Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Topics Covered: Oman tegaskan komitmen jalur aman bebas bea di Selat Hormuz

Published June 23, 2026 · Updated June 23, 2026 · By Jessica Martin

Oman Tegaskan Komitmen Jalur Aman Bebas Bea Di Selat Hormuz

Topics Covered - Setelah pertemuan intensif dengan pejabat Iran di Muscat, Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, kembali menegaskan komitmen negara itu terhadap hukum internasional serta kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Langkah ini dilakukan dalam rangka menjaga keterbukaan jalur laut yang aman bagi kapal-kapal komersial, yang menjadi fokus utama perundingan dengan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Diskusi tersebut menyoroti keputusan terbaru antara Iran dan Amerika Serikat, khususnya bagian yang berkaitan dengan kebijakan terkait Selat Hormuz.

Pertemuan Berdampak pada Perjanjian Dengan AS

Kedatangan para pejabat tinggi Iran ke Oman membawa sejumlah isu strategis yang perlu dibahas, termasuk pengelolaan jalur perairan kritis tersebut. Albusaidi, dalam pernyataannya di platform X, menegaskan bahwa OMAN berkomitmen untuk menjaga konsistensi dengan prinsip hukum internasional, serta menjamin bahwa Selat Hormuz tetap menjadi jalur yang tidak terganggu oleh kebijakan tarif. Pernyataan ini terbit setelah mediator Qatar dan Pakistan merilis pernyataan bersama setelah dialog AS-Iran di Swiss, yang menjadi pengantar bagi upaya diplomatik baru.

“Kami menegaskan komitmen terhadap hukum internasional dan jalur aman bebas bea,” ujar Albusaidi dalam pernyataan resmi.

Perjanjian antara AS dan Iran yang ditandatangani secara jarak jauh pekan lalu menandai langkah penting dalam upaya menyelesaikan perselisihan yang berkepanjangan. Dalam kesepahaman ini, kedua pihak sepakat untuk memberikan waktu negosiasi selama 60 hari guna merancang mekanisme yang lebih efektif. Isu utama yang dibahas meliputi status persediaan uranium diperkaya Iran sebagai bagian dari program nuklirnya, serta berbagai tantangan lain yang masih belum terselesaikan. Pernyataan bersama dari Qatar dan Pakistan menegaskan bahwa kesepahaman tersebut bertujuan untuk memperkuat kerja sama antara kedua negara.

Langkah Strategis Untuk Stabilisasi Selat Hormuz

Hal ini berdampak signifikan pada keamanan Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi perdagangan minyak global. Dengan persetujuan terkait penghentian operasi militer di Lebanon, OMAN berharap dapat mencegah eskalasi konflik yang memengaruhi kelancaran perdagangan internasional. Pernyataan Albusaidi menekankan bahwa penegakan hukum internasional harus menjadi prioritas utama dalam semua negosiasi, termasuk perjanjian dengan Iran. Selat Hormuz, yang memiliki fungsi penting dalam alur perdagangan Timur Tengah, kini menjadi pusat perhatian dalam upaya membangun kepercayaan antar pihak.

Para pejabat Iran yang hadir di Muscat menyatakan bahwa diskusi tersebut bertujuan untuk memastikan kebebasan navigasi di selat tersebut tidak terganggu oleh tindakan militer. Pihak AS dan Iran sepakat membentuk "sel de-konflik" bersama Lebanon, yang diperkirakan akan menjadi bagian dari mekanisme penghentian operasi militer berdasarkan nota kesepahaman di Islamabad. Selat Hormuz, yang menyalurkan sekitar 20 persen dari total minyak dunia, menjadi simbol kepentingan geopolitik yang kompleks.

Perspektif Global Dan Dampak Kebijakan

Perjanjian yang baru saja ditandatangani menunjukkan upaya bilateral antara AS dan Iran untuk mencari titik temu. Dokumen dengan 14 poin ini mengandung beberapa komitmen yang terukir jelas, termasuk janji untuk menghentikan operasi militer secara permanen di seluruh lini. Langkah ini juga mencakup pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap Iran, serta pembukaan jalur komersial yang aman bagi kapal-kapal pengangkut bahan bakar. Oman, yang sebelumnya dikenal sebagai mediator utama, kini berperan sebagai penegak komitmen antar pihak.

Dalam konteks global, Selat Hormuz tidak hanya memiliki nilai ekonomi tetapi juga secara geopolitik menentukan kestabilan region. Negara-negara seperti Jepang dan Tiongkok mengandalkan jalur ini sebagai akses utama ke pasar energi. Dengan adanya komitmen dari OMAN, ada harapan bahwa perjanjian ini akan mendorong stabilitas jangka panjang di wilayah tersebut. Meski begitu, isu-isu seperti status uranium diperkaya Iran tetap menjadi tanda tanya, karena dapat memicu ketegangan di masa depan.

Para pihak sepakat untuk memperkuat kerja sama melalui mekanisme yang disepakati. Tidak hanya soal keamanan, tetapi juga bagaimana memastikan bahwa kebijakan tarif tidak menjadi penghalang bagi alur perdagangan. Negara-negara yang bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah akan merasa lebih tenang jika Selat Hormuz tetap menjadi jalur bebas hambatan. Oman, dengan posisinya di tengah persaingan regional, dilihat sebagai pihak yang dapat mengimbangi tekanan dari pihak-pihak lain.

Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan setelah dialog di Swiss, mediator Qatar dan Pakistan menekankan bahwa perjanjian antara AS dan Iran bertujuan untuk menciptakan kepercayaan. Meski masih ada tantangan, penghentian operasi militer di Lebanon menjadi bagian penting dari upaya ini. Pernyataan Albusaidi menegaskan bahwa OMAN tidak hanya mendukung kebijakan ini, tetapi juga menginginkan bahwa semua pihak berperan aktif dalam menjaga keamanan internasional. Dengan demikian, Selat Hormuz bisa menjadi contoh keberhasilan diplomasi global.

Di sisi lain, perjanjian ini juga membuka ruang bagi penegakan hukum internasional dalam memastikan hak semua negara untuk bebas dari intervensi militer. Pernyataan resmi dari OMAN menunjukkan bahwa negara ini ingin menjadi penjamin kebebasan navigasi bagi kapal-kapal asing. Hal ini diperkuat oleh dukungan dari pihak ketiga, termasuk negara-negara yang terlibat dalam mediasi. Masa negosiasi 60 hari diberikan sebagai batas waktu untuk mengubah kerangka kerja yang ada.

Komitmen OMAN menegaskan bahwa jalur Selat Hormuz harus tetap menjadi akses yang terbuka bagi semua negara. Dengan mengedepankan prinsip hukum internasional, OMAN berharap dapat menjaga keseimbangan antara kepentingan Iran dan AS. Kedua pihak juga sepakat untuk menyelesaikan perbedaan dalam berbagai aspek, termasuk kebijakan energi dan diplomasi regional. Dalam jangka panjang, ini bisa menjadi langkah penting untuk mencegah eskalasi konflik yang berpotensi mengganggu ekonomi global.