Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Strategy: Integrasi Karet–BNI City Ditargetkan Beroperasi 28 September 2026

Published July 9, 2026 · Updated July 9, 2026 · By Daniel Johnson

Key Strategy: Integrasi Karet–BNI City Ditargetkan Beroperasi 28 September 2026

Key Strategy - Sebagai Key Strategy utama, PT Kereta Api Indonesia (Persero) telah menetapkan target operasional untuk integrasi antara Stasiun Karet dan Stasiun BNI City pada tanggal 28 September 2026. Langkah strategis ini merupakan bagian dari upaya peningkatan layanan KRL Jabodetabek yang mencakup penataan alur perjalanan pelanggan, penguatan aspek keselamatan operasi, serta perbaikan akses di kawasan sekitar kedua stasiun tersebut. Implementasi Key Strategy ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi perjalanan komuter harian.

Data Perjalanan Pelanggan yang Signifikan

Berdasarkan rekaman data dari KAI, kawasan Karet dan BNI City termasuk dalam kategori titik layanan dengan volume aktivitas pelanggan yang sangat tinggi. Pada periode Semester I tahun 2026, Stasiun Karet berhasil mencatatkan sebanyak 7.257.442 aktivitas gate in dan gate out. Sementara itu, Stasiun BNI City yang juga dikenal sebagai Sudirman Baru mencatatkan angka 2.688.254 aktivitas serupa.

Jika digabungkan, kedua stasiun tersebut telah melayani total 9.945.696 aktivitas naik dan turun pelanggan selama periode Januari hingga Juni 2026. Tren positif ini juga terlihat pada tahun sebelumnya. Pada tahun 2025, Stasiun Karet melayani 21.956.607 aktivitas perjalanan pelanggan, sedangkan BNI City atau Sudirman Baru melayani 7.132.683 aktivitas. Total keseluruhan untuk tahun 2025 mencapai 29.089.290 aktivitas naik turun pelanggan di kawasan ini. Angka-angka ini menjadi dasar Key Strategy integrasi yang dipilih KAI.

Peran Strategis BNI City dalam Komuter

Stasiun BNI City atau Sudirman Baru memiliki peran yang semakin krusial sebagai salah satu titik layanan Commuter Line Basoetta. Selama Semester I 2026, lini kereta ini berhasil melayani 1.197.413 pelanggan, menunjukkan peningkatan sebesar 12,71% dibandingkan dengan Semester I 2025 yang hanya mencapai 1.062.415 pelanggan. Dengan fungsi strategis tersebut, integrasi Karet–BNI City dirancang untuk memperkuat alur perjalanan pelanggan di kawasan yang melayani komuter harian, perpindahan antarmoda transportasi, serta akses menuju Bandara Soekarno-Hatta. Key Strategy ini juga mempertimbangkan pertumbuhan penumpang yang konsisten.

Penataan Fasilitas dan Akses

Dalam rencana integrasi yang telah disusun, area Stasiun Karet akan dialihfungsikan menjadi concourse atau ruang penghubung utama menuju Stasiun BNI City. KAI juga telah menyiapkan fasilitas travelator berpendingin udara untuk memastikan perpindahan pelanggan menuju BNI City berlangsung lebih nyaman. Aktivitas gate-in dan gate-out pelanggan ke depannya akan dipusatkan di Stasiun BNI City, sementara kawasan Karet tetap difungsikan sebagai akses pendukung yang tertata dengan baik.

Integrasi Karet dan BNI City kami siapkan untuk membuat perjalanan pelanggan lebih aman dan lebih nyaman. KAI juga memahami bahwa kawasan ini hidup bersama aktivitas masyarakat, mulai dari pejalan kaki, pengantar dan penjemput, ojek pangkalan, ojek daring, hingga pelaku usaha sekitar. Karena itu, penataannya harus dilakukan dengan baik, bertahap, dan tetap mendengar masukan.

Ungkapan tersebut disampaikan oleh Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, yang menjelaskan bahwa rencana integrasi ini disiapkan dengan prinsip kehati-hatian. Hal ini mengingat Stasiun Karet telah menjadi bagian integral dari aktivitas harian banyak pelanggan dan masyarakat sekitar. Bobby menambahkan bahwa jarak yang sangat berdekatan antara kedua stasiun memengaruhi pola operasi perjalanan kereta api secara signifikan. Pendekatan ini sejalan dengan Key Strategy jangka panjang KAI.

Pendekatan Solutif untuk Semua Pihak

Menurut Bobby, integrasi ini didorong oleh kebutuhan keselamatan dan pelayanan yang lebih baik. Aktivitas naik turun, pengantaran, dan penjemputan pelanggan di sekitar Stasiun Karet perlu ditata ulang agar lebih aman bagi pelanggan, pengguna jalan, serta masyarakat sekitar.

Kami ingin menyelesaikan persoalan ini dengan pendekatan yang solutif. Pelanggan membutuhkan akses yang mudah, masyarakat sekitar membutuhkan kepastian ruang, dan operasi kereta api membutuhkan alur yang aman. Integrasi ini harus menjawab ketiganya.

Bobby juga menekankan bahwa data menunjukkan bahwa penataan Karet dan BNI City perlu dilihat secara utuh sebagai kebutuhan perjalanan harian masyarakat, keselamatan operasi, serta aktivitas ekonomi di sekitar kawasan. Ia menyatakan bahwa angka pelanggan di kawasan ini sangat besar, sehingga setiap perubahan harus disiapkan dengan cermat. KAI ingin pelanggan tetap mudah mengakses layanan, sementara lingkungan sekitar juga ditata agar lebih rapi, aman, dan nyaman. Key Strategy ini menjadi fondasi transformasi kawasan transportasi.

KAI akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan terkait untuk memastikan penataan kawasan berjalan selaras. Koordinasi tersebut mencakup pengaturan akses pejalan kaki, area pengantaran dan penjemputan, pergerakan ojek pangkalan dan ojek daring, serta kegiatan masyarakat yang selama ini berada di sekitar Stasiun Karet. Bobby menegaskan bahwa KAI akan menyiapkan masa transisi dengan informasi yang jelas kepada pelanggan, termasuk petunj