Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

14 Tahun Mengabdi sebagai Mantri BRI, Dewi Bantu Bebaskan Warga Desa dari Jerat Rentenir

Published September 14, 2026 · Updated September 14, 2026 · By Patricia Hernandez - fukushimask.com

Foto : Patricia Hernandez - fukushimask.com

Dewi Natalia, Mantri BRI yang Mendampingi Pelaku Usaha Mikro di Lampung

Fukushimask.com – Akses pembiayaan yang aman masih menjadi kebutuhan penting bagi banyak pelaku usaha kecil di wilayah pedesaan. Di sejumlah pasar tradisional, keterbatasan pemahaman mengenai layanan bank formal dapat membuat pedagang bergantung pada pinjaman berbunga tinggi. Dalam situasi seperti ini, pendampingan langsung di lapangan memiliki peran besar untuk membuka pilihan keuangan yang lebih sehat.

Dewi Natalia menjalani peran tersebut selama hampir 15 tahun bersama BRI. Ia telah bertugas sebagai Mantri selama sekitar 14 tahun dan kini ditempatkan di BRI Unit Natar, Kantor Cabang Teluk Betung, Kantor Wilayah Bandar Lampung. Dalam aktivitas hariannya, Dewi mendampingi 380 debitur mikro aktif.

Perjalanannya mencerminkan kerja tenaga pemasar mikro yang tidak hanya berkaitan dengan penyaluran pembiayaan, tetapi juga membangun kepercayaan, mengenali kebutuhan warga, serta membantu pelaku usaha memahami pilihan layanan keuangan yang tersedia.

Berawal dari layanan nasabah

Dewi mulai bergabung dengan BRI pada Februari 2011 sebagai Customer Service. Keinginannya untuk terlibat lebih dekat dalam pengembangan usaha masyarakat mendorongnya mengikuti seleksi Mantri pada 2012. Proses untuk mencapai posisi tersebut tidak berlangsung singkat. Ia harus menjalani seleksi ketat di Palembang hingga dua kali percobaan.

“Saya bisa bilang bahwa perjalanan yang saya tempuh tidak mudah ya, termasuk harus mengikuti seleksi ketat di Palembang hingga dua kali percobaan. Akan tetapi, akhirnya saya berhasil membuktikan komitmen saya,” kenang Dewi.

Penugasan pertamanya sebagai Mantri berada di BRI Unit Sendang Agung, Lampung Tengah. Saat itu, unit tersebut masih tergolong baru. Kondisi ini membuat Dewi perlu membangun relasi dan basis nasabah secara aktif, termasuk mendatangi masyarakat dari pintu ke pintu.

Dari kegiatan lapangan itu, ia melihat sejumlah pedagang pasar tradisional belum terbiasa menggunakan perbankan formal. Banyak di antara mereka memilih meminjam kepada rentenir, sebuah pilihan yang dapat membebani usaha karena bunga pinjaman yang tinggi. Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan modal, melainkan juga informasi dan rasa percaya terhadap lembaga keuangan resmi.

Edukasi keuangan di tengah aktivitas pasar

Dewi kemudian membangun pendekatan langsung kepada pedagang. Ia berbaur dengan mereka, menjelaskan layanan keuangan secara bertahap, serta mengenalkan pembiayaan mikro BRI yang aman, terbuka, dan dapat dijangkau. Pendekatan personal menjadi penting karena pelaku usaha pasar umumnya menjalankan kegiatan ekonomi dengan ritme yang cepat dan kebutuhan modal yang dekat dengan kegiatan usaha sehari-hari.

Bagi pedagang kecil, pembiayaan yang jelas persyaratan dan perhitungannya dapat memberi ruang lebih besar untuk mengelola usaha. Akses layanan formal juga membantu mereka memiliki alternatif selain pinjaman tidak resmi yang berisiko menekan arus kas.

“Saya masuk mengedukasi pedagang-pedagang pasar. Kita kasih pinjaman sehingga mereka terlepas dari rentenir itu. Bagi saya pribadi, ada rasa bangga yang luar biasa ketika melihat mereka yang awalnya kesulitan, kini bisa mandiri berkat akses perbankan yang layak,” sebutnya.

Usaha tersebut menghadirkan tantangan tersendiri. Keberhasilan mengajak pedagang beralih dari rentenir ke layanan BRI sempat memunculkan ketegangan dengan para pemberi pinjaman lokal. Dewi menggambarkan situasinya sebagai “perang dingin” di area pasar. Bahkan, ia pernah menerima ajakan untuk menjalin kerja sama tidak resmi dari salah seorang rentenir.

Ajakan itu ditolaknya dengan tegas. Bagi Dewi, menjaga kepentingan nasabah dan nama baik BRI merupakan prinsip yang tidak dapat dinegosiasikan. Sikap tersebut menjadi bagian dari komitmennya dalam menjalankan tugas di tengah dinamika yang kerap muncul di lapangan.

Menjalani pekerjaan sebagai panggilan

Dedikasi Dewi selama belasan tahun berakar pada pandangannya bahwa pekerjaan Mantri memiliki arti lebih luas daripada sekadar mencari penghasilan. Ia menempatkan peran tersebut sebagai panggilan yang melekat dengan perjalanan hidupnya bersama BRI.

“Bagi saya, bekerja sebagai Mantri BRI bukan sekadar profesi untuk mencari nafkah, melainkan sebuah panggilan jiwa yang telah menjadi bagian dari diri saya. BRI sudah menjadi darah daging bagi saya selama hampir 15 tahun ini," ujarnya.

Ia menyebut rasa syukur serta fokus untuk memberi yang terbaik bagi keluarga dan kemajuan nasabah sebagai sumber ketahanan dalam menjalani pekerjaan. Pendampingan yang konsisten kepada debitur mikro juga memperlihatkan bahwa hubungan bank dengan pelaku usaha tidak berhenti pada proses pemberian pinjaman. Pemahaman terhadap kondisi usaha, kemampuan membayar, dan kebutuhan pembiayaan menjadi bagian penting agar akses keuangan benar-benar memberi manfaat.

Di sektor mikro dan UMKM, kedekatan petugas dengan masyarakat dapat membantu layanan keuangan lebih mudah dipahami dan diakses. Kehadiran Mantri di lapangan membuat kebutuhan pengusaha kecil dapat dikenali secara lebih langsung, terutama bagi warga yang sebelumnya belum familiar dengan produk perbankan.

Corporate Secretary BRI Dhanny menegaskan bahwa penguatan peran Mantri merupakan bagian dari upaya BRI mempertahankan kedekatan dengan segmen mikro serta UMKM.

“Mantri menjadi salah satu ujung tombak BRI dalam menjangkau pelaku usaha secara langsung. Kehadiran mereka membantu BRI memahami kebutuhan nasabah dengan lebih dekat sekaligus memastikan akses pembiayaan dan layanan keuangan dapat benar-benar memberikan manfaat bagi perkembangan usaha masyarakat,” ujar Dhanny.

Kisah Dewi Natalia menunjukkan arti pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan. Dari membangun kepercayaan pedagang di pasar hingga mengelola ratusan debitur aktif, pekerjaannya memperlihatkan bagaimana akses layanan keuangan formal dapat menjadi salah satu penopang bagi kemandirian usaha masyarakat.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is 14 Tahun Mengabdi sebagai Mantri BRI Dewi?

14 Tahun Mengabdi sebagai Mantri BRI Dewi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does 14 Tahun Mengabdi sebagai Mantri BRI Dewi matter?

14 Tahun Mengabdi sebagai Mantri BRI Dewi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.