Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Akhir pekan – Banjarmasin bikin edukasi gigi & mulut di kebun binatang

Published June 15, 2026 · Updated June 15, 2026 · By Patricia Hernandez

Akhir Pekan, Banjarmasin Menggelar Edukasi Gigi dan Mulut di Kebun Binatang

Kegiatan Pendidikan Kesehatan untuk Anak-Anak di Taman Satwa Jahri Saleh

Akhir pekan - Minggu (14/6), Pemerintah Kota Banjarmasin mengadakan acara edukasi tentang kesehatan gigi dan mulut di Taman Satwa dan Edukasi Jahri Saleh. Acara ini diselenggarakan bersama Tim Penggerak PKK, Puskesmas, serta Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Gusti Hasan Aman. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama orang tua dan anak-anak, mengenai pentingnya perawatan gigi sejak dini. Pada kesempatan ini, para peserta diharapkan memahami cara merawat gigi agar tidak terkena karies, yang menjadi masalah utama di Kalimantan Selatan.

Kalimantan Selatan dikenal memiliki angka prevalensi karies gigi yang cukup tinggi. Menurut data terkini, wilayah ini berada di peringkat ketiga secara nasional dalam hal tingkat kejadian kasus gigi berlubang. Kondisi ini memicu kebutuhan edukasi yang lebih intensif, terutama di kalangan anak-anak yang masih rentan terhadap gangguan kesehatan gigi. Dengan mengadakan acara di lingkungan kebun binatang, pihak penyelenggara berharap menarik perhatian lebih banyak peserta, karena lokasi yang ramah dan interaktif.

Berbagai Aktivitas untuk Membangun Kesadaran

Dalam acara yang berlangsung sejak pagi hari hingga sore hari tersebut, berbagai kegiatan diadakan untuk menyampaikan informasi secara menyenangkan. Salah satu bagian utama adalah demonstrasi teknik menyikat gigi yang benar, yang diperagakan oleh para dokter gigi dan tenaga kesehatan dari RSGM Gusti Hasan Aman. Selain itu, peserta juga diberikan sesi konsultasi langsung mengenai cara memilih alat perawatan gigi yang tepat, serta tips untuk mengatasi masalah seperti gigi berlubang atau sensitivitas gigi.

Kebun binatang Jahri Saleh menjadi tempat yang unik untuk kegiatan ini. Para peserta bisa menikmati interaksi langsung dengan satwa-satwa, sekaligus memperoleh edukasi tentang kesehatan. Taman satwa ini tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga digunakan sebagai media pembelajaran yang terpadu. Kegiatan ini menunjukkan komitmen Banjarmasin dalam mengintegrasikan pendidikan kesehatan dengan lingkungan alam yang menarik.

Partisipasi Aktif dari Masyarakat

Acara tersebut menarik antusiasme dari banyak orang tua dan anak. Ratusan peserta hadir, termasuk anak usia 5 hingga 12 tahun yang menjadi fokus utama. Anak-anak diberi kesempatan untuk bermain dan belajar bersamaan, seperti melalui permainan interaktif yang mengenalkan struktur gigi atau cara menghindari makanan yang berisiko. Orang tua juga diberikan materi mengenai pola makan yang sehat dan pentingnya rutin memeriksa gigi anak.

Kegiatan ini menekankan bahwa kesehatan gigi bukan hanya tugas dokter gigi, tetapi juga tanggung jawab bersama. Dengan melibatkan masyarakat secara langsung, harapan besar ditempatkan pada perubahan perilaku jangka panjang. "Mereka bisa memahami bahwa gigi sehat adalah kunci untuk tumbuh kembang yang optimal," ujar salah satu peserta yang hadir. Hal ini diperkuat oleh partisipasi aktif dari pelajar dan warga setempat yang memanfaatkan acara untuk belajar lebih dalam tentang pentingnya perawatan gigi sejak usia dini.

Kolaborasi untuk Meningkatkan Kesehatan Publik

Kolaborasi antara Pemerintah Kota Banjarmasin, PKK, Puskesmas, dan RSGM Gusti Hasan Aman menciptakan program yang komprehensif. Tim penggerak PKK berperan dalam mengkoordinasikan kegiatan, sementara Puskesmas memberikan layanan konsultasi dan pemeriksaan. Sementara itu, RSGM Gusti Hasan Aman menyediakan fasilitas medis serta pendidikan kesehatan yang lebih spesifik. Semua pihak berharap bahwa acara ini menjadi awal dari upaya jangka panjang untuk memperbaiki kesehatan gigi masyarakat.

Pembuatan kebun binatang Jahri Saleh juga menjadi angin segar bagi pendidikan kesehatan. Tempat ini dianggap sebagai ruang yang ideal untuk menggabungkan pembelajaran tentang satwa dan kesehatan. "Kebun binatang adalah lingkungan yang penuh makna. Anak-anak bisa belajar sambil bermain, dan ini membantu mereka mengingat informasi lebih lama," kata seorang peserta yang hadir. Kegiatan semacam ini diharapkan menjadi model yang bisa diadopsi oleh kota lain di Indonesia.

Perspektif Lingkungan dan Kesehatan

Menurut para ahli, kebun binatang bukan hanya tempat untuk memperkenalkan kehidupan hewan, tetapi juga bisa menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai kesehatan secara alami. Dengan menempatkan edukasi gigi di sini, peserta tidak hanya mendapat informasi dari dokter gigi, tetapi juga belajar mengenai pentingnya kebersihan dan kebersihan lingkungan sekitar. "Kebutuhan akan kesehatan gigi harus ditemani oleh kesadaran tentang lingkungan," tambah salah satu pelaku kegiatan.

Kegiatan ini juga diharapkan meningkatkan aksesibilitas layanan kesehatan gigi, terutama untuk masyarakat yang tinggal di daerah terpencil. Dengan menggabungkan layanan medis dan edukasi di tempat yang ramah, peserta bisa merasakan kegiatan tersebut lebih menarik dan menyenangkan. Acara ini menjadi bentuk inisiatif daerah dalam mendorong kesadaran masyarakat mengenai masalah kesehatan yang sering diabaikan.

"Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perawatan gigi sejak dini. Dengan berlokasi di kebun binatang, anak-anak bisa belajar tanpa merasa kaku," kata Latif Thohir, salah satu fotografer kegiatan.

Di sisi lain, Satrio Giri Marwanto, rekan fotografer, menekankan bahwa penyelenggaraan di lingkungan alamiah membantu membangun kepercayaan peserta terhadap informasi yang disampaikan. "Kebun binatang adalah tempat yang penuh makna. Anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga belajar cara menjaga kesehatan gigi dengan cara yang menyenangkan," tambah Nanien Yuniar, fotografer lain yang hadir.

Keberhasilan acara ini juga tergantung pada partisipasi aktif dari seluruh pihak. Dengan adanya kolaborasi antara lembaga pemerintah dan swasta, pendidikan kesehatan bisa diter