Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Solution For: Pembangunan Flyover Latumeten ditargetkan kurangi kemacetan

Published July 3, 2026 · Updated July 3, 2026 · By Joseph Wilson

Flyover Latumeten Dibangun untuk Mengurangi Masalah Kemacetan di Jakarta Barat

Solution For - Proyek pembangunan Flyover Latumeten yang berlokasi di Grogol Petamburan, Jakarta Barat, tengah dalam proses penyelesaian. Anggota DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, menyatakan bahwa proyek ini diharapkan dapat mengurangi kemacetan kronis di kawasan tersebut hingga 40 persen. "Infrastruktur ini dirancang untuk meringankan beban lalu lintas, dan kami berharap bisa selesai tepat waktu, yaitu Desember 2026," ujarnya pada Jumat lalu. Menurut Kenneth, Flyover Latumeten menjadi solusi yang ditunggu warga setelah beberapa tahun menjadi sorotan karena kesulitan mengakses jalan utama.

Proses Pemulihan Kemacetan

Menurut Kenneth, proyek tersebut diinisiasi berawal dari keluhan warga yang tinggal di sekitar perlintasan kereta api. Saat kunjungan kerja pada 2024, warga meminta adanya solusi untuk mengatasi kemacetan yang terus-menerus terjadi. "Masyarakat menyatakan bahwa perlintasan kereta api menjadi penyumbang utama hambatan lalu lintas," jelasnya. Meski awalnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum memiliki anggaran untuk membangun flyover, Kenneth meminta pihak pemerintah melakukan kajian terlebih dahulu. Setelah analisis selesai, proyek tersebut kemudian masuk ke tahap lelang dan pengerjaan dimulai di akhir 2025.

"Setelah itu, proyek memasuki fase tender dan sekarang sudah mulai terlihat hasilnya. Mudah-mudahan, pembangunan bisa selesai sesuai jadwal yang ditetapkan Pak Gubernur," tambah Kenneth.

Dalam pembangunan ini, Pemprov DKI Jakarta memprioritaskan integrasi dengan berbagai sistem transportasi. Flyover Latumeten dirancang menjadi titik penghubung antara KRL Commuter Line, Transjakarta, dan JakLingko. Sebagai fasilitas pendukung, juga dibangun skywalk dengan lift, Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang ramah disabilitas, serta halte Transjakarta yang terintegrasi dengan lingkungan sekitar. Kenneth menyebutkan konsep ini bertujuan memberikan aksesibilitas yang lebih baik bagi pengguna jalan, termasuk penyandang disabilitas, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang membawa barang berat atau kereta bayi.

Fasilitas yang Mendukung Kemudahan Transportasi

Kehadiran lift pada JPO akan mempermudah pengguna untuk menyeberang ke halte Transjakarta tanpa harus naik turun tangga. "Ini akan memberi kenyamanan khusus bagi penyandang disabilitas dan orang tua yang membawa anak kecil," ujar Kenneth. Selain itu, skywalk yang terhubung langsung dengan stasiun KRL dan halte Transjakarta diharapkan mampu mengurangi risiko kecelakaan serta mempercepat perpindahan moda transportasi. Fasilitas ini juga dianggap sebagai bagian dari sistem transportasi yang lebih terpadu, sehingga warga tidak perlu lagi menyeberang di tengah keramaian lalu lintas.

Kenneth menekankan bahwa Flyover Latumeten bukan hanya solusi jangka pendek tetapi juga strategi jangka panjang. "Kami ingin proyek ini bisa menjadi contoh dalam merancang infrastruktur yang menyeimbangkan kebutuhan mobilitas dan keselamatan pengguna," tuturnya. Ia menambahkan bahwa konsep ini dirancang untuk mendorong penggunaan transportasi umum secara lebih efisien, sekaligus mengurangi beban kendaraan pribadi di jalur utama.

Target Anggaran dan Progres Pembangunan

Menurut Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, proyek Flyover Latumeten menelan anggaran sebesar Rp259 miliar. Progres pekerjaan saat ini mencapai 55,2 persen, dengan target selesai pada 15 Desember 2026. Pramono mengungkapkan bahwa Flyover Latumeten merupakan proyek infrastruktur yang sangat dinantikan masyarakat karena berada di kawasan yang selama ini menjadi penyumbang utama kemacetan.

"Flyover ini sangat penting bagi warga Jakarta Barat. Masyarakat sering mengeluhkan kepadatan lalu lintas di sini, baik pagi, siang, maupun sore hari," kata Pramono.

Proyek ini diharapkan mampu mengubah dinamika lalu lintas di sekitar stasiun KRL Latumeten dan jalur utama yang selama ini macet. Dengan adanya Flyover, alur kendaraan bisa lebih lancar, sementara pejalan kaki mendapatkan akses yang lebih nyaman. Pramono menjelaskan bahwa integrasi fasilitas transportasi ini menjadi salah satu strategi untuk mengoptimalkan penggunaan ruang publik dan mencegah pemborosan sumber daya.

Peran Anggota DPRD dalam Pengembangan Infrastruktur

Kenneth, yang juga menjabat Ketua IKAL PPRA LXII Lemhannas, menekankan bahwa partisipasi anggota legislatif sangat vital dalam merancang proyek yang sesuai kebutuhan masyarakat. "Sebagai wakil rakyat, kami bertugas untuk menyampaikan aspirasi warga ke pemerintah," ujarnya. Ia menambahkan bahwa proses kajian dan lelang yang dilakukan secara transparan membantu memastikan proyek ini dapat memberikan manfaat maksimal.

Ketersediaan fasilitas yang memadai di Flyover Latumeten diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup warga sekitar. Selain mengurangi kemacetan, proyek ini juga dianggap sebagai langkah kecil dalam membangun kota yang lebih inklusif dan ramah lingkungan. Kenneth berharap bahwa seluruh elemen infrastruktur ini bisa terimplementasi secara baik, sehingga masyarakat tidak hanya terbantu dari segi waktu tempuh tetapi juga keselamatan dan kenyamanan saat beraktivitas di luar rumah.

Kawasan Latumeten dikenal sebagai titik perlintasan utama yang selama ini rawan kecelakaan akibat pejalan kaki terjebak dalam kemacetan. Dengan adanya Flyover, alur lalu lintas akan terpisah, sehingga risiko tabrakan antara kendaraan dan pejalan kaki bisa diminimalkan. Selain itu, sistem transportasi yang terintegrasi diharapkan meningkatkan efisiensi perpindahan antar daerah. Warga yang bepergian ke Grogol atau kawasan sekitarnya bisa mengakses layanan KRL, Transjakarta, dan jalan darat secara lebih mudah.

Kenneth juga menyebutkan bahwa proyek ini mencerminkan kolaborasi antara legislatif dan eksekutif dalam menyelesaikan masalah infrastruktur. "Pemprov DKI dan DPRD harus bersinergi agar proyek ini bisa berjalan optimal," ujarnya. Ia menilai bahwa kerja sama yang baik antara pihak-pihak terkait menjadi kunci keberhasilan pembangunan ini.

Dengan ditargetkan selesai pada Desember 2026, Flyover Latumeten akan menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta dalam memperbaiki kondisi transportasi di ibu kota