Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: BPIP perkuat kompetensi ASN lewat pembinaan dan pendampingan

Published June 30, 2026 · Updated June 30, 2026 · By Robert Davis

BPIP Perkuat Kompetensi ASN melalui Pembinaan dan Pendampingan

New Policy - Jakarta – Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sedang berupaya meningkatkan keterampilan aparatur sipil negara (ASN) dengan mengadakan pelatihan pembinaan dan pendampingan sebagai bagian dari upaya membangun budaya belajar yang berkelanjutan dalam lingkungan lembaga tersebut. Kepala Biro Umum dan SDM BPIP, Fitri Suhariyadi, menjelaskan bahwa program ini dilaksanakan sebagai wujud penerapan konsep ASN Corporate University (ASN Corpu), yang menekankan pendekatan pembelajaran berkelanjutan melalui metode sosial. "Program ini dirancang untuk memperkuat budaya belajar di lingkungan BPIP dengan pendekatan 'social learning' sebagai implementasi dari konsep ASN Corpu," tutur Fitri dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin.

Kolaborasi dengan Institusi Pendidikan

Kegiatan tersebut dilaksanakan secara bersamaan dengan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Kementerian Keuangan. Lebih dari itu, program ini juga mencakup partisipasi dari sejumlah pejabat tinggi, termasuk pimpinan pratama, administrator, pengawas, serta pejabat fungsional yang berada di lingkungan BPIP. Menurut Fitri, pendekatan pembelajaran sosial dalam pelatihan ini diperkirakan dapat mempercepat proses adaptasi ASN terhadap perubahan, sekaligus meningkatkan keterlibatan mereka dalam pengembangan diri.

“Pengembangan kompetensi yang berkelanjutan melalui 'coaching' dan mentoring merupakan kunci untuk menghadirkan ASN yang unggul, adaptif, serta berdaya saing,” ujarnya.

Pendekatan 'coaching' dan 'mentoring' ini dianggap lebih efektif dibandingkan metode tradisional dalam membangun karakter, memperkuat kapasitas kepemimpinan, serta mendorong kolaborasi di lingkungan kerja. Metode tersebut juga diharapkan dapat membantu ASN generasi Z dalam menginternalisasi nilai-nilai Pancasila, yang menjadi dasar dari sistem pemerintahan Indonesia. "Dengan pendekatan ini, para pegawai diharapkan mampu mengaplikasikan prinsip Pancasila secara langsung dalam tugas sehari-hari," imbuhnya.

Peran Pemimpin dalam Budaya Belajar

Fitri menjelaskan bahwa peran pemimpin tidak hanya sebatas menjadi atasan, tetapi juga perlu bertransformasi menjadi pembimbing yang aktif. Dengan adanya proses pembinaan dan pendampingan, para pimpinan diharapkan dapat mendorong peningkatan kompetensi, produktivitas, serta inovasi pegawai. "Kami ingin menciptakan birokrasi yang mampu beradaptasi dengan dinamika perubahan dan fokus pada pencapaian hasil," katanya.

Dalam konteks ini, BPIP memandang bahwa pelatihan berbasis sosial belajar memiliki potensi untuk mengubah cara kerja ASN menjadi lebih dinamis. Metode yang diterapkan tidak hanya melibatkan transfer ilmu secara langsung, tetapi juga menciptakan ruang dialog dan pertukaran pengalaman antar peserta. Hal ini diperkirakan dapat meningkatkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab individu terhadap pembelajaran sepanjang hayat.

Pelatihan ini juga dirancang untuk memperkuat sistem pengelolaan SDM BPIP, terutama dalam menciptakan lingkungan kerja yang mendukung pertumbuhan profesional. Dengan adanya pendampingan yang intensif, pegawai diharapkan mampu mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran, serta merancang strategi pengembangan diri yang sesuai dengan tugas dan tanggung jawab mereka. "Kami ingin membentuk ASN yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan kompetensi ideologis," tambahnya.

Harapan Membentuk Ekosistem Pembelajaran

BPIP berharap bahwa program ini menjadi awal dari pembentukan ekosistem pembelajaran yang lebih luas di seluruh unit kerja. Melalui kegiatan ini, mereka berharap muncul praktik-praktik inovatif yang mampu mendorong keterlibatan aktif ASN dalam proses pengembangan diri. "Dengan budaya 'coaching' dan mentoring yang kuat, kami ingin menciptakan lingkungan kerja yang lebih produktif dan berorientasi pada hasil," ujarnya.

Dalam jangka panjang, BPIP berharap program ini dapat meningkatkan kapasitas organisasi dalam menghadapi tantangan birokrasi di masa depan. Keterlibatan sejumlah pejabat yang berpengalaman dalam pelatihan ini dianggap penting untuk memastikan bahwa metode pembelajaran sosial mampu diimplementasikan secara konsisten dan berkelanjutan. Selain itu, program ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi lembaga lain dalam mengembangkan sistem SDM yang berbasis pendekatan pemanfaatan sumber daya manusia secara optimal.

Kepala BPIP Fitri Suhariyadi menekankan bahwa budaya belajar yang berkelanjutan tidak hanya mampu memperbaiki kualitas ASN, tetapi juga mendorong inovasi dan adaptasi organisasi terhadap tuntutan zaman. "Kami percaya bahwa dengan pendekatan pembinaan dan pendampingan yang sistematis, ASN dapat menjadi pilar utama dalam menjaga nilai-nilai Pancasila di tengah dinamika masyarakat yang semakin kompleks," katanya. Ia juga mengingatkan bahwa proses ini memerlukan komitmen yang kuat dari seluruh pihak, termasuk pemimpin, pegawai, serta masyarakat.

Sebagai bagian dari upaya ini, BPIP telah merancang rencana pelatihan berkelanjutan yang akan mencakup berbagai topik, seperti pengembangan kepemimpinan, manajemen perubahan, serta penguatan nilai-nilai Pancasila. Selain itu, program ini juga dirancang untuk memperkuat kerja sama antar unit kerja, dengan menggali potensi kolaborasi yang bisa dijadikan model terbaik dalam pemerintahan. "Kami ingin menciptakan kultur organisasi yang kolaboratif dan berorientasi pada pertumbuhan," ujarnya.

Keterlibatan seluruh pegawai dalam program ini dianggap sebagai bentuk komitmen terhadap transformasi kelembagaan. Dengan adanya pendampingan yang berkelanjutan, para ASN diharapkan dapat terus berkembang, tidak hanya secara teknis, tetapi juga secara moral dan ideologis. "BPIP ingin menjadi lembaga yang mampu menciptakan ASN yang mumpuni, baik dalam kemampuan profesional maupun dalam peningkatan kualitas kepribadian," tutupnya.