Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Main Agenda: Anak dengan alergi susu boleh mengonsumsi protein dari daging sapi

Published June 11, 2026 · Updated June 11, 2026 · By Joseph Wilson

Anak dengan Alergi Susu Bisa Konsumsi Protein Daging Sapi

Main Agenda - Dari Jakarta – Dokter spesialis anak konsultan alergi dan imunologi lulusan Universitas Indonesia, dr. Molly Dumakuri Oktarina, menyampaikan bahwa anak yang mengalami alergi susu masih dapat mengonsumsi protein yang berasal dari daging sapi. Dalam diskusi yang berlangsung di ibu kota pada Rabu lalu, ia menekankan bahwa alergi terhadap susu tidak otomatis berarti anak juga alergi terhadap daging sapi.

"Alhamdulillah, anak yang alergi susu tidak selalu mengalami reaksi terhadap protein daging sapi. Jadi, bila alergi hanya terjadi pada protein susu sapi, dagingnya tetap aman untuk dikonsumsi," ujar dr. Molly.

Dokter Molly menjelaskan bahwa protein susu sapi dan protein daging sapi memiliki sifat berbeda. Alergi pada protein susu sapi umumnya disebabkan oleh komponen tertentu, seperti casein atau lactoglobulin, yang tidak hadir dalam daging sapi. Hal ini memungkinkan anak-anak dengan alergi susu tetap mendapatkan asupan protein yang cukup dari sumber lain, seperti daging, ikan, atau kacang.

Risiko Alergi pada Anak dan Faktor Genetik

Menurut dr. Molly, kejadian alergi pada anak bukan hanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan, tetapi juga memiliki kaitan erat dengan riwayat genetik dari orang tua. Ia menambahkan bahwa genetik memainkan peran signifikan dalam menentukan kemungkinan seseorang mengalami alergi.

"Jika salah satu orang tua, baik ayah maupun ibu, pernah mengalami alergi, maka anaknya memiliki risiko sekitar 20 hingga 40 persen untuk mengalami alergi," jelasnya.

Dalam kasus di mana kedua orang tua memiliki riwayat alergi, risiko anak mengalami alergi meningkat hingga 40 sampai 60 persen. Selain itu, jika ayah dan ibu memiliki gejala alergi yang sama, seperti asma atau dermatitis atopik, anak mereka memiliki peluang lebih besar untuk mengalami alergi, bahkan bisa mencapai 80 persen.

Pola Pemantauan dan Pengaruh Eksposur Awal

Dokter Molly juga menyoroti bahwa alergi bisa muncul karena kombinasi dua faktor, yaitu riwayat keluarga dan paparan alergen yang diperoleh dari lingkungan sejak dini. Jika hanya ada satu faktor, misalnya hanya ada riwayat genetik tetapi tidak ada paparan alergen, maka gejala alergi mungkin tidak muncul.

"Misalnya, jika ibu memiliki riwayat asma dan ayah juga, risiko anak mengalami alergi bisa mencapai 80 persen. Namun, bila hanya satu dari kedua orang tua yang alergi, risiko hanya sekitar 20-40 persen," tambahnya.

Dalam beberapa penelitian, bahkan orang tua yang tidak memiliki riwayat alergi, anak mereka tetap berpotensi mengalami alergi. Namun, risiko ini relatif rendah, sekitar lima persen. Alergi pada anak bisa terjadi bila ada interaksi antara genetik dan faktor lingkungan, seperti makanan yang dikonsumsi selama kehamilan atau menyusui.

Peran ASI dan Cara Persalinan dalam Pencegahan Alergi

Dokter Molly menyoroti bahwa air susu ibu (ASI) merupakan metode pencegahan utama untuk mengurangi risiko alergi pada anak. Ia menjelaskan bahwa ASI tidak hanya memberikan nutrisi, tetapi juga membantu membangun sistem kekebalan tubuh yang sehat.

"ASI bisa berperan penting dalam mengembangkan mikrobiota baik di usus anak. Mikroba ini berkontribusi pada pengenalan alergen secara tepat waktu, sehingga meminimalkan kemungkinan reaksi alergi," kata dr. Molly.

Di samping ASI, cara persalinan juga memengaruhi risiko alergi. Dr. Molly menyampaikan bahwa persalinan alami, seperti melalui vagina, mempercepat pertumbuhan mikrobiota baik yang bermanfaat bagi sistem imun anak. Sementara itu, persalinan melalui operasi caesar bisa mengurangi paparan mikroba tersebut, sehingga memengaruhi risiko alergi.

Dalam konteks ini, dr. Molly menekankan bahwa pencegahan alergi memerlukan pendekatan holistik. Selain menyusui, orang tua juga perlu memperhatikan pola makan sejak awal, memastikan anak terpapar berbagai makanan secara bertahap, dan menghindari paparan alergen berlebihan yang dapat memicu reaksi.

Penyebab dan Gejala Alergi Susu pada Anak

Alergi susu pada anak biasanya disebabkan oleh respons imun yang berlebihan terhadap protein dalam susu sapi. Gejala yang muncul bisa bervariasi, mulai dari gatal di mulut hingga reaksi anafilaksis yang serius. Dokter Molly menyarankan agar orang tua memantau gejala ini dengan cermat, terutama bila anak memiliki riwayat alergi.

"Jika hanya ada satu faktor, seperti genetik saja, gejala alergi mungkin tidak muncul. Namun, bila anak terpapar alergen sekaligus memiliki genetik, maka gejala bisa muncul lebih cepat," terangnya.

Di sisi lain, dokter Molly mengingatkan bahwa alergi bukanlah kondisi yang harus dihindari sepenuhnya. Dengan memahami penyebab dan cara mengelolanya, anak bisa tetap mendapatkan asupan nutrisi yang memadai. Ia juga menegaskan bahwa protein dari daging sapi tetap menjadi pilihan yang baik untuk menggantikan protein susu sapi, selama tidak ada reaksi alergi terhadap daging tersebut.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa anak yang diberi ASI selama beberapa bulan pertama hidupnya memiliki risiko alergi lebih rendah dibandingkan anak yang tidak menyusu. Selain itu, cara persalinan yang tepat juga bisa membantu memperkuat sistem imun anak, sehingga memperkecil kemungkinan mereka mengalami alergi.

Dr. Molly berharap orang tua memahami bahwa alergi adalah hal yang wajar dan bisa dikelola. Dengan memperhatikan asupan nutrisi dan memantau respons tubuh anak, mereka dapat memastikan kesehatan yang optimal untuk si kecil. Pada akhirnya, pengenalan protein dari berbagai sumber, termasuk daging sapi, tetap diperbolehkan selama tidak ada indikasi alergi yang menyebabkan gejala berat.