Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Menguatkan peran ayah dengan Pela Gandong

Published July 17, 2026 · Updated July 17, 2026 · By David Garcia

Menghidupkan Kembali Nilai Pela Gandong dalam Peran Ayah Modern

Menguatkan peran ayah dengan Pela Gandong - Di tengah dinamika kehidupan keluarga kontemporer yang semakin kompleks, Maluku menawarkan perspektif berharga melalui falsafah Pela Gandong. Warisan budaya ini tidak hanya berfungsi sebagai perekat hubungan antarnegeri dan lintas agama, tetapi juga memberikan landasan kuat bagi pengasuhan anak yang melibatkan ayah secara aktif. Dalam konteks ini, kehadiran ayah bukan sekadar kewajiban fisik, melainkan investasi strategis menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045.

Momen Pagi yang Berarti

Langit Kota Ambon baru saja diselimuti kehangatan matahari pagi ketika sebuah adegan sederhana namun penuh makna terjadi di depan gerbang sekolah. Khayla Zhakira, seorang siswi sekolah dasar, melangkah dengan penuh semangat sambil menggenggam erat tangan ayahnya. Tas sekolahnya terlihat cukup besar dibandingkan tubuhnya yang mungil, namun hal itu tidak menghalangi langkahnya yang penuh antusiasme.

Sambil berjalan, anak perempuan itu bercerita tentang pelajaran yang baru dipelajari, teman-teman sekelasnya, serta cita-citanya di masa depan. Sang ayah mendengarkan dengan saksama, sesekali mengusap kepala putrinya, lalu memeluknya erat. Sebelum berpisah, sang ayah berpesan dengan lembut,

Belajar yang rajin, ya. Ayah tunggu ceritanya nanti sore.

Momen yang mungkin dianggap remeh oleh banyak orang ini ternyata memiliki makna mendalam bagi perkembangan psikologis seorang anak. Perhatian sederhana dari ayah dapat menjadi fondasi rasa aman, kepercayaan diri, dan keyakinan bahwa selalu ada sosok yang mendampingi setiap tahap pertumbuhan.

Keterlibatan Ayah sebagai Investasi Masa Depan

Dr. Edi Setiawan, Kepala Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN Provinsi Maluku, menekankan bahwa keterlibatan ayah merupakan salah satu komponen penting dalam membangun sumber daya manusia berkualitas. Kehadiran seorang ayah tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mencakup dimensi emosional yang sangat memengaruhi perkembangan anak.

Anak membutuhkan kehadiran ayah, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Kehadiran itu akan memengaruhi perkembangan psikologis, kemampuan sosial, hingga prestasi akademiknya,

jelas Edi dalam penjelasannya.

Berbagai studi ilmiah juga mengonfirmasi temuan serupa. Anak-anak yang tumbuh dengan keterlibatan ayah yang positif cenderung menunjukkan kemampuan lebih baik dalam mengelola emosi, memiliki tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi, serta mampu membangun hubungan sosial yang sehat dengan orang lain.

Pela Gandong: Modal Sosial untuk Pengasuhan Bersama

Di Maluku, penguatan peran ayah didukung oleh modal sosial yang kuat melalui falsafah Pela Gandong. Nilai-nilai yang terkandung dalam filosofi ini mengajarkan persaudaraan, saling menjaga, gotong royong, serta tanggung jawab bersama terhadap sesama. Selama bertahun-tahun, Pela Gandong dikenal sebagai mekanisme yang menjaga harmoni hubungan antarnegeri, bahkan melintasi batas-batas agama.

Namun, nilai-nilai tersebut ternyata sangat relevan untuk diterapkan dalam konteks pengasuhan anak. Falsafah ini menegaskan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga dan menguatkan orang lain. Dalam kerangka keluarga, nilai ini menegaskan bahwa pengasuhan bukanlah tugas semata-mata ibu, melainkan tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu.

Semangat ale rasa beta rasa, yang berarti merasakan apa yang dirasakan sesama, mendorong terciptanya atmosfer keluarga yang hangat dan suportif. Dalam konteks pengasuhan, ayah hadir tidak hanya sebagai pendengar, tetapi juga sebagai pembimbing dan teladan bagi anak-anaknya.

Gerakan Nasional untuk Ayah yang Hadir

Menghadapi tantangan keluarga modern yang semakin beragam, Kemendukbangga/BKKBN terus memperkuat budaya pengasuhan melalui berbagai inisiatif. Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) menjadi salah satu program utama yang mendorong para ayah untuk hadir secara aktif dalam kehidupan anak-anak mereka.

Program ini diperkuat melalui Gerakan Ayah Teladan bagi Aparatur Sipil Negara (GAT-Link), yang secara khusus mendorong ASN menjadi teladan dalam membangun keluarga berkualitas. Selain itu, pemerintah juga mengampanyekan gerakan "Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah" sebagai simbol nyata bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama kedua orang tua.

Yang ingin dibangun adalah perubahan budaya. Anak membutuhkan figur ayah yang hadir secara konsisten dalam kesehariannya, bukan hanya pada momen tertentu,

pungkas Edi.

Pela Gandong juga membangun lingkungan sosial yang turut menjaga tumbuh kembang anak. Anak tidak hanya dibesarkan oleh keluarga inti, tetapi juga oleh komunitas yang saling mengingatkan, melindungi, dan menanamkan nilai-nilai kehidupan. Nilai kebersamaan semacam ini menjadi semakin penting di tengah kesibukan bekerja, mobilitas tinggi, dan perkembangan teknologi yang kerap mengurangi intensitas komunikasi antara orang tua dan anak.