Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: Harga pangan naik, DKI ingatkan warga tak “panic buying”

Published May 24, 2026 · Updated May 24, 2026 · By Richard Wilson

Harga Pangan Naik, DKI Ingatkan Warga Tak "Panic Buying"

Jakarta, Minggu

New Policy - Dalam rangka menghadapi kenaikan harga bahan pangan menjelang perayaan Idul Adha 1447 Hijriah, Pemerintah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta melalui Staf Khusus Gubernur untuk Bidang Komunikasi Publik, Chico Hakim, meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terburu-buru membeli barang-barang kebutuhan pokok secara massal. "Pemerintah mengimbau warga berbelanja dengan bijak agar tidak terjadi lonjakan permintaan yang memicu kenaikan harga," jelas Chico dalam wawancara di Jakarta, Minggu.

"Kami berkomitmen menjaga inflasi pangan tetap terkendali demi kesejahteraan warga Jakarta," tambah Chico.

Chico menyebutkan bahwa kenaikan harga bahan pangan saat ini bukanlah fenomena yang tidak terduga, melainkan dampak dari beberapa faktor. Salah satunya adalah meningkatnya permintaan seiring mendekatnya hari raya Idul Adha, yang biasanya menjadi momentum pembelian daging kurban oleh masyarakat. Selain itu, kondisi cuaca yang tidak stabil, terutama hujan deras, juga berkontribusi pada penurunan kualitas dan volume panen sayur-sayuran serta buah-buahan.

Pemerintah DKI Jakarta, kata Chico, telah melakukan langkah-langkah koordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) guna memastikan harga bahan pangan tetap stabil. "Kami terus memantau situasi secara berkala dan bersinergi dengan berbagai pihak untuk mengantisipasi perubahan harga sejak awal," terangnya.

Kenaikan harga di sejumlah pasar tradisional, terutama untuk bahan-bahan pokok seperti cabai, bawang merah, dan bawang putih, memang terasa lebih signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Namun, Chico menegaskan bahwa Pemprov DKI Jakarta telah memperkuat mekanisme pengendalian harga untuk mengurangi dampaknya. "Tujuan kami adalah menjaga ketersediaan barang secara merata tanpa menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat," tambahnya.

Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta menjadi salah satu instansi yang aktif dalam upaya menjaga stabilitas harga. Selain memantau harga pangan secara langsung, Dinas ini juga menggunakan aplikasi Informasi Harga Pangan Jakarta (IPJ) untuk mempercepat respons terhadap fluktuasi harga. "Dengan alat digital ini, kami bisa mendeteksi perubahan permintaan lebih cepat dan memberikan sinyal ke produsen serta distributor," ujar Chico.

Untuk memastikan pasokan tetap lancar, Pemprov DKI Jakarta juga berkomunikasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk perusahaan BUMN seperti Perumda Dharma Jaya, produsen lokal, dan distributor besar. Koordinasi ini bertujuan menghindari kekakuan pasokan akibat kebijakan diskonto atau pengurangan stok di tengah permintaan tinggi. "Kami memastikan rantai pasok tetap terjaga, baik untuk bahan pokok maupun daging kurban," lanjut Chico.

Chico menyoroti bahwa tindakan pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan harga, tetapi juga pada penyediaan barang secara merata. Salah satu langkah konkrit yang diambil adalah adanya intervensi pasar, seperti distribusi bahan pangan bersubsidi dan pasar murah yang ditujukan untuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. "Ini dilakukan untuk mengurangi beban ekonomi warga yang kurang mampu menjelang hari raya besar," jelasnya.

Menurut informasi yang dihimpun, hujan deras yang terjadi beberapa bulan terakhir menyebabkan penurunan hasil panen hortikultura. Produksi cabai, bawang merah, dan bawang putih, misalnya, tercatat lebih rendah dibandingkan musim panen sebelumnya. Faktor ini memicu kenaikan harga karena pasokan tidak cukup memenuhi permintaan. "Curah hujan tinggi memengaruhi kualitas dan volume panen, sehingga menyebabkan tekanan pada harga," kata Chico.

Dalam rangka mengatasi masalah ini, Dinas KPKP DKI Jakarta juga melibatkan tim ahli dan perusahaan-perusahaan logistik dalam penyaluran bahan pangan ke berbagai wilayah. "Kami memastikan suplai tetap terjaga melalui distribusi yang terencana, baik secara lokal maupun nasional," ucapnya. Langkah ini dirasa penting mengingat jumlah penduduk Jakarta yang besar dan kebutuhan pangan yang beragam.

Chico Hakim menekankan bahwa kenaikan harga bahan pangan tidak selalu berarti krisis pangan. "Ini adalah kondisi sementara yang bisa diatasi dengan kerja sama semua pihak," tuturnya. Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak terpengaruh oleh berita-berita yang menyebutkan kenaikan harga secara berlebihan, karena pemerintah telah melakukan persiapan yang matang. "Masyarakat bisa membeli bahan pokok secara terencana, tanpa harus memboroskan uang karena panic buying," tambahnya.

Persiapan awal untuk daging kurban, seperti target stok ribuan ekor sapi oleh Perumda Dharma Jaya, menjadi salah satu langkah strategis Pemprov DKI Jakarta. Dengan memastikan stok yang cukup, pemerintah berharap harga daging bisa tetap terjaga tanpa fluktuasi berlebihan. "Kami tidak ingin masyarakat merasa khawatir karena tidak ada pasokan yang cukup," jelas Chico.

Selain itu, Chico menyebutkan bahwa pemerintah juga meningkatkan pemantauan terhadap harga bahan pokok di berbagai pasar tradisional. "Kami memastikan harga tidak melonjak secara drastis karena beberapa faktor eksternal yang bisa ditekan," kata dia. Langkah-langkah ini diharapkan dapat memberikan kepastian bagi masyarakat Jakarta dan menjaga daya beli serta kesejahteraan warga selama bulan suci Ramadan hingga Idul Adha.

Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan, Chico yakin bahwa kenaikan harga pangan akan tetap terkendali. "Pemerintah DKI Jakarta telah mengambil langkah-langkah yang tepat, dan kita bersama-sama masyarakat bisa mengatasi tantangan ini," pungkasnya. Ia menambahkan, kesadaran masyarakat untuk membeli secara bijak tetap menjadi kunci utama dalam mengurangi tekanan harga. "Kami juga meminta warga untuk tetap tenang dan tidak panik," tutup Chico.