Pernah cacar air bisa kena herpes zoster? Ini penjelasannya
Herpes Zoster Dapat Muncul Setelah Cacar Air
Fukushimask.com – Seseorang yang pernah mengalami cacar air tetap dapat menghadapi masalah kesehatan lain akibat virus yang sama pada masa mendatang, yakni herpes zoster atau shingles. Kondisi ini terjadi ketika varicella zoster virus (VZV) yang sebelumnya menyebabkan cacar air kembali aktif di dalam tubuh.
Setelah cacar air pulih, VZV tidak selalu benar-benar hilang. Virus dapat bertahan dalam keadaan dorman di jaringan saraf tanpa menimbulkan keluhan. Saat terjadi reaktivasi, virus dapat memicu nyeri dan ruam khas herpes zoster pada bagian tubuh tertentu.
Virus menetap di jaringan saraf
Infeksi pertama oleh VZV umumnya menyebabkan cacar air. Sistem kekebalan tubuh kemudian mengendalikan infeksi tersebut, tetapi virus dapat tetap tersimpan secara laten pada saraf. Karena itu, herpes zoster bukan berarti seseorang tertular penyakit baru dari orang lain, melainkan aktivasi kembali virus yang sudah ada di tubuhnya.
Alasan pasti mengapa VZV kembali aktif belum sepenuhnya dipahami. Namun, penurunan daya tahan tubuh dikenal sebagai salah satu faktor penting yang berkaitan dengan munculnya herpes zoster. Risiko ini cenderung meningkat seiring pertambahan usia.
Orang dengan kekebalan tubuh yang melemah akibat kondisi medis tertentu atau penggunaan obat yang menekan sistem imun juga lebih rentan. Kondisi seperti beberapa jenis kanker, HIV, riwayat transplantasi organ, serta terapi imunosupresif dapat meningkatkan kemungkinan herpes zoster beserta komplikasinya.
Gejala yang Perlu Dikenali
Herpes zoster sering kali tidak langsung dimulai dengan lepuhan. Pada tahap awal, seseorang dapat merasakan sakit, rasa panas seperti terbakar, kesemutan, gatal, atau kebas pada satu area tubuh. Keluhan ini dapat muncul sebelum tanda pada kulit terlihat.
Dalam beberapa hari, ruam biasanya berkembang pada satu sisi tubuh. Ruam tersebut dapat berubah menjadi kumpulan lepuhan berisi cairan, lalu pecah dan mengering hingga membentuk keropeng. Pola yang mengikuti jalur saraf dan terbatas pada satu sisi tubuh menjadi ciri yang kerap membedakannya dari berbagai ruam kulit lain.
Selain perubahan pada kulit, herpes zoster dapat disertai demam, sakit kepala, menggigil, dan tubuh terasa lelah. Nyeri yang menyertai ruam tidak sebaiknya dianggap sepele, terutama bila muncul bersama lepuhan atau sensasi kesemutan pada satu sisi badan.
Risiko bertambah setelah usia 50 tahun
Setiap orang yang pernah menderita cacar air berpotensi mengalami herpes zoster. Akan tetapi, kemungkinan terjadinya penyakit ini lebih besar pada kelompok usia lanjut, terutama setelah usia 50 tahun. Kondisi kekebalan tubuh menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan risiko.
Herpes zoster lebih sering terjadi satu kali, tetapi bukan berarti kekambuhan mustahil. Orang yang pernah mengalaminya masih dapat kembali terkena di kemudian hari. Kemampuan tubuh dalam mempertahankan penekanan terhadap VZV yang menetap di saraf dapat dipengaruhi oleh keadaan imunitas serta faktor kesehatan lain.
Apakah Herpes Zoster Menular?
Herpes zoster tidak menular sebagai herpes zoster kepada orang lain. Namun, cairan dari lepuhan dapat menularkan VZV kepada orang yang belum pernah terkena cacar air atau belum menerima vaksin varisela. Bila tertular, orang tersebut dapat mengalami cacar air.
Untuk mengurangi risiko penularan, ruam sebaiknya ditutup, lepuhan tidak disentuh atau digaruk, dan tangan perlu dicuci secara teratur. Penderita juga dianjurkan membatasi kontak hingga seluruh lepuhan mengering dan menjadi keropeng, khususnya dengan bayi baru lahir, ibu hamil yang belum pernah mengalami cacar air, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.
Pencegahan dan Pentingnya Penanganan Dini
Vaksinasi menjadi salah satu langkah untuk menurunkan risiko herpes zoster dan komplikasinya. Vaksin herpes zoster dapat membantu mencegah penyakit ini, sekaligus mengurangi kemungkinan terjadinya nyeri saraf berkepanjangan atau postherpetic neuralgia.
Vaksin varisela juga memiliki peran untuk pencegahan jangka panjang karena membantu mengurangi risiko cacar air serta masalah yang berkaitan dengan infeksi VZV. Di Indonesia, vaksin varisela telah tercantum dalam sistem terminologi imunisasi nasional. Vaksin herpes zoster juga terdaftar sebagai salah satu jenis imunisasi dalam sistem tersebut.
Ruam yang disertai rasa sakit, terbakar, kesemutan, atau lepuhan pada satu sisi tubuh perlu mendapat perhatian medis lebih awal. Penanganan dini penting karena terapi antivirus memiliki manfaat terbaik ketika diberikan pada fase awal penyakit. Pemeriksaan juga membantu memastikan apakah keluhan kulit yang muncul benar merupakan herpes zoster atau kondisi lain yang membutuhkan penanganan berbeda.
Memahami hubungan antara cacar air dan herpes zoster dapat membantu masyarakat lebih waspada tanpa perlu panik. Virus yang tampak telah “selesai” setelah cacar air memang dapat bertahan di tubuh, sehingga mengenali gejala, menjaga kondisi kesehatan, dan mempertimbangkan vaksinasi menjadi langkah penting dalam mengurangi dampaknya.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Pernah cacar air bisa kena herpes?Pernah cacar air bisa kena herpes is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Pernah cacar air bisa kena herpes matter?Pernah cacar air bisa kena herpes matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.