Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Solving Problems: Menko kenalkan Lahsamor BRIN untuk kurangi sampah organik

Published July 8, 2026 · Updated July 8, 2026 · By Patricia Hernandez

Menko Bidang Pangan Perkenalkan Teknologi Lahsamor BRIN untuk Mengurangi Sampah Organik di Bali

Solving Problems - Denpasar, Bali – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menghadiri kegiatan Apel Siaga Pilah Sampah di Lapangan Renon, Denpasar, Selasa kemarin. Dalam kesempatan tersebut, ia memperkenalkan teknologi pengolahan sampah organik yang diberi nama "lahsamor" sebagai inisiatif baru untuk menangani masalah sampah di Pulau Bali. Teknologi ini, yang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dirancang agar masyarakat bisa lebih mudah mengelola sampah organik secara mandiri. “Hari ini kita meluncurkan perangkat yang bisa menjadi alternatif dalam mengurangi sampah organik, kuncinya adalah pemilahan antara sampah organik dan anorganik,” ujar Menko Pangan dalam pidatonya.

Proses Kerja Lahsamor: Sederhana tapi Efektif

Teknologi Lahsamor, yang secara resmi diperkenalkan oleh BRIN, bekerja dengan cara memasukkan sampah organik yang sudah busuk sebanyak 0,5 kg hingga 1 kg per hari. Setelah itu, pengguna hanya perlu memutar tuas sebanyak lima kali untuk memicu proses dekomposisi secara alami. Hasilnya, kompos bisa jatuh secara otomatis tanpa memerlukan intervensi tambahan. “Alatnya kecil, tapi bisa mengolah 1 kg per hari. Dalam tiga tahun, sampah organik tidak akan terlalu menumpuk, bahkan bisa ditekan hingga 40 persen dari total sampah harian,” jelas Zulkifli.

“Kita bisa menggunakan Lahsamor untuk keluarga kecil, seperti satu rumah tangga. Tapi saya juga berharap ada versi yang lebih besar, misalnya 50 kg. Dengan kapasitas itu, satu sekolah pun bisa dikelola secara efisien,” tambahnya.

Dibandingkan dengan metode tradisional seperti kantung kompos, Lahsamor memiliki keunggulan yang signifikan. Kantung kompos membutuhkan penggunaan bahan campuran tambahan dan harus diambil secara berkala, sedangkan Lahsamor hanya membutuhkan pembukaan dan pemutaran tuas untuk menghasilkan kompos secara langsung. Teknologi ini dianggap sebagai pilihan pendukung bagi masyarakat yang belum memiliki akses ke inovasi seperti "teba moderen" yang sudah ada di Bali. “Lahsamor tidak bertujuan menggantikan teba moderen, tapi menjadi alternatif untuk masyarakat yang belum mampu membuat sistem tersebut di pekarangan rumah,” terang Zulkifli.

Kebutuhan Pilah Sampah sebagai Langkah Utama

Menko Pangan menekankan bahwa pemilahan sampah tetap menjadi langkah utama dalam mengatasi persoalan lingkungan. Meski teknologi seperti Lahsamor bisa membantu mengurangi volume sampah organik, kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah masih menjadi faktor kritis. “Jika di rumah memilah sampah terasa sulit karena mengubah kebiasaan, maka di tempat umum seperti sekolah, kantor, atau mal lebih mudah dilakukan karena ada sistem yang terorganisir,” ujarnya.

Menurut Zulkifli, teknologi Lahsamor adalah salah satu dari beberapa solusi yang sedang dikembangkan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Selain itu, teknologi ini juga bisa menjadi bagian dari strategi nasional dalam menangani limbah domestik. “Sampah organik yang sudah dipilah dan diolah dengan baik akan mengurangi beban pada TPA, yang sekarang terus berkembang dan sering dijadikan tempat pengguburan secara terbuka,” lanjutnya.

“Kita akan mulai membangun PSEL atau Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik di Bali pada 8 Juli 2026. Teknologi ini bisa menjadi solusi untuk mengatasi open dumping yang sekarang menjadi darurat, seperti kasus kebakaran di Jatiwaringin dan kecelakaan di Bantar Gebang,” tambah Menko Pangan.

PSEL, yang merupakan pengembangan teknologi pengolahan sampah anorganik, akan mendukung upaya pemerintah dalam mengubah pola pengelolaan sampah. Dengan adanya Lahsamor di tingkat rumah tangga dan PSEL di tingkat skala besar, Bali diharapkan bisa mencapai target pengurangan sampah secara signifikan. Menko Bidang Pangan menekankan bahwa inovasi ini harus diimbangi dengan edukasi masyarakat untuk memahami manfaat pengolahan sampah organik menjadi bahan baku kompos.

Dalam konteks keberlanjutan lingkungan, Lahsamor dianggap sebagai langkah yang tepat untuk mengatasi tantangan sampah di pulau yang dipenuhi wisatawan dan aktivitas ekonomi. Teknologi ini tidak hanya mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, tapi juga menghasilkan produk bernilai ekonomis berupa kompos. “Dengan Lahsamor, kita bisa mengubah sampah menjadi bahan yang bermanfaat,” katanya.

Pelatihan dan Pengembangan Teknologi Lokal

Menko Pangan juga menyebutkan bahwa pihaknya sedang berupaya memberikan pelatihan kepada masyarakat Bali agar mampu mengoperasikan Lahsamor secara efektif. Selain itu, BRIN berkomitmen untuk terus mengembangkan teknologi ini agar lebih sesuai dengan kebutuhan daerah. “Kita akan berupaya memperluas penggunaan Lahsamor, termasuk di tempat-tempat umum seperti pasar dan kawasan wisata,” katanya.

Sebagai bentuk dukungan, pemerintah daerah juga diharapkan melibatkan masyarakat dalam program pengurangan sampah. Zulkifli menilai bahwa kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset, dan masyarakat adalah kunci keberhasilan program ini. “Setiap warga punya peran dalam menjaga lingkungan. Lahsamor adalah alat yang bisa membantu, tapi kesadaran masyarakat tetap penting,” pungkasnya.

Keberadaan Lahsamor dan PSEL menunjukkan komitmen pemerintah dalam menghadapi krisis sampah yang semakin kritis. Dengan memadukan teknologi canggih dan kebiasaan sederhana, Bali diharapkan bisa menjadi contoh terbaik dalam pengelolaan limbah yang berkelanjutan. Zulkifli berharap teknologi ini bisa diterapkan secara luas, baik di tingkat individu maupun institusi, untuk menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan sehat.

Perkembangan Teknologi dan Dampak Lingkungan

BRIN, sebagai lembaga yang bertugas mengembangkan inovasi, sudah menguji coba Lahsamor di berbagai wilayah. Hasilnya menunjukkan bahwa alat ini cukup efektif dalam mengurangi sampah organik. “Dari hasil pengujian, Lahsamor bisa mengurangi sampah sebanyak 40 persen per hari. Ini bisa berdampak besar dalam jangka panjang,” ujar Zulkifli.

Penggunaan Lahsamor juga dinilai sebagai langkah awal dalam menciptakan ekosistem pengolahan sampah yang lebih inklusif. Teknologi ini diharapkan bisa diakses oleh semua kalangan, terutama masyarakat yang tidak memiliki sumber daya atau keterampilan untuk mengolah sampah dengan cara konvensional. Dengan memanfaatkan bahan dasar yang sederhana, seperti drum, alat ini bisa diadaptasi sesuai dengan kondisi lokal.

Sementara itu, Menko Bidang Pangan memastikan bahwa PSEL akan menjadi solusi untuk sampah anorganik. Teknologi ini, yang bekerja dengan prinsip penguburan tertutup dan pengolahan energi, akan mulai dioperasikan di Bali pada 8 Juli 2026. “PSEL bisa mengurangi kebakaran dan kecelakaan akibat sampah yang terakumulasi di TPA,” tegasnya.

Dengan adanya dua teknologi ini, Bali memiliki langkah strategis dalam mengurangi volume sampah dan memanfaatkan limbah sebagai sumber daya. Lahsamor fokus pada pengolahan sampah organik, sementara PSEL mengelola sampah anorganik. “Kita perlu menggabungkan kedua teknologi tersebut agar bisa menyelesaikan masalah sampah secara holistik,” pungkas Zulkifli. Perkembangan ini menunjukkan bahwa pengurangan sampah bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tang