Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

BEM Bersatu tolak gerakan mahasiswa ditunggangi politik praktis

Published June 16, 2026 · Updated June 16, 2026 · By Robert Davis

BEM Bersatu Tolak Gerakan Mahasiswa Ditunggangi Politik Praktis

BEM Bersatu tolak gerakan mahasiswa ditunggangi - Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bersatu secara resmi menolak penggunaan gerakan mahasiswa sebagai alat untuk mendorong kepentingan politik praktis. Dalam sebuah pernyataan resmi yang dikeluarkan di Jakarta pada Selasa (16/6), kumpulan organisasi mahasiswa tersebut menyatakan bahwa aksi-aksi yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa belakangan ini terkesan diarahkan oleh pihak-pihak yang ingin memanfaatkan momentum kampus untuk kepentingan kebijakan politik tertentu.

Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap berbagai tuntutan dan isu yang selama ini dianggap oleh BEM Bersatu sebagai upaya memperkuat dominasi satu pihak dalam politik nasional. Menurut pernyataan mereka, tindakan seperti demonstrasi atau kampanye yang dilakukan oleh mahasiswa tidak lagi mencerminkan aspirasi kampus secara utuh, melainkan disisipi tujuan untuk memengaruhi pilihan politik publik secara luas.

Alasan Penolakan dan Tuntutan

Dalam keterangan pers, BEM Bersatu menyampaikan sejumlah dugaan serta tuntutan terhadap praktik tersebut. Pihak mereka menilai bahwa sejumlah organisasi mahasiswa yang tergabung dalam gerakan massa belakangan ini terkadang terlihat tidak netral. Misalnya, kebijakan yang diusulkan atau pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh mahasiswa dianggap lebih mencerminkan kepentingan kelompok tertentu daripada kebutuhan masyarakat luas.

“Kami menilai bahwa beberapa aksi yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa tidak lagi berlandaskan pada kepentingan akademik atau aspirasi mahasiswa secara mandiri, tetapi justru dipengaruhi oleh agenda politik yang ingin meraih dukungan dari kalangan muda,” ujar perwakilan BEM Bersatu dalam keterangan pers.

Dalam pernyataan tersebut, BEM Bersatu juga menyoroti peran mahasiswa sebagai garda depan perubahan sosial. Mereka menekankan bahwa kemampuan mahasiswa untuk menjadi motor pergerakan harus didasari oleh keputusan yang objektif, transparan, dan mewakili suara rakyat secara adil. Jika gerakan mahasiswa dianggap hanya sebagai alat politik, maka akan mengurangi kredibilitas dan kelayakan peran mereka dalam membangun kebijakan nasional.

Organisasi BEM Bersatu menawarkan beberapa solusi untuk mengatasi masalah ini. Pertama, mereka mengusulkan adanya koordinasi lebih baik antara lembaga-lembaga mahasiswa dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam politik. Kedua, diperlukan kebijakan transparansi dalam pengambilan keputusan gerakan mahasiswa, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan karena tidak disebutkan dalam agenda akhir. Ketiga, BEM Bersatu menginginkan mahasiswa kembali menjadi pusat perhatian, bukan alat untuk mencapai tujuan politik praktis.

Respons dari Pihak Terkait

Sejumlah anggota BEM Bersatu menyatakan bahwa penolakan ini bukanlah tindakan keras, melainkan upaya untuk menjaga konsistensi dan kredibilitas organisasi mereka. “Kami tidak menolak mahasiswa melakukan aksi, tetapi kami khawatir jika aksi tersebut justru dijadikan sarana untuk membangun hubungan politik yang berimbang,” tambah seorang anggota dalam wawancara terpisah.

Sementara itu, pihak-pihak yang terlibat dalam gerakan mahasiswa menyambut respons BEM Bersatu dengan santai. Mereka menegaskan bahwa aksi yang dilakukan oleh mahasiswa selama ini memang diarahkan oleh kepentingan politik, tetapi hal ini dilakukan untuk menyelesaikan isu-isu yang mendesak seperti korupsi, kebijakan pendidikan, atau isu sosial lainnya. “Tidak semua aksi mahasiswa dianggap sebagai manipulasi. Kami percaya bahwa partisipasi dalam politik adalah bentuk kemampuan untuk berkontribusi pada masa depan bangsa,” kata salah satu perwakilan dalam pernyataan mereka.

Perdebatan ini menggambarkan dinamika kompleks dalam dunia organisasi mahasiswa. Sementara BEM Bersatu mempertahankan prinsip netralitas dan transparansi, pihak lain menganggap bahwa keikutsertaan mahasiswa dalam politik praktis adalah bagian dari proses demokrasi yang wajar. Menurut seorang analis politik, situasi ini bisa berujung pada penguatan solidaritas antar organisasi mahasiswa, asalkan keputusan yang diambil tetap berlandaskan pada kepentingan bersama.

Beberapa tokoh dari kalangan akademik juga menilai bahwa BEM Bersatu memiliki keunggulan dalam menyampaikan kepentingan mahasiswa secara kolektif. Mereka mengatakan bahwa jika organisasi ini mampu mempertahankan koordinasi yang baik, maka kontribusi mahasiswa dalam berbagai isu nasional akan semakin berpengaruh. “Kami menyetujui bahwa mahasiswa harus terlibat dalam politik, tetapi mereka perlu memastikan bahwa setiap langkah yang diambil jelas dan tidak memihak,” kata dosen politik dari sebuah universitas ternama.

Dalam konteks ini, BEM Bersatu diharapkan bisa menjadi pihak yang menjembatani antara aspirasi kampus dan kepentingan nasional. Dengan memperkuat prinsip transparansi dan keadilan, mereka bisa menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa tidak hanya sekadar alat, tetapi juga menjadi bagian dari kekuatan sosial yang berpengaruh. Selain itu, pernyataan mereka ini bisa menjadi dasar bagi evaluasi lebih lanjut terhadap cara-cara yang digunakan oleh gerakan mahasiswa dalam memperjuangkan isu-isu yang relevan.

Sumber: Setyanka Harviana Putri, Ryan Rahman, Rayyan, dan Rijalul Vikry.