Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Topics Covered: Satgas PRR: Kehidupan warga Aceh pascabencana sudah menuju normal

Published June 9, 2026 · Updated June 9, 2026 · By David Garcia

Satgas PRR: Kehidupan Warga Aceh Pascabencana Sudah Menuju Normal

Topics Covered - Banda Aceh menjadi pusat perhatian setelah Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRR) Sumatera, M Tito Karnavian, menyampaikan bahwa kehidupan masyarakat Aceh telah kembali ke kondisi normal setelah bencana banjir dan longsor yang terjadi di akhir November 2025 lalu. Pernyataan ini diungkapkan dalam sebuah wawancara di kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh, pada hari Selasa. Menurut Tito, walaupun ada beberapa indikator yang menunjukkan kehidupan masyarakat sudah kembali ke jalur normal, situasi ini belum mencapai tingkat permanen.

Evaluasi Progres Pascabencana

Rapat koordinasi dan evaluasi yang dihadiri Tito Karnavian bertujuan untuk meninjau kemajuan penanganan dan pemulihan setelah bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh. Ia menjelaskan, pertemuan tersebut membahas capaian dari masa tanggap darurat hingga transisi pascabencana. Meski kondisi secara fungsional sudah membaik, masih ada beberapa aspek yang perlu diperbaiki segera. "Kita harus tetap waspada karena masih banyak tantangan yang belum selesai," tegas Tito.

"Intinya, kita sudah kembali kepada normal, tapi belum permanen, normalnya normal fungsional," ujar M Tito Karnavian.

Menurut Tito, sejumlah kebutuhan dasar masyarakat Aceh kini telah terpenuhi. Pergerakan orang dan barang berjalan lancar, listrik serta SPBU kembali beroperasi, dan akses internet tidak terganggu. Selain itu, logistik yang diperlukan untuk mendukung kehidupan sehari-hari juga sudah cukup. "Kehidupan masyarakat Aceh kini bisa dikembalikan ke fungsi normal, meski masih ada yang perlu diperbaiki," tambahnya.

Permasalahan yang Masih Ada

Dalam evaluasi tersebut, Tito Karnavian menyoroti beberapa masalah yang belum terselesaikan. Ia menyebutkan, salah satu isu yang masih menjadi perhatian adalah kondisi sekolah. Meskipun sebagian besar institusi pendidikan sudah kembali ke lokasi asal, masih ada sekolah yang menyewa tenda atau menumpang di fasilitas pendidikan lain. "Hal ini menunjukkan bahwa sektor pendidikan belum sepenuhnya pulih," katanya.

Beberapa infrastruktur lain juga menunjukkan perbaikan, tetapi masih ada yang perlu diperbaiki. Contohnya, jalan-jalan, jembatan, sungai, sistem irigasi, air minum, tambak, serta bangunan ibadah seperti rumah ibadah dan madrasah. Tito menegaskan, sejumlah fasilitas ini mengalami kerusakan signifikan dan memerlukan perhatian lebih. "Selain itu, hunian tetap yang menjadi tempat tinggal warga masih ada yang belum terbangun sepenuhnya," tambahnya.

Hal ini menggambarkan bahwa meskipun kondisi umum sudah pulih, beberapa aspek infrastruktur masih mengalami hambatan. Tito Karnavian mengatakan, perlu koordinasi yang lebih intensif antar lembaga untuk memastikan semua masalah tersebut dapat diselesaikan secara efisien. "Kita harus terus memantau setiap dua minggu agar progres dapat diukur secara real-time," ujarnya.

Perencanaan dan Anggaran Rehabilitasi

Tito Karnavian juga menegaskan bahwa ada banyak hal yang perlu diperbaiki di Aceh selama tiga tahun ke depan, mulai dari pertengahan 2026 hingga 2028. Ia menjelaskan, program rehabilitasi dan rekonstruksi akan terus berjalan dengan target yang jelas. "Kita harus tetap fokus pada peningkatan kualitas kehidupan masyarakat," katanya.

Anggaran yang telah disetujui oleh Presiden Prabowo dan DPR RI mencapai Rp100 triliun selama tiga tahun. Dari total ini, anggaran untuk tahun 2026 sekitar Rp39 triliun, tahun 2027 Rp32 triliun, dan tahun 2028 sebesar Rp28 triliun lebih. "Begitu dana tersebut dicairkan oleh kementerian atau lembaga dari Kementerian Keuangan, kita akan segera meluncurkan program-program yang jumlahnya mencapai 11.512 proyek," tuturnya.

"Begitu nanti sudah dicairkan kementerian/lembaga dari Kementerian Keuangan, maka otomatis kita akan segera bekerja cepat untuk mengeksekusi program-program dan kegiatan yang jumlahnya 11.512 untuk tiga provinsi," demikian Tito Karnavian.

Program-program tersebut akan mencakup perbaikan infrastruktur, pemulihan ekonomi, serta peningkatan layanan publik. Tito menekankan pentingnya kerja sama antar pihak untuk memastikan anggaran terpakai secara optimal. "Kita tidak hanya fokus pada pemulihan fisik, tetapi juga pada stabilitas sosial dan ekonomi," ujarnya.

Perspektif Nasional dan Masa Depan Aceh

Tito Karnavian juga menyoroti bahwa bencana di Aceh tidak diragukan lagi menjadi perhatian nasional. Meski dia mengecilkan dampak di Sumatera Utara dan Sumatera Barat, ia menyatakan bahwa Aceh tetap memerlukan dukungan lebih besar. "Dampak bencana di Aceh cukup masif, dan kita harus memastikan bahwa semua aspek kehidupan kembali seperti semula," katanya.

Dalam jangka panjang, Tito berharap bahwa upaya rehabilitasi dan rekonstruksi dapat meningkatkan kualitas hidup warga Aceh. Ia menyebutkan, pemerintah dan lembaga terkait harus terus berupaya memperbaiki infrastruktur, memperkuat sistem pelayanan publik, dan menciptakan kondisi yang lebih baik. "Kita harus tetap bergerak cepat agar Aceh tidak hanya pulih, tetapi juga lebih kuat dalam menghadapi bencana di masa depan," tegas Tito.

Di sisi lain, Tito Karnavian menyampaikan bahwa keberhasilan pemulihan tidak bisa dicapai hanya dalam waktu singkat. Proses ini membutuhkan kesabaran dan komitmen dari seluruh pihak. "Setiap progres kecil yang tercapai adalah hasil dari kerja keras bersama," ujarnya.

Dengan dukungan anggaran yang besar dan koordinasi yang terus dilakukan, Tito yakin Aceh akan mampu memperbaiki kondisi secara menyeluruh. Ia menambahkan, pemerintah pusat dan daerah harus menjaga komunikasi yang efektif untuk memastikan program-program pascabencana berjalan lancar. "Kita akan terus melacak dan mengevaluasi setiap tahap agar tidak ada kekurangan," pungkas Tito Karnavian.