Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Menteri Kebudayaan: Pameran filateli medium edukasi sejarah dan budaya

Published September 12, 2026 · Updated September 12, 2026 · By Robert Davis - fukushimask.com

Foto : Robert Davis - fukushimask.com

Filateli Didorong Menjadi Ruang Belajar Sejarah dan Budaya

Fukushimask.com – Pameran benda filateli dapat membuka jalan bagi masyarakat untuk mengenal kembali perjalanan sejarah, kebudayaan, dan identitas bangsa melalui objek-objek kecil yang menyimpan makna besar. Pesan itu disampaikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat membuka Sriwijaya Philately Exhibition atau Sriwijaya PHEX 2026 di Palembang, Sumatera Selatan.

Ajang yang berlangsung pada 10–13 September tersebut menempatkan prangko, kartu pos, dan berbagai memorabilia sebagai bagian dari rekam budaya. Tidak sekadar dipajang untuk kolektor, benda-benda itu menghadirkan kisah mengenai tokoh, peristiwa penting, perubahan zaman, hingga kekayaan daerah yang membentuk Indonesia.

"Kalau kita sekarang ini mengangkat kembali filateli, sebenarnya bukan sekadar kembali ke masa lalu. Ini adalah bagian dari perjalanan bangsa kita, bagian dari sejarah kita, dan juga medium untuk edukasi, medium budaya, media untuk belajar, dan banyak lagi yang bisa kita pelajari dari situ," katanya.

Benda Kecil dengan Jejak Perjalanan Bangsa

Dalam pandangan Fadli Zon, filateli mempunyai nilai yang melampaui kegiatan mengumpulkan prangko. Koleksi semacam itu dapat dibaca sebagai dokumen budaya karena memuat representasi tentang perjalanan sebuah masyarakat. Visual pada prangko sering kali mengabadikan figur penting, momentum bersejarah, karya seni, alam, serta situs warisan yang layak dikenali generasi berikutnya.

Palembang dan Sumatera Selatan, misalnya, memiliki jejak budaya yang relevan untuk dikenalkan melalui medium tersebut. Prangko dapat menampilkan cagar budaya maupun unsur sejarah lokal sehingga menjadi penanda konteks zamannya. Bagi pengunjung, pengalaman melihat koleksi filateli juga dapat menjadi pintu awal untuk menggali cerita yang berada di balik gambar, tulisan, serta tanggal penerbitannya.

"Prangko selalu memotret peristiwa sejarah, tokoh-tokoh, termasuk misalnya cagar budaya yang ada di Palembang dan di Sumatera Selatan. Jadi, ini adalah penanda zaman," kata Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) itu.

Nilai pendidikan dari filateli muncul karena satu koleksi dapat menghubungkan banyak bidang pengetahuan. Sebuah prangko dapat mengajak pembaca mempelajari sejarah, geografi, seni rupa, komunikasi, transportasi, atau hubungan antarmasyarakat. Kartu pos dan memorabilia pun memberi gambaran tentang cara manusia saling bertukar kabar serta membangun hubungan pada masa sebelumnya.

Apresiasi Fisik di Tengah Kehidupan Digital

Kehadiran pameran ini juga menunjukkan bahwa benda fisik masih mempunyai daya tarik dalam kehidupan yang semakin bergantung pada teknologi digital. Aktivitas mengamati, menyimpan, merawat, dan mempelajari koleksi menghadirkan bentuk interaksi yang berbeda dengan informasi di layar. Pengunjung tidak hanya menerima informasi secara cepat, melainkan juga diajak memberi perhatian pada detail, konteks, dan asal-usul sebuah objek.

Fadli Zon melihat kecenderungan ini sebagai peluang untuk kembali menghargai material culture atau budaya material. Saat sebagian orang mengalami kejenuhan dalam ruang digital, benda-benda yang menyimpan jejak kehidupan manusia dapat menjadi sarana apresiasi yang lebih personal. Potensi tersebut juga memiliki dimensi ekonomi, terutama apabila dikelola melalui kegiatan budaya, koleksi, pameran, dan pendidikan publik.

"Ketika ada kejenuhan digital, orang berusaha untuk mengapresiasi sesuatu yang material, material culture. Dan material culture ini menurut saya adalah sebuah potensi ekonomi baru," katanya.

Selain menambah wawasan, kegiatan filateli dapat membentuk kebiasaan positif. Proses mencari, mengelompokkan, mendokumentasikan, dan menjaga kondisi koleksi membutuhkan ketelitian serta kesabaran. Pertukaran koleksi dan informasi antarfilatelis juga dapat memperluas persahabatan, melatih komunikasi, dan menumbuhkan sikap jujur dalam menjaga nilai serta keaslian benda yang dipertukarkan.

Sriwijaya sebagai Tema Pertemuan Internasional

Sriwijaya PHEX 2026 mengangkat sejarah Kerajaan Sriwijaya, kekuatan maritim yang memiliki hubungan dengan berbagai kawasan di Asia. Tema tersebut memberi kerangka yang kuat bagi pameran di Palembang, sekaligus mengajak peserta dan pengunjung melihat keterhubungan sejarah lokal dengan dunia yang lebih luas.

Pameran ini menghadirkan peserta dari 11 provinsi di Indonesia. Kehadiran internasional juga tampak melalui delegasi dari Singapura, Laos, Brunei, Malaysia, India, Nepal, Filipina, dan Uni Emirat Arab. Pertemuan lintaswilayah itu menyediakan kesempatan bagi para filatelis untuk membagikan koleksi, pengalaman, serta pengetahuan yang mereka bangun dari aktivitas pengarsipan dan penelitian koleksi.

Ketua Pengurus Daerah PFI Sumatera Selatan H.M. Affan Prapanca, yang menjadi Ketua Pelaksana Sriwijaya PHEX 2026, menyampaikan bahwa pameran internasional tersebut disusun untuk mengenalkan filateli sekaligus menghubungkannya dengan seni, kebudayaan, dan kegiatan kemasyarakatan.

Pendekatan tersebut penting karena filateli dapat lebih mudah dipahami ketika ditempatkan dekat dengan kehidupan publik. Pameran tidak hanya berbicara kepada kolektor berpengalaman, tetapi juga dapat menjangkau pelajar, keluarga, pegiat budaya, serta masyarakat yang baru pertama kali mengenal dunia prangko dan kartu pos.

Membangun Literasi Warisan Budaya

Harapan bagi Sriwijaya PHEX 2026 adalah berkembangnya ruang belajar sejarah dan budaya yang berkelanjutan. Pameran dapat mendorong pengunjung untuk tidak berhenti pada kekaguman terhadap bentuk visual koleksi, melainkan memahami pesan budaya yang terkandung di dalamnya.

Melalui pengenalan filateli, warisan Indonesia dapat dibaca dari sudut yang lebih dekat dan konkret. Prangko yang tampak sederhana ternyata mampu menyimpan penanda zaman, memelihara ingatan kolektif, dan menghubungkan masyarakat masa kini dengan perjalanan panjang bangsanya. Di tengah perubahan cara manusia berkomunikasi, nilai tersebut membuat filateli tetap relevan sebagai medium pembelajaran dan apresiasi budaya.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Menteri Kebudayaan?

Menteri Kebudayaan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Menteri Kebudayaan matter?

Menteri Kebudayaan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.