Key Discussion: Wamendagri minta wali kota optimalkan peran generasi muda
Wamendagri minta wali kota optimalkan peran generasi muda
Key Discussion - Di tengah upaya memperkuat tata kelola pemerintahan daerah, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarta menekankan pentingnya membangun kolaborasi antara pemerintah dan generasi muda. Ia mengatakan, dalam pertemuan dengan Youth City Changers (YCC) di Medan, Senin, bahwa anak muda memiliki peran yang tak tergantikan sebagai penggerak perubahan. Menurut Bima, keterlibatan generasi muda dalam proses pembangunan daerah bukan hanya sebagai mitra, tetapi sebagai motor yang mampu mempercepat realisasi visi kota maju.
"Anak muda dinilai menjadi faktor kunci dalam mewujudkan kota yang tangguh dan berkelanjutan," ujarnya. Bima menyebut, inovasi, literasi, serta kreativitas generasi muda bisa menjadi alat untuk mengubah paradigma pemerintahan dari yang tradisional menjadi lebih dinamis. Ia menekankan bahwa potensi ini tidak hanya bisa dimanfaatkan secara individual, tetapi juga sebagai sumber daya kolektif yang berkelanjutan.
Kolaborasi antara pemerintah dan generasi muda, menurut Bima, memerlukan ruang yang lebih luas untuk partisipasi aktif. Ia menambahkan, forum YCC bertujuan sebagai jembatan antara pemuda dan pemerintah daerah, serta sebagai wadah untuk mengumpulkan ide-ide yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya. Bima berharap, melalui forum ini, generasi muda bisa terlibat langsung dalam merancang strategi pembangunan yang inklusif dan berorientasi masa depan.
Wakil Menteri Dalam Negeri mengingatkan bahwa pembangunan daerah tidak bisa tercapai hanya dengan kekuatan pemerintah sendiri. Dalam konteks ini, keterlibatan anak muda bisa membawa perspektif baru yang berpotensi menyelesaikan masalah kompleks. "Kreativitas dan semangat inovasi mereka bisa mengisi celah-celah yang belum terpenuhi oleh program pemerintah," kata Bima. Ia menjelaskan, hal ini terutama penting dalam menghadapi tantangan seperti perubahan iklim, urbanisasi, dan kebutuhan pendidikan tinggi di kalangan masyarakat.
Menurut Bima, YCC tidak hanya menjadi ruang untuk mendengarkan aspirasi pemuda, tetapi juga sebagai alat pengintegrasian gagasan-gagasan tersebut ke dalam agenda nasional. Ia menyebut, forum ini telah diusulkan untuk dimasukkan dalam Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) XVIII Tahun 2026. "APEKSI akan menjadi platform utama untuk mengimplementasikan ide-ide yang dibawa oleh generasi muda," tambahnya. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah pusat dalam menempatkan pemuda sebagai bagian integral dari kebijakan daerah.
Pemuda sebagai katalis perubahan
Kolaborasi lintas sektor, menurut Bima, menjadi kunci dalam menciptakan kota yang tangguh. Ia menekankan, semangat gotong royong dan partisipasi aktif masyarakat harus dijaga agar pembangunan tetap berimbang dan berkelanjutan. "Anak muda bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga penentu arah kebijakan," ujarnya. Ia menjelaskan, peran mereka bisa dilihat dari kemampuan untuk menciptakan solusi yang berorientasi teknologi, ekonomi, dan lingkungan.
"Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi lintas sektor, semangat gotong royong, serta keterlibatan relawan dan anak muda menjadi kunci penting dalam membangun daya tahan kota," kata Rico Waas, Wali Kota Medan, dalam pertemuan yang sama. Rico menyatakan, keterlibatan pemuda dalam pembangunan tidak hanya meningkatkan kualitas kebijakan, tetapi juga memperkuat kapasitas daerah dalam menghadapi berbagai tantangan.
Rico Waas menegaskan, generasi muda perlu diberi ruang untuk berkontribusi secara maksimal. Ia menyebut, ide-ide kreatif mereka bisa menjadi pendorong untuk mengembangkan inisiatif-inisiatif lokal yang mampu berdampak jangka panjang. "Kota yang tangguh adalah kota yang bisa menghadapi perubahan dengan adaptif dan cerdas," kata Rico. Ia menambahkan, keterlibatan pemuda juga bisa meningkatkan keterbukaan informasi dan transparansi dalam pemerintahan daerah.
Kemajuan kota, menurut Rico, tergantung pada kemampuan untuk mengubah mindset. Ia mengatakan, keikutsertaan generasi muda dalam proyek-proyek pembangunan harus menjadi keharusan, bukan sekadar keinginan. "Mereka adalah generasi yang paling memahami kebutuhan masa depan, baik secara teknis maupun sosial," tutur Rico. Dalam konteks ini, pemerintah daerah diharapkan membangun hubungan yang saling menguntungkan dengan pemuda, agar aspirasi mereka bisa menjadi bahan dasar kebijakan yang relevan.
Menurut Bima Arya, pengembangan kota yang inklusif harus dimulai dari mengajak generasi muda untuk berpartisipasi. Ia mencontohkan, keterlibatan pemuda dalam pengambilan keputusan bisa mempercepat lahirnya program-program yang mampu menyelesaikan masalah seperti kemiskinan, pendidikan, dan lingkungan. "Jika kita bisa menyatukan semangat pemuda dengan kebijakan pemerintah, maka visi pembangunan daerah bisa tercapai secara lebih cepat," ujarnya.
YCC, sebagai wadah yang menggabungkan elemen-elemen kepemudaan, diharapkan bisa menjadi model terbaik bagi kota-kota lain. Bima Arya menegaskan, forum ini bertujuan untuk memperkuat komunikasi antara pemuda dan pemerintah daerah, serta memfasilitasi pertukaran gagasan yang bisa diimplementasikan dalam kebijakan nyata. "Kita perlu menciptakan ekosistem di mana pemuda tidak hanya diberi ruang, tetapi juga diakui sebagai bagian dari keku