Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Topics Covered: DPR minta pendataan dari Kemendukbangga jadi basis utama MBG 3B

Published June 24, 2026 · Updated June 24, 2026 · By Matthew Taylor

DPR Mendorong Penggunaan Data Penduduk sebagai Dasar MBG 3B

Topics Covered - Jakarta, Rabu – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengungkapkan pentingnya memanfaatkan informasi keluarga dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) serta Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai dasar utama dalam distribusi Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk kelompok sasaran ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B). Tujuan utamanya adalah memastikan program ini dapat mencapai sasaran yang tepat, sesuai dengan kebutuhan gizi masyarakat rentan.

Kemitraan DPR dan Kemendukbangga Bukan Sekadar Konsultasi

Dalam sebuah rapat kerja yang dihadiri oleh Komisi IX DPR, Ketua Komisi tersebut, Felly Estelita Runtuwene, menegaskan bahwa data penduduk menjadi kunci dalam mengoptimalkan MBG 3B. Ia menekankan bahwa dengan pendekatan yang lebih akurat, koordinasi antara DPR dan Badan Gizi Nasional (BGN) bisa dipercepat. Data tentang keadaan ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta keluarga berisiko stunting diharapkan bisa digunakan secara efektif untuk mengidentifikasi kebutuhan nutrisi yang lebih spesifik.

"DPR RI juga mendorong perluasan penerima manfaat 3B apabila memungkinkan, serta memperkuat evaluasi pelaksanaan MBG 3B, termasuk kualitas distribusi pemenuhan gizi dan keterlibatan Tim Pendamping Keluarga (TPK) agar dapat menggambarkan kondisi riil di lapangan," ujarnya.

Kemitraan antara Komisi IX DPR dengan Kemendukbangga/BKKBN dianggap sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas program. Selain itu, mereka sepakat memastikan data yang digunakan memiliki tingkat akurasi tinggi, dengan memperhatikan pemutakhiran dan integrasi dari berbagai sumber, seperti data Keluarga Berisiko Stunting (KRS), data pendataan keluarga oleh Dukcapil, data dari Kemenkes, Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), serta data dari BGN atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Langkah ini diharapkan mampu meminimalkan kesenjangan informasi antar daerah, sehingga intervensi untuk mengatasi stunting, kemiskinan, keluarga rentan, lansia, dan anak-anak bisa lebih terarah.

Strategi Optimalisasi Peran Kemendukbangga dalam Program MBG 3B

Menyikapi hal ini, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji menyampaikan rencana strategis untuk meningkatkan peran Kemendukbangga/BKKBN dalam MBG 3B. Langkah pertama adalah pelatihan edukasi kepada TPK, agar mereka bisa menjadi penghubung yang efektif antara pemerintah dan masyarakat. Selain itu, pihaknya juga akan menyosialisasikan panduan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) MBG 3B kepada para kader pendamping, sehingga proses pendistribusian bisa lebih terdokumentasi dan transparan.

"Kemudian, juga melalui pelatihan mekanisme distribusi dan edukasi MBG 3B, serta analisis dan evaluasi data MBG 3B secara periodik," ujarnya.

Wihaji menambahkan bahwa peningkatan kualitas distribusi harus didukung oleh pengembangan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat), khususnya di wilayah yang masih terpencil, terdepan, dan terluar (3T). Dashat diharapkan menjadi pusat penyaluran bantuan gizi yang lebih efisien, terutama untuk keluarga yang berisiko tinggi mengalami stunting. Berdasarkan data dari situs web Kampung KB, hingga saat ini jumlah Dashat mencapai 18.881 unit, menunjukkan upaya yang sudah cukup signifikan.

Evaluasi dan Perluasan Sasaran MBG 3B

Menurut Felly Estelita, penggunaan data keluarga sebagai dasar MBG 3B juga membuka peluang untuk memperluas cakupan penerima manfaat, terutama jika ada indikasi bahwa kelompok yang lebih luas memerlukan perlindungan gizi. Ia menyatakan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada evaluasi berkala terhadap pelaksanaannya, termasuk pemeriksaan kualitas pengelolaan distribusi dan partisipasi aktif TPK di lapangan.

Kemitraan antara DPR dan Kemendukbangga/BKKBN tidak hanya sekadar pertemuan formal, tetapi juga menjadi platform untuk menggali solusi nyata. Dalam rapat kerja tersebut, mereka sepakat bahwa pengintegrasian data dari berbagai institusi adalah kunci untuk membangun basis informasi yang komprehensif. Konsistensi dalam pemutakhiran data akan memastikan bahwa program MBG 3B bisa dijalankan dengan tepat waktu, serta mengurangi risiko kesalahan penyaluran yang bisa memengaruhi kesehatan target sasaran.

Peran TPK dalam Memastikan Akurasi Data Lapangan

TPK dianggap sebagai bagian vital dalam memperoleh data yang relevan dan akurat di tingkat desa. Anggota DPR menekankan bahwa keterlibatan TPK dalam pengumpulan informasi harus lebih intensif, karena mereka memiliki hubungan langsung dengan keluarga sasaran. Selain itu, TPK juga dianjurkan untuk terlibat dalam proses evaluasi, agar bisa memberikan masukan tentang kondisi riil di lapangan, seperti tingkat kebutuhan gizi, akses ke fasilitas kesehatan, serta kesulitan yang dihadapi oleh keluarga berisiko stunting.

Kemendukbangga/BKKBN juga menyiapkan mekanisme distribusi yang lebih sistematis, termasuk penggunaan pedoman untuk kader pendamping. Hal ini bertujuan agar setiap distribusi MBG 3B bisa dilakukan secara terukur dan efektif, menghindari adanya tumpang tindih atau kekurangan dalam pelayanan. Dengan adanya konsistensi dalam pelatihan, sosialisasi, dan analisis data, keberhasilan program MBG 3B bisa lebih terjamin.

Harapan untuk Peningkatan Kualitas Distribusi Gizi

Menurut Wihaji, program MBG 3B juga perlu diiringi dengan peningkatan kualitas distribusi gizi. Ia menyebutkan bahwa kader pendamping harus terus diasah kapasitasnya, baik dalam pengumpulan data maupun dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Langkah ini akan memastikan bahwa setiap keluarga yang berisiko stunting menerima bantuan secara tepat, dan tidak ada keluarga yang terlewat.

Adanya Dashat di wilayah 3T diharapkan dapat memberikan manfaat tambahan, terutama dalam menjangkau daerah yang masih sulit diakses. Selain itu, Dashat juga akan menjadi pusat monitoring dan evaluasi, sehingga keberhasilan program bisa diukur secara real-time. Felly Estelita menegaskan bahwa data dari Dashat bisa digunakan sebagai bahan evaluasi, baik untuk mengevaluasi keberhasilan program maupun untuk mengidentifikasi daerah yang memerlukan prioritas.

Dengan adanya kesepakatan antara DPR dan Kemendukbangga/BKKBN, diharapkan bahwa program MBG 3B akan lebih mudah dijalankan secara terpadu. Data yang akurat dan terintegrasi akan menjadi dasar utama untuk mengoptimalkan alokasi bantuan, serta mencegah adanya kelebihan atau kekurangan dalam distribusi. Hal ini sangat penting, karena stunting dan masalah gizi adalah tantangan besar bagi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak di bawah usia lima tahun.

Kemendukbangga/BKKBN juga berkomitmen untuk memastikan bahwa data penduduk dan keluarga yang diakumulasi bisa digunakan secara optimal. Dengan demikian, program MBG 3B tidak hanya menjadi bentuk bantuan, tetapi juga menjadi alat untuk mengukur keberhasilan kebijakan nasional dalam memerangi masalah gizi dan stunting. DPR menil