New Policy: Wamenbud: Budaya bisa jadi peluang mahasiswa untuk bangun kreasi
Wamenbud: Budaya Bisa Jadi Peluang Mahasiswa untuk Bangun Kreasi
New Policy -
Di Jakarta, Wakil Menteri Kebudayaan (Wamenbud) Giring Ganesha menekankan bahwa budaya tidak hanya berupa peninggalan leluhur yang perlu dijaga, tetapi juga menjadi fondasi untuk menciptakan masa depan dengan inovasi dan kreativitas. Menurut Giring, budaya seharusnya dipandang sebagai sumber inspirasi yang mendorong lahirnya ide-ide baru dan perubahan positif. "Budaya tidak sekadar sesuatu yang dijaga eksistensinya, tetapi juga menjadi alat untuk mengeksplorasi kreativitas dan mengembangkan inovasi," ujar Giring dalam pernyataan resmi di Jakarta, Minggu. Ia menambahkan bahwa generasi muda memiliki peluang besar untuk menghadirkan kekayaan budaya Indonesia melalui platform teknologi digital, yang kini menjadi sarana utama komunikasi dan ekspresi.
Pemanfaatan Teknologi untuk Menyebarluaskan Budaya
Eks vokalis grup musik Nidji tersebut mengatakan bahwa platform digital seperti media sosial, video pendek, dan aplikasi kreatif bisa menjadi jembatan antara nilai-nilai budaya tradisional dan dinamika masa kini. Dengan memanfaatkan teknologi ini, mahasiswa bisa memperluas jangkauan konten kreatif mereka, sekaligus memperkuat ekosistem budaya nasional. "Konten kreatif yang dihasilkan mahasiswa tidak hanya menyentuh kalangan lokal, tetapi juga bisa menjangkau audiens global," ungkap Giring.
Dalam konteks ini, Kreasa Fest yang digelar oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Tarumanagara (Untar) beberapa waktu lalu menjadi contoh nyata bagaimana budaya bisa diubah menjadi ruang untuk inovasi. Acara ini, kata Giring, menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya mampu mempelajari budaya, tetapi juga mengembangkan gagasan-gagasan kreatif yang sesuai dengan tuntutan zaman. "Kreasa Fest membuktikan bahwa generasi muda punya peran penting dalam merespons tantangan pelestarian budaya di era digital," lanjutnya.
Peran Mahasiswa dalam Membangun Ekosistem Budaya
Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Untar, Sinta Paramita, menegaskan bahwa Kreasa Fest adalah wahana pembelajaran yang membantu mahasiswa mengimplementasikan ilmu komunikasi secara langsung. "Dalam situasi yang berubah cepat, budaya perlu dihidupkan kembali melalui pendekatan kreatif dan inovatif," kata Sinta. Ia menjelaskan bahwa mahasiswa komunikasi berperan strategis dalam menghubungkan nilai-nilai budaya dengan masyarakat luas, terutama melalui pesan yang relevan dengan perkembangan teknologi dan media.
Sinta juga menyampaikan bahwa acara seperti Kreasa Fest membantu para mahasiswa mengasah kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta semangat kolaborasi. "Kehadiran platform digital memungkinkan mahasiswa menyampaikan ide-ide mereka secara lebih dinamis dan efektif," tambahnya. Dengan menggabungkan kreativitas dan teknologi, acara ini menjadi sarana untuk mengajak generasi muda berpartisipasi dalam menjaga dan mengembangkan budaya Indonesia.
Kreasa Fest 2026: Mengusung Tema "Budaya Menginspirasi, Generasi Beraksi"
Kreasa Fest 2026, yang merupakan bagian dari Communication Week 2026, mengambil tema "Budaya Menginspirasi, Generasi Beraksi." Tema ini menekankan hubungan antara budaya sebagai sumber motivasi dan generasi muda sebagai pelaku aktif dalam merealisasikan visi tersebut. "Acara ini bertujuan mendorong mahasiswa untuk berpikir kreatif dan berinovasi dalam menyampaikan budaya kepada audiens yang lebih luas," kata Sinta.
Menurut Giring Ganesha, penggunaan teknologi digital tidak hanya mempermudah distribusi budaya, tetapi juga memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengadaptasi nilai-nilai tradisional ke dalam bentuk yang lebih relevan dengan kehidupan modern. "Budaya Indonesia kini bisa dipakai sebagai bahan baku untuk karya-karya baru, baik dalam bidang seni, teknologi, maupun media," ujar Wamenbud tersebut.
Acara Kreasa Fest ini juga diharapkan mendorong munculnya karya-karya yang tidak hanya menarik minat generasi muda, tetapi juga menarik perhatian masyarakat luas. "Dengan kreativitas yang terus berkembang, budaya bisa menjadi sarana untuk membangun identitas nasional dan menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan," tambah Giring.
Transformasi Budaya dalam Masa Digital
Menurut Sinta Paramita, kehadiran teknologi digital telah mengubah cara budaya disampaikan. "Di tengah arus informasi yang cepat, budaya perlu diberi ruang untuk berkembang melalui pendekatan yang modern," jelasnya. Dalam hal ini, mahasiswa menjadi bagian penting dalam memastikan budaya tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diberi makna baru sesuai dengan konteks era digital.
Giring menyoroti bahwa kreativitas mahasiswa bisa menjadi pendorong utama untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia internasional. "Contoh seperti Kreasa Fest menunjukkan bahwa mahasiswa mampu menciptakan solusi yang inovatif dan menarik, sehingga budaya tidak lagi terlihat sebagai sesuatu yang kaku dan statis," katanya.
Kreasa Fest 2026, yang digelar dalam rangka Communication Week 2026, juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk komunitas kreatif, produsen konten, dan pembelajar di luar lingkaran akademik. "Dengan memadukan berbagai disiplin ilmu, acara ini bisa menghasilkan karya yang lebih komprehensif dan berdampak luas," ujar Sinta.
Menurut Wamenbud Giring, budaya yang hidup dan relevan tidak bisa dipisahkan dari partisipasi aktif generasi muda. "Kreativitas mahasiswa adalah kunci untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan, baik dalam seni, teknologi, maupun kehidupan sosial," pungkasnya. Ia menegaskan bahwa pendekatan ini bisa menjadi solusi untuk menjaga eksistensi budaya di tengah dinamika perubahan yang cepat.
Kesimpulan dan Harapan Masa Depan
Kreasa Fest dan kegiatan serupa menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki peran yang tidak tergantikan dalam membawa budaya Indonesia ke kancah global. "Melalui inisiatif seperti ini, budaya bisa menjadi inspirasi untuk karya-karya yang mampu menarik perhatian generasi muda dan masyarakat luas," kata Giring.
Sinta Paramita menambahkan bahwa selain membangun kreativitas, Kreasa Fest juga bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan kolaboratif. "Ini adalah langkah awal untuk memastikan budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dinikmati oleh berbagai kalangan," ujarnya.
Dengan dukungan pemerintah dan komunitas akademik, harapan besar bisa terwujud untuk memperkuat ekosistem budaya dan ekonomi kreatif Indonesia. "Budaya tidak akan mati selama ada generasi muda yang terus berkreasi," tutup Giring.