What Happened During: Komunitas Ni Pollok bangkitkan Legong Keraton Lasem era 1930 di PKB
Komunitas Ni Pollok Sukses Hidupkan Legong Keraton Lasem Era 1930 di PKB 2026
What Happened During - Denpasar, Bali – Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 menjadi panggung yang penuh makna bagi Komunitas Seni Ni Pollok. Dari Banjar Kelandis, Desa Sumerta Kauh, Denpasar, kelompok ini sukses memperkenalkan kembali Legong Keraton Lasem yang berbentuk tradisional dari tahun 1930-an. Upaya tersebut dianggap sebagai bentuk pelestarian seni yang sangat kaya akan makna sejarah dan budaya.
Kekhasan Gaya Tari Legong Klasik Kembali Terwujud
Penata Tari Ida Ayu Gede Sastrani Widiastuti, yang turut serta dalam pementasan, menjelaskan bahwa tarian ini dirancang dengan menggabungkan teknik lama dan penafsiran modern. "Legong Keraton Lasem yang kami hadirkan kali ini mengusung gaya klasik Kelandis, sebuah warisan seni yang pernah diperkenalkan oleh penari legendaris Ni Pollok di era 1930-an," katanya dalam keterangan Disbud Bali, Sabtu. Dalam pertunjukan tersebut, kekuatan ekspresi dan keaslian pakem tari dijaga secara ketat, sementara narasi cerita Raden Panji tetap diutamakan untuk menciptakan kesan yang mendekati bentuk aslinya.
"Legong Klasik Lasem Kelandis kini kembali hidup dalam bentuk yang lengkap. Gaya tari yang dipertunjukkan sesuai dengan ciri khas generasi pertama, sehingga menjadi simbol pemeliharaan nilai-nilai tradisional Bali," ujar Ida Ayu Sastrani.
Kehadiran Rangda dalam tarian ini menjadi bagian kunci yang memperkuat nuansa mistis dan kekuatan dramatik. Karakter Rangda, yang dianggap mewakili puncak kemarahan Raden Inukertapati, memberi kesan unik kepada penonton. Unsur tersebut mencerminkan keistimewaan Legong Keraton Lasem yang berbeda dari versi lain, seperti yang biasa diakhiri dengan kemunculan Garuda atau gedong. Sementara itu, teknik tari seperti nyregseg dan nguntang laras dianggap sebagai ciri khas yang sukses direkonstruksi melalui riset arsip dan dokumentasi video.
Koordinator Komunitas Ni Pollok: Penari Maestro di Balik Rekonstruksi
Kelompok Ni Pollok dibawah koordinasi Kadek Sandra Widari berperan penting dalam merealisasikan upaya ini. Menurut Ida Ayu Sastrani, Kadek Sandra pernah menjalani pelatihan langsung dari Ni Pollok, maestro tari yang mempopulerkan Legong Lasem di masa lalu. "Melalui dokumentasi video dan penelitian mendalam, karakter asli sang maestro berhasil dihidupkan kembali," imbuhnya. Ini menunjukkan komitmen untuk mempertahankan keaslian seni, sekaligus mengadaptasinya agar tetap relevan.
"Kehadiran Rangda bukan hanya variasi dramatik, tetapi memiliki makna teologis dan psikologis yang memperkaya alur cerita. Ini menegaskan bahwa seni tradisi tidak hanya sekadar bentuk estetika, tetapi juga menyampaikan pesan spiritual," ujar Prof. Dr. I Made Bandem, sekaligus Kurator PKB 2026.
Pementasan dimulai dengan tabuh pembuka, dilanjutkan oleh penampilan barong dan alat musik karawitan. Kombinasi ini menciptakan suasana yang khas dan mengundang perhatian. Setelah itu, adegan utama Legong Keraton Lasem era 1930-an dihadirkan secara utuh. Menurut Prof. Bandem, pertunjukan ini menjadi capaian penting dalam melestarikan estetika legong klasik sambil menjaga nilai sakralnya.
Sosok Rangda: Simbol Kekuatan Mistik yang Membangun Nuansa Cerita
Rangda, dalam versi Kelandis, dianggap sebagai tokoh yang memperkuat kesan magis dan dinamika emosional dalam tarian. Unsur ini tidak hanya memperkaya visualisasi cerita, tetapi juga menegaskan bahwa Legong Keraton Lasem memiliki dimensi psikologis dan teologis yang unik. Pementasan berlangsung dengan intensitas yang tinggi, diawali dari alur cerita Raden Inukertapati hingga mencapai puncak ketegangan melalui peran Rangda.
Kehadiran Rangda diakhiri dengan ritual yang memadukan kekuatan simbolik dan adegan dramatis. "Karakter ini mewakili ketuhanan serta perasaan kebencian yang dalam, menciptakan kesan bahwa tarian ini bukan hanya hiburan, tetapi juga medium komunikasi budaya," kata Ida Ayu Sastrani. Hal ini memberikan dimensi lebih dalam kepada penonton, yang terdiri dari seniman, budayawan, akademisi, hingga wisatawan.
Kuratori PKB: Apresiasi Terhadap Upaya Konservasi Seni
Prof. Dr. I Wayan Dibia, seorang maestro tari Bali, juga memberikan pujian terhadap pertunjukan ini. Ia menilai bahwa iringan tabuh bernuansa janger menjadi ciri khas yang membedakan Legong Keraton Lasem Kelandis dari pertunjukan lain. "Varian tabuh janger ini menambah kekayaan PKB, sekaligus menghindari kebosanan dalam perayaan seni," ujarnya.
"Legong Klasik Lasem Kelandis telah mencapai bentuk yang utuh. Teknik dan nuansa dramatiknya sangat mendekati gaya asli, sehingga menjadi contoh yang baik dalam pelestarian seni tradisional," kata Prof. Dibia.
Menurut Prof. Bandem, keistimewaan Legong Keraton Lasem Kelandis terletak pada struktur penutup yang berbeda dari versi kebanyakan. "Pementasan ini menjadi bukti bahwa seni Bali mampu bertahan dan berkembang, sekaligus diwariskan ke generasi berikutnya tanpa kehilangan intinya," tambahnya. Ia menekankan bahwa revitalisasi ini menunjukkan semangat kolektif dalam melestarikan warisan budaya.
Pementasan yang Membawa Kembali Nuansa Kuno
Pertunjukan Legong Keraton Lasem di PKB 2026 tidak hanya menampilkan gerak tubuh yang kuat dan lentur, tetapi juga menciptakan kesan harmonis antara ekspresi dan ritual. Kombinasi antara langkah kaki ngumbang, gerakan bahu yang dinamis, serta alat musik yang sesuai dengan nuansa janger, menjadikan pertunjukan ini unik dan menarik. Audien yang hadir dari berbagai kalangan terkesan dengan pengemasan tarian yang mencakup seluruh elemen, termasuk kekuatan simbolik dan psikologis dalam karakter tokoh.
Dalam rekonstruksi ini, teknik tari yang digunakan ternyata tergantung pada dokumentasi arsip dan keterlibatan langsung dari para penari. "Kami melakukan riset mendalam untuk memahami setiap gerakan, sekaligus menggabungkannya dengan interpretasi modern," terang Ida Ayu Sastrani. Hasil dari upaya tersebut menunjukkan bahwa seni Bali masih bisa berkembang tanpa kehilangan nilai-nilai luhurnya.