Key Discussion: Ratusan pengunjung padati “Night at The Library” di TIM
Pengunjung Membanjiri Acara Literasi "Night at The Library" di TIM
Key Discussion - Jakarta, Jumat (26/6) malam, menjadi tempat yang ramai karena kehadiran ratusan orang dalam acara "Night at The Library" yang bertema "Jakarta 499: Menulis Halaman ke-500 Kota Jakarta." Acara ini diadakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Selama acara, berbagai kegiatan seperti diskusi, pertunjukan seni, dan peluncuran Festival Sastra HB Jassin 2026 menjadi daya tarik utama bagi peserta. Menurut Kepala Dispusip, Nasruddin Djoko Surjono, jumlah peserta mencapai antara 500 hingga 600 orang. Ia menjelaskan, acara tersebut bertujuan memicu masyarakat untuk mulai mengisi "halaman ke-500" Jakarta melalui karya dan gagasan kreatif.
Festival Sastra HB Jassin 2026: Gerakan Menuju Budaya Literasi
Festival Sastra HB Jassin 2026 yang diluncurkan dalam acara ini dianggap sebagai inisiatif penting untuk memperkuat nilai-nilai literasi di tengah perayaan usia Jakarta yang memasuki tahun ke-500. Nasruddin menjelaskan, Jakarta sebelumnya berada di halaman ke-499 sejarahnya, dan kini menjadi ajakan untuk menulis babak baru melalui kegiatan-kegiatan positif. "Kita mulai mengisi babak baru Jakarta dengan berbagai karya, gagasan, dan aktivitas literasi yang mengarah pada masa depan kota ini," katanya dalam pernyataan resmi. Menurutnya, perpustakaan kini harus berubah menjadi ruang publik yang dinamis, bukan hanya tempat menyimpan buku. Ia menyebutkan, kini perpustakaan juga menjadi tempat yang bisa membuka dunia kreatif dan meningkatkan partisipasi masyarakat.
"Sesungguhnya perpustakaan bukan hanya tempat membaca buku, tetapi tempat membaca kehidupan," ujar Nasruddin. Ia menekankan bahwa ruang literasi perlu menyajikan berbagai aktivitas yang relevan dengan kebutuhan warga, seperti diskusi, pertunjukan, dan pelatihan.
Konsep "Ibu Cerita": Jakarta sebagai Kota Kreatif
Dalam acara tersebut, Nasruddin juga memperkenalkan gagasan baru yang mengusulkan Jakarta sebagai "Ibu Cerita." Menurutnya, kota ini tidak hanya dikenal karena bangunan fisik dan infrastruktur modern, tetapi juga melalui cerita-cerita yang menggambarkan identitasnya. "Kalau gedung adalah tubuh sebuah kota, maka cerita adalah jiwanya. Jakarta beruntung memiliki jiwa yang sangat kaya," tuturnya. Ia menyatakan, peran perpustakaan dan sastra sangat penting dalam memupuk kehidupan budaya dan literasi. Dengan menjadi "Ibu Cerita," Jakarta diharapkan mampu memperkuat keberlanjutan nilai-nilai kebudayaan di tengah tantangan zaman.
Acara ini juga menyoroti perjalanan panjang Jakarta dalam membangun budaya literasi nasional. Dari awalnya munculnya surat kabar modern hingga berkembangnya Balai Pustaka, kota ini terus menjadi pusat inovasi kreatif. Menurut Nasruddin, perpustakaan dan sastra telah membentuk fondasi yang kuat bagi pengembangan pengetahuan dan ekspresi budaya. "Lima abad bukan sekadar perayaan umur kota, tetapi perayaan kemampuan Jakarta untuk terus belajar dan mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya," tambahnya. Ia menilai, predikat Kota Sastra UNESCO yang diperoleh Jakarta menjadi amanah untuk memperkuat komitmen terhadap literasi dan pemikiran kritis.
Rangkaian Kegiatan yang Menarik Perhatian Masyarakat
Dalam "Night at The Library," masyarakat diberikan peluang untuk menyaksikan berbagai bentuk ekspresi budaya. Program seperti diskusi publik tentang "Potret Jakarta dalam Literatur dari Masa ke Masa" disampaikan oleh Hilmar Farid, Asep Kambali, dan Avianti Armand, yang dimoderatori Jovial da Lopez, menjadi daya tarik utama. Selain itu, acara juga menampilkan monolog Ismail Marzuki oleh Sun Community serta pertunjukan musik dari Duo Libra, Smoothies, Alika Shafira, dan Ecoutez. Rangkaian kegiatan ini dirancang untuk memperkaya pengalaman masyarakat dalam mengenal Jakarta melalui perspektif sejarah, sastra, seni, dan ingatan kolektif.
Diki Lukman Hakim, Kepala UPT Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, menambahkan bahwa acara ini merupakan bagian dari serangkaian program yang diselenggarakan selama liburan sekolah. "Selain tema utama, kami juga menghadirkan berbagai kegiatan edukatif dan menarik yang bisa diakses oleh anak-anak," katanya. Total ada 16 program khusus yang ditujukan untuk mengisi waktu liburan. Program tersebut mencakup workshop, kerajinan tangan, serta mendongeng. Diki menilai, perpustakaan harus menjadi tempat yang nyaman dan dinamis, terutama bagi generasi muda.
"Kami berharap, selama liburan sekolah, anak-anak bisa belajar sekaligus menikmati masa liburan mereka di perpustakaan," ujarnya. Ia menekankan bahwa perpustakaan harus berperan sebagai sarana pembelajaran yang menyenangkan, sekaligus ruang untuk bereksplorasi dan berkarya.
Perpustakaan Sebagai Pusat Kreativitas dan Pertukaran Budaya
Nasruddin menjelaskan bahwa perpustakaan modern tidak hanya fokus pada koleksi buku, tetapi juga menjadi media untuk membangun masyarakat yang cerdas dan kreatif. "Perpustakaan saat ini harus menjadi ruang publik yang inklusif, serta tempat pertukaran ide dan inovasi," katanya. Ia menambahkan, kehadiran pengunjung yang cukup banyak menunjukkan bahwa masyarakat semakin sadar akan pentingnya ruang literasi. Menurutnya, kegiatan seperti "Night at The Library" memberikan contoh bagaimana perpustakaan bisa menjadi pusat aktivitas kultural yang menarik minat berbagai kalangan. "Pengunjung tidak hanya datang untuk membaca, tetapi juga untuk berinteraksi dan berbagi pengalaman," ujarnya.
Dalam konteks usia Jakarta yang menuju 500 tahun, acara ini dianggap sebagai bentuk pengenalan kota ke berbagai aspek kehidupan yang berkembang. "Kami ingin menunjukkan bahwa Jakarta bukan hanya sebuah kota yang fisik, tetapi juga sebuah kota yang hidup melalui cerita dan karya kreatif," tambah Diki. Ia menyatakan bahwa perpustakaan dan sastra memainkan peran penting dalam membangun identitas kota. Selain itu, acara ini menjadi ajang untuk memperkenalkan program edukatif yang bervariasi, termasuk kegiatan yang dirancang khusus untuk anak-anak.
Peran Perpustakaan dalam Masa Depan Jakarta
Kegiatan "Night at The Library" juga memperlihatkan bagaimana perpustakaan bisa menjadi jembatan antara generasi dan budaya. "Kami ingin menunjukkan bahwa perpustakaan bisa menjadi tempat pembelajaran yang menyenangkan, sekaligus ruang untuk berinteraksi secara aktif," kata Diki. Ia menyoroti pentingnya menghadirkan program yang bisa menjangkau seluruh kalangan, termasuk generasi muda. "Dengan berbagai kegiatan, perpustakaan mampu menjadi tempat yang menarik, sekaligus meningkatkan minat baca di kalangan anak-anak," ujarnya.
Dalam pandangan Nasruddin, perpustakaan harus bertransformasi menjadi ruang yang menyajikan berbagai bentuk kegiatan, seperti diskusi, pertunjukan seni, dan pelatihan. "Perpustakaan tidak lagi sekadar tempat meminjam buku, tetapi menjadi jantung kota yang menghidupkan budaya," katanya. Ia berharap, melalui acara seperti ini, Jakarta bisa terus berkembang sebagai kota yang unggul dalam bidang sastra dan literasi. Menurutnya, perpustakaan menjadi bagian integral dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
Kepala Dispusip menjelaskan