Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Harita Nickel perkuat literasi anak Pulau Obi lewat rumah belajar

Published July 23, 2026 · Updated July 23, 2026 · By Joseph Wilson - fukushimask.com

Foto : Joseph Wilson - fukushimask.com

Harita Nickel perkuat literasi anak Pulau Obi melalui program rumah belajar untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional

Fukushimask.com – Jakarta – Harita Nickel kembali membuktikan komitmen jangka panjangnya dalam bidang pendidikan melalui program rumah belajar di Pulau Obi. Program ini secara khusus dirancang untuk memperkuat literasi anak-anak di wilayah terpencil Maluku Utara. Dengan adanya fasilitas belajar yang memadai, perusahaan tambang nikel ini berharap dapat memberikan dampak positif terhadap kemampuan membaca dan menulis generasi muda setempat. Inisiatif ini sejalan dengan upaya nasional untuk meningkatkan angka melek huruf di daerah-daerah yang masih tertinggal.

Program Pemberdayaan Masyarakat yang dijalankan Harita Nickel ini telah berjalan selama beberapa tahun terakhir. Melalui pendekatan yang terstruktur, perusahaan berhasil membangun empat rumah belajar di berbagai desa di Pulau Obi. Setiap fasilitas dilengkapi dengan buku bacaan, permainan edukatif, dan guru pendamping yang siap membantu anak-anak. Metode pembelajaran yang digunakan menggabungkan aktivitas tradisional dengan pendekatan modern agar lebih menarik bagi siswa.

Empat Fasilitas Rumah Belajar di Pulau Obi

Latif Supriadi, Executive Vice President External Relations Harita Nickel, menjelaskan bahwa setiap rumah belajar memiliki karakteristik unik sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Rumah Belajar Taman Ceria di Desa Kawasi menjadi yang pertama dibangun dan telah melayani banyak siswa sejak awal program. Sementara itu, Rumah Belajar Simore di Desa Gambaru dan Rumah Belajar Cahaya Ilmu di Desa Ocimaloleo juga telah menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Rumah Belajar Nyinga Moi di Desa Fluk merupakan fasilitas terbaru yang resmi diresmikan pada tanggal 2 Mei lalu. Kehadirannya menambah jumlah total rumah belajar yang beroperasi di Pulau Obi menjadi empat unit. Setiap rumah belajar dirancang untuk menampung siswa dalam jumlah yang tidak terlalu besar agar pendampingan dapat dilakukan secara optimal. Hal ini memungkinkan guru pendamping untuk lebih fokus pada kebutuhan individual setiap anak.

"Rumah belajar ini merupakan komitmen nyata Harita Nickel dalam mewujudkan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat pada pilar pendidikan," ujar Latif Supriadi.

Metode Pembelajaran Interaktif dan Efektif

Di dalam rumah belajar, anak-anak mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi. Sesi membaca selama 15 menit menjadi rutinitas harian yang membantu anak-anak terbiasa dengan dunia literasi. Bagi mereka yang belum lancar membaca dan menulis, tersedia pendampingan khusus yang dilakukan secara intensif. Cerita dongeng dan film edukasi juga menjadi bagian penting dari program ini.

Permainan edukatif dan kegiatan menonton bersama menambah variasi aktivitas yang dilakukan anak-anak. Semua fasilitas ini bekerja sama untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Kehadiran guru pendamping memastikan bahwa setiap anak mendapatkan bimbingan yang sesuai dengan tingkat kemampuan mereka. Pendekatan belajar sambil bermain terbukti efektif dalam menarik perhatian anak-anak yang biasanya lebih aktif bermain daripada duduk diam belajar.

Dampak Nyata bagi 210 Siswa di Pulau Obi

Hingga saat ini, program rumah belajar telah menjangkau 210 siswa di Pulau Obi. Angka ini menunjukkan bahwa program tersebut telah berhasil menjangkau sebagian besar anak-anak usia sekolah di wilayah tersebut. Imer Natalia Lumamuly, pengajar di Rumah Belajar Taman Ceria, menyampaikan bahwa program ini memberikan manfaat signifikan bagi siswa yang mengalami kesulitan di sekolah. Dengan jumlah siswa yang lebih sedikit dibandingkan kelas reguler, proses pembelajaran menjadi lebih terkontrol dan personal.

Harita Nickel perkuat literasi anak melalui program ini dengan harapan dapat melihat peningkatan yang berkelanjutan. Data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2024 menunjukkan bahwa tingkat buta huruf anak usia 5-17 tahun di Indonesia mencapai 7,10 persen. Angka ini bahkan lebih tinggi di Maluku Utara, yaitu 7,19 persen. Program rumah belajar diharapkan dapat membantu menurunkan angka tersebut melalui pendekatan yang lebih efektif dan menyenangkan bagi anak-anak.