Important News: Sosok Zainal Abidin Syah yang perjuangkan Irian Barat bagian NKRI
Penghargaan Nasional untuk Sultan Zainal Abidin Syah
Important News - Pada perayaan Hari Pahlawan 2025 di Istana Negara, Jakarta, Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi menyerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh. Keputusan ini diambil melalui Keppres Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Salah satu penerima gelar tersebut adalah Sultan Zainal Abidin Syah, yang wafat pada tahun 1967. Ia dianugerahi penghargaan dalam kategori Perjuangan Politik dan Diplomasi, mengakui perannya dalam menjaga integritas wilayah Indonesia Timur.
Perjalanan Hidup dan Pendidikan Sultan Zainal Abidin Syah
Sultan Zainal Abidin Syah lahir di Soa-Sio, Tidore, Maluku Utara, pada tahun 1912. Dalam sejarah, namanya juga sering disebut sebagai Sultan Zainal Abidin Alting Syah. Sejak muda, ia menunjukkan ketertarikan pada pendidikan, dengan menempuh sekolah dasar Belanda di Ternate. Pendidikan lanjutannya dilanjutkan di sekolah menengah Belanda atau Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Batavia, kini Jakarta. Setelah itu, ia memasuki OSVIA (Opleidings Scholenvoor Inlandsche Ambtenaren) di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 1934. Di sana, ia menjadi pegawai negeri dengan tugas administratif di Ternate, Manokwari, dan Sorong.
Berkat usahanya, ia dikenal sebagai "Penjaga Timur Indonesia," sebuah gelar yang mencerminkan komitmennya terhadap keutuhan wilayah NKRI. Selama pendudukan Jepang, ia sempat dipindahkan ke Jailolo, Halmahera Barat, untuk satu tahun sebelum Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Pada tahun 1947, ia dilantik sebagai Sultan Tidore, dan segera memperkuat klaim historis Kesultanan Tidore terhadap wilayah Irian Barat.
Konferensi Meja Bundar dan Perjuangan Politik
Pada Konferensi Meja Bundar 1949, Zainal Abidin Syah menjadi satu dari 51 anggota parlemen yang menolak menyerahkan Irian Barat kepada Belanda. Ia menyuarakan pendirian bahwa wilayah tersebut sejak ratusan tahun menjadi bagian dari Kesultanan Tidore.
"Irian Barat merupakan bagian dari Kesultanan Tidore," ujarnya dalam pidato yang disampaikan pada 2 Maret 1949.
Pernyataan ini menjadi pondasi bagi perjuangannya dalam mempertahankan wilayah NKRI.
Berkat dukungan dari presiden saat itu, Soekarno, Zainal Abidin Syah terlibat langsung dalam pembentukan Provinsi Perjuangan Irian Barat pada 17 Agustus 1956. Ia menjabat sebagai Gubernur Sementara provinsi tersebut hingga 1961, dengan SK Presiden RI No. 142 Tahun 1956. Posisi ini memperkuat pengaruhnya dalam mengadvokasi hak-hak daerah di Indonesia Timur.
Peran dalam Operasi Tri Komando Rakyat
Setelah menjabat gubernur hingga 1961, Sultan Zainal Abidin Syah diangkat sebagai staf di Departemen Dalam Negeri melalui SK Presiden No. 220 Tahun 1961. Tugasnya adalah membantu Komando Mandala di Makassar dalam Operasi Tri Komando Rakyat (Trikora), yang bertujuan membebaskan Irian Barat dari penjajahan Belanda. Pada 4 Mei 1962, ia ditetapkan sebagai Gubernur Tetap Provinsi Irian Barat, menandai kemenangan perjuangannya yang telah berlangsung lama.
Dalam perannya sebagai gubernur, Zainal Abidin Syah tidak hanya menghadapi tantangan politik tetapi juga mengatur koordinasi dengan masyarakat setempat untuk memperkuat kesatuan. Pembebasan Irian Barat menjadi simbol perjuangan kesetiaannya terhadap NKRI. Ia terus berupaya menjaga hubungan diplomatik dengan pihak lokal, memastikan wilayah tersebut tetap berada di bawah kepemimpinan Indonesia.
Kematian dan Warisan Perjuangan
Sultan Zainal Abidin Syah meninggal dunia pada 4 Juli 1967 di Ambon. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kapahaha Ambon, menjadi bagian dari penghargaan yang diberikan kepada tokoh-tokoh yang mengorbankan diri untuk keutuhan bangsa. Setelah 19 tahun, pada 11 Maret 1986, kerangka beliau dipindahkan ke Soa-Sio Tidore dan disemayamkan di Sonyine Salaka Kedaton Kie Soa-Sio Kesultanan Tidore. Upacara ini mengingatkan kembali perannya sebagai simbol kesatuan wilayah NKRI.
Kegigihannya dalam mempertahankan Irian Barat sebagai bagian dari NKRI tidak hanya diakui secara resmi oleh pemerintah, tetapi juga diabadikan dalam bentuk arsitektur kota. Jalan utama di Soa-Sio, Kecamatan Tidore Selatan, dinamai Jalan Sultan Zainal Abidin Syah sebagai penghargaan atas jasa-jasa beliau. Penamaan ini menjadi bukti bagaimana perjuangan politik dan diplomatiknya berdampak mendalam pada sejarah Indonesia.
Zainal Abidin Syah menunjukkan dedikasi luar biasa terhadap tanah air. Dari posisi sebagai Sultan hingga menjadi Gubernur Irian Barat, ia menjalani perjalanan panjang yang menghubungkan Maluku Utara dengan Papua Barat. Perjuangannya menegaskan bahwa keutuhan NKRI adalah prioritas utama, terlepas dari tekanan sejarah dan politik. Sebagai tokoh yang penuh dedikasi, ia dianggap sebagai bagian integral dari perjuangan kemerdekaan dan keberlanjutan negara.
Sebagai penerima gelar Pahlawan Nasional, Sultan Zainal Abidin Syah menjadi contoh bagi generasi berikutnya. Upacara penganugerahan di 2025 tidak hanya menghormati perannya dalam mempertahankan Irian Barat, tetapi juga mengingatkan pentingnya kesatuan dalam keberagaman. Perjuangannya mengukir jejak sejarah yang tak terlupakan, menjadi sumber inspirasi bagi para pejuang modern.