Latest Program: Pemkot Tangsel gandeng perusahaan Singapura budi daya bawang merah
Pemkot Tangsel Bermitra dengan PT BioArk Global untuk Kembangkan Budidaya Bawang Merah
Latest Program - Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kini mencoba mengubah paradigma pertanian perkotaan dengan bekerja sama dengan perusahaan asal Singapura, PT BioArk Global, dalam budi daya bawang merah varietas Batu. Kerja sama ini dilakukan setelah hasil uji coba yang sukses dilakukan di daerah dataran rendah menggunakan pupuk bio-organik berbasis mikroba. Proyek ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produksi tanaman pangan di tengah keterbatasan lahan dan kondisi geografis yang umumnya tidak mendukung pertanian tradisional.
Uji Coba yang Menggembirakan
Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie, dalam sebuah wawancara di Balai Penyuluhan Pertanian Jombang, menyatakan bahwa hasil demplot pertanian yang dilakukan selama beberapa bulan lalu memberikan kejutan positif. Varietas bawang merah Batu, yang sebelumnya dianggap hanya cocok tumbuh di dataran tinggi, kini berhasil berkembang dengan baik di kawasan rendah, terbukti dari ukuran umbinya yang lebih besar dan kualitas hasil panen yang memuaskan. "Ini adalah pencapaian penting untuk mengembangkan pertanian perkotaan di Tangsel. Teknologi inovatif harus terus didorong agar bisa memenuhi kebutuhan masyarakat," ungkapnya.
"Bawang merah umumnya tidak bisa tumbuh di dataran rendah karena ketinggian yang kurang memadai, tapi pupuk Arktivate membantu mengatasi hal itu. Produksinya jauh lebih baik, dan umbi yang dihasilkan lebih besar dari sebelumnya," tutur Davnie.
Keterbatasan lahan pertanian di kota-kota besar sering menjadi hambatan utama. Namun, melalui kolaborasi ini, Pemkot Tangsel berharap dapat mengoptimalkan lahan sempit menjadi sumber pangan yang lebih produktif. Terlebih, bawang merah merupakan salah satu komoditas pangan pokok yang dibutuhkan masyarakat sehari-hari. Selain itu, tanaman ini juga memiliki nilai ekonomi tinggi dan bisa dikembangkan secara skala rumah tangga.
Arktivate, Teknologi Mikroba yang Mengubah Pertanian
Produk yang digunakan dalam proyek ini adalah Arktivate, pupuk bio-organik hasil pengembangan perusahaan PT BioArk Global. Edward, CEO perusahaan tersebut, menjelaskan bahwa pupuk ini dirancang untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman dan produktivitas hasil panen, sambil juga membantu tanaman menghadapi tantangan perubahan iklim. "Arktivate mengandung mikroba unik yang bisa menjaga kelembapan tanah hingga 20 persen lebih lama, serta mempertahankan kandungan nutrisi sekitar 10 persen lebih baik dibandingkan pupuk organik konvensional," tambahnya.
"Pupuk ini adalah solusi inovatif yang sangat relevan bagi daerah seperti Tangsel, di mana kondisi tanah dan iklim tidak selalu mendukung pertanian konvensional. Dengan Arktivate, kita bisa menciptakan ekosistem pertanian yang lebih berkelanjutan," kata Edward.
Arktivate tidak hanya meningkatkan kuantitas panen, tetapi juga mengurangi risiko kegagalan akibat faktor cuaca ekstrem. Pemkot Tangsel menilai teknologi ini memiliki potensi besar untuk diaplikasikan di berbagai wilayah perkotaan. Selain itu, penggunaannya juga ramah lingkungan karena mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang sering menyebabkan pencemaran tanah.
Langkah Selanjutnya: Perluasan Kolaborasi dan Evaluasi
Menurut rencana, Pemkot Tangsel akan melanjutkan kerja sama dengan PT BioArk Global melalui Dinas Kelautan, Perikanan, dan Pertanian Perkotaan (DKP3) untuk mengevaluasi kemampuan pupuk Arktivate dalam skala lebih luas. "Kami ingin melihat bagaimana pupuk ini bisa dipakai untuk komoditas lain, seperti cabai, dalam waktu dekat," ujar Davnie. Proses evaluasi ini akan dilakukan melalui uji coba tambahan di beberapa lokasi strategis.
"Uji coba saat ini fokus pada bawang merah, tetapi jika hasilnya positif, kami akan mengembangkan teknologi ini ke jenis tanaman lain. Tujuannya adalah untuk memperkuat ketahanan pangan di Tangsel dan mendorong pertanian berbasis teknologi," terang Davnie.
Pemkot Tangsel optimis bahwa pupuk Arktivate akan menjadi bagian dari program peningkatan produksi bawang merah di daerah tersebut. Dengan produksi umbi yang lebih besar, harapan muncul bahwa masyarakat bisa menghasilkan bawang merah secara lebih mandiri, tanpa tergantung sepenuhnya pada pasokan dari luar. "Bawang merah adalah bahan pokok dapur, jadi jika kita bisa memproduksinya lebih banyak, itu berdampak besar pada kebutuhan sehari-hari masyarakat," tambah Davnie.
Hasil Panen yang Membuktikan Potensi
Selama uji coba, petani yang terlibat mengalami peningkatan hasil panen hingga 30 persen dibandingkan metode tradisional. Hal ini menjadi bukti bahwa teknologi mikroba mampu mengubah cara budi daya bawang merah di lingkungan dataran rendah. Selain itu, pupuk Arktivate juga dinilai lebih efisien dalam penggunaan, karena memerlukan dosis yang lebih sedikit tetapi memberikan manfaat maksimal.
Pemkot Tangsel berharap kolaborasi ini tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga membuka peluang kerja bagi masyarakat setempat. Dengan bawang merah yang bisa diproduksi secara lokal, ketersediaan bahan pangan menjadi lebih stabil, terutama dalam situasi darurat seperti banjir atau kekeringan. "Kami ingin agar teknologi ini bisa diadopsi oleh lebih banyak petani, sehingga meningkatkan kesejahteraan mereka secara berkelanjutan," jelas Davnie.
Penyebab Keberhasilan dan Potensi di Masa Depan
Edward menambahkan bahwa keberhasilan demplot ini tidak hanya tergantung pada pupuk Arktivate, tetapi juga pada penerapan metode pertanian modern yang lebih terpadu. Pupuk ini bisa digunakan untuk berbagai tanaman, asalkan diterapkan dengan teknik yang tepat. "Selama ini, pupuk organik konvensional sering diperlukan dalam jumlah besar, tapi Arktivate bisa mengurangi penggunaan pupuk sekitar 20 persen tanpa mengurangi hasil," ujarnya.
"Dengan teknologi mikroba ini, kita bisa menciptakan tanah yang lebih subur secara alami. Selain itu, kelembapan yang dijaga lebih lama juga mengurangi risiko kegagalan panen akibat hujan deras atau cuaca ekstrem," papar Edward.
Pemkot Tangsel akan mengevaluasi kinerja Arktivate dalam jangka waktu tiga bulan ke depan. Jika hasilnya memuaskan, produksi pupuk ini akan ditingkatkan dan didistribusikan ke masyarakat secara luas. "Kami juga berencana untuk mengadakan pelatihan bagi petani mengenai pemanfaatan Arktivate, agar mereka bisa mempraktikkan teknik ini dengan benar," lanjut Edward.
Terlepas dari keberhasilan uji coba, Pemkot Tangsel tetap berhati-hati dalam menyebarluaskan teknologi ini. Dinas terkait akan melakukan observasi lebih lanjut untuk memastikan bahwa semua manfaat bisa diakses oleh petani kecil maupun menengah. "Kami ingin agar teknologi ini tidak hanya menjadi inovasi, tetapi juga bisa memberikan manfaat ekonomi nyata kepada masyarakat," kata Davnie.
Dengan adanya Arktivate, kota-kota besar seperti Tangsel kini bisa menjadi pusat produksi bawang merah yang lebih berkelanjutan. Ini bukan hanya tentang meningkatkan hasil panen, tetapi juga tentang menciptakan sistem pertanian yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan adaptif terhadap perubahan iklim. "Ini adalah awal dari transformasi pertanian perkotaan, dan kita harus