 Juni. Kegiatan ini menjadi kolaborasi antara tim BRIN dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan Maritim dan Budaya Berkelanjutan dengan anggota fakultas dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UBH. Tujuan utama dari penelitian tersebut adalah mengidentifikasi kondisi situs arkeologi maritim yang terdampak oleh bencana alam, khususnya peristiwa hidrometeorologi dan gempa kecil di wilayah Pesisir Selatan, Sumbar.

Kondisi Situs Arkeologi Pasca-Bencana

Menurut Mitra Peneliti Lokal dari UBH Padang, Dr Harfiandri Damanhuri, penelitian ini fokus pada pengecekan peninggalan arkeologi maritim setelah bencana yang terjadi di beberapa daerah Sumbar. Ia menekankan bahwa tujuan utama riset tersebut adalah memahami bagaimana peristiwa alam seperti banjir besar dan gempa berpengaruh terhadap keberlanjutan situs bersejarah yang telah berusia lebih dari lima puluh tahun. "Kita ingin memetakan tingkat kerusakan dan potensi ancaman yang mengintai situs tersebut," ujarnya. Menurutnya, hasil penelitian nantinya akan digunakan untuk menghasilkan rekomendasi model mitigasi dan perlindungan yang efektif.

"Riset ini bertujuan untuk mendukung pengembangan serta mitigasi terhadap situs arkeologi yang ada di sepanjang pesisir Kabupaten Pesisir Selatan," kata Dr Harfiandri Damanhuri, Ahad.

Metodologi Penelitian yang Inovatif

Penelitian ini juga mencakup pendekatan berbasis resiliensi sosial-ekologis, yang merupakan strategi pengurangan risiko bencana melalui pengintegrasian aspek lingkungan dan masyarakat. Dr Harfiandri menambahkan bahwa pendekatan ini tidak hanya memperhatikan kondisi fisik situs arkeologi, tetapi juga mempertimbangkan kemampuan masyarakat sekitar dalam menghadapi bencana. "Dengan memahami resiliensi sosial dan ekologis, kita bisa merancang model perlindungan yang lebih adaptif," terangnya.

Tim Peneliti dan Kontribusi Lokal

Ketua tim penelitian dari BRIN adalah Dr Ira Dillenia, yang memiliki keahlian dalam arkeologi maritim. Tim tersebut diikuti oleh Gendro Keling MA, seorang ahli arkeolog maritim, serta Dr Ing Semeidi Husrin yang fokus pada kebencanaan geologi kelautan. Di sisi lain, mitra peneliti lokal meliputi Dr Harfiandri Damanhuri dari Program Studi Sumberdaya Perairan Pesisir dan Kelautan (SP2K) Fakultas Perikanan dan Kelautan UBH. "Kombinasi antara peneliti nasional dan lokal memastikan perspektif yang lebih holistik," jelasnya.

Site Kunci dan Data Lapangan

Pengambilan data dilakukan di dua situs utama, yaitu Situs Arkeologi Benteng di daratan Pulau Cingkuak dan Situs Arkeologi Bawah Laut Kapal MV Boelongan Nederland di Kawasan Teluk Mandeh, Pesisir Selatan. Tim lapangan yang dipimpin oleh Samsuardi, seorang Dive Master, bertugas mengumpulkan informasi tentang kondisi fisik dan sejarah kedua lokasi tersebut. "Kami melihat bagaimana lingkungan alam dan aktivitas manusia saling memengaruhi," tambah Dr Harfiandri.

Hasil yang Diharapkan dan Dampak Kebijakan

Dalam penelitian ini, diharapkan akan tercipta publikasi ilmiah yang membantu pemerintah dalam merancang kebijakan perlindungan situs arkeologi. Menurut Dr Harfiandri, hasil riset akan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan baik tingkat pusat maupun daerah. "Selain itu, rekomendasi dari penelitian ini juga bisa menjadi panduan untuk desa-desa di sekitar situs dalam melakukan tindakan mitigasi," katanya. Ia menegaskan bahwa keberhasilan penelitian ini tergantung pada kolaborasi antara ilmuwan dan masyarakat lokal.

"Hasil riset kolaboratif akan memberikan dampak luas, khususnya sebagai dasar ilmiah dalam penyusunan kebijakan oleh pemerintah," ujar Dr Harfiandri Damanhuri.

Persiapan dan Tanggung Jawab

Penelitian ini dimulai dengan persiapan yang matang, termasuk identifikasi lokasi situs, perekrutan tim, dan pembagian tugas. Dr Ira Dillenia mengatakan bahwa seluruh anggota tim dilibatkan secara aktif, baik dalam analisis data maupun lapangan. "Kolaborasi antara institusi riset nasional dan lokal sangat penting untuk memperkuat kapasitas daerah dalam menjaga situs bersejarah," tuturnya. Ia menyoroti bahwa pesisir Sumbar memiliki sejumlah situs arkeologi yang unik dan strategis, sehingga perlindungannya memerlukan pendekatan terpadu.

Contoh Situs yang Dianalisis

Salah satu situs yang diteliti adalah Benteng di Pulau Cingkuak, yang memiliki nilai sejarah tinggi. Situs ini menjadi contoh bagaimana infrastruktur lama dapat terancam oleh perubahan iklim dan aktivitas pesisir. Sementara itu, MV Boelongan Nederland, kapal bersejarah yang tenggelam di Teluk Mandeh, menjadi fokus untuk mengevaluasi dampak bencana hidrometeorologi terhadap peninggalan bawah air. "Kedua situs ini menunjukkan ancaman yang berbeda, tetapi sama-sama memerlukan perhatian," kata Dr Gendro Keling MA, anggota tim.

Pentingnya Resiliensi dalam Pelestarian

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya resiliensi sosial dan ekologis dalam menjaga situs arkeologi. Dr Harfiandri menjelaskan bahwa resiliensi sosial merujuk pada kemampuan masyarakat dalam merespons dan memulihkan situs setelah bencana, sementara resiliensi ekologis berkaitan dengan upaya menjaga lingkungan sekitar agar tetap stabil. "Dengan memperkuat dua aspek ini, kita bisa menciptakan sistem yang lebih berkelanjutan," lanjutnya.

Harapan untuk Masa Depan

Kepala Pusat Riset BRIN, Dr Ira Dillenia, berharap hasil riset ini dapat menjadi referensi untuk proyek serupa di daerah lain. "Kita perlu menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian budaya," imbuhnya. Ia menambahkan bahwa kolaborasi ini juga menjadi langkah awal dalam membangun jejaring riset nasional yang lebih luas. "Tujuan jangka panjang adalah menciptakan model mitigasi