BPBD Jember asah kemampuan personel tangani korban bencana
BPBD Jember Tingkatkan Kemampuan Personel dalam Tangani Korban Bencana
BPBD Jember asah kemampuan personel tangani - Sebagai langkah untuk meningkatkan kesiapan dalam menghadapi bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember, Jawa Timur, melaksanakan pelatihan keterampilan pertolongan korban bencana alam. Kegiatan ini dilakukan dalam kerja sama dengan Basarnas serta tim medis Rumah Sakit Daerah (RSD) Jember, Sabtu (13/6). Pelatihan yang mencakup mendayung, pertolongan korban kecelakaan air, dan penanganan kasus gawat darurat ini bertujuan memperkuat kapasitas personel BPBD dalam mengambil tindakan cepat saat bencana terjadi.
Peserta Pelatihan dan Peran Masing-Masing Tim
Kegiatan yang dihadiri oleh sekitar 50 peserta ini melibatkan tiga tim utama: Tim Reaksi Cepat (TRC), Tim Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), dan Tim Pengkajian Kebutuhan Pasca Bencana (Jitupasna). TRC bertugas memberikan pertolongan langsung kepada korban bencana, sementara SPAB fokus pada sosialisasi dan edukasi masyarakat tentang mitigasi risiko. Jitupasna, di sisi lain, memastikan penanganan kebutuhan korban bencana setelah kejadian.
Menurut Kepala BPBD Jember, pelatihan ini merupakan bagian dari upaya rutin untuk meningkatkan kualifikasi para personel. "Kemampuan mengendalikan situasi darurat dan memahami prosedur medis menjadi penting, terutama di wilayah yang rentan terhadap banjir, longsor, dan gempa," jelasnya. Ia menekankan bahwa pelatihan ini dilakukan secara berkala untuk memastikan para peserta tetap siap dan terampil.
Konten Pelatihan dan Teknik yang Dibahas
Pelatihan kali ini mengutamakan keterampilan dasar dan praktis, seperti teknik mendayung untuk mengangkut korban bencana dari lokasi kejadian. Selain itu, para peserta juga belajar cara mengevakuasi korban kecelakaan air menggunakan perahu karet dan alat bantu khusus. Modul pertolongan korban kecelakaan air meliputi penanganan luka, pemberian pertolongan pertama, serta penguasaan posisi yang aman untuk mencegah penyebaran penyakit.
Di bagian lain, pelatihan menekankan penanganan korban gawat darurat, termasuk pemeriksaan kondisi kritis dan penggunaan peralatan medis sederhana. Peserta juga diberikan penjelasan tentang koordinasi antar tim dan komunikasi efektif saat bencana mengancam. "Dengan adanya pelatihan seperti ini, kita bisa mempercepat proses evakuasi dan meningkatkan kualitas pertolongan," ujar salah satu pelatih dari Basarnas.
Kolaborasi dengan Instansi Terkait
BPBD Jember memperkuat sinergi dengan Basarnas dan RSD Jember untuk memastikan keselarasan metode dan pengetahuan. Basarnas berperan dalam menyampaikan teknik penyelamatan di air, termasuk cara mengenali tanda-tanda korban yang membutuhkan bantuan darurat. Sementara RSD Jember menyediakan pelatihan medis dasar dan penanganan kasus luka-luka. "Kolaborasi ini membantu kita menggabungkan keahlian darurat dan kesehatan, sehingga layanan yang diberikan lebih terpadu," terang salah satu perwakilan RSD.
Kepala RSD Jember menambahkan bahwa pelatihan bersama ini juga memberikan kesempatan untuk menguji kemampuan para personel dalam lingkungan simulasi. "Kami berharap mereka bisa mempraktikkan teknik-teknik yang diajarkan selama kejadian nyata, baik di darat maupun air," katanya. Simulasi tersebut melibatkan berbagai skenario seperti korban terjebak di alur air dan korban yang mengalami luka berat.
Hasil dan Harapan Masa Depan
Setelah pelatihan, para peserta menyatakan merasa lebih percaya diri dalam menghadapi situasi darurat. "Saya berharap pelatihan ini bisa diperluas ke berbagai wilayah di Jember, agar semua tim BPBD siap menghadapi bencana secara optimal," kata seorang anggota TRC. Ia menyoroti pentingnya latihan berkala dalam mengatasi kejadian bencana yang semakin sering terjadi di daerah tersebut.
Kepala BPBD Jember juga menyampaikan rencana untuk mengadakan pelatihan serupa setiap bulan. "Kami ingin membangun kapasitas yang lebih kuat, terutama dalam menghadapi bencana besar seperti banjir bandang atau tsunami," jelasnya. Ia menegaskan bahwa kesiapan personel menjadi fondasi utama dalam menekan korban jiwa dan kerugian material saat bencana terjadi.
Hamka Agung Balya/Satrio Giri Marwanto/Amita Putri Caesaria
Menurut laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jember termasuk daerah yang rawan bencana. Dengan adanya pelatihan yang terstruktur, BPBD berharap bisa menjadi garda depan dalam menjaga keselamatan warga. Selain itu, pelatihan ini juga menjadi sarana untuk meningkatkan kemitrahan dengan instansi lain, seperti Basarnas dan RSD, dalam menghadapi situasi darurat yang kompleks.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, para peserta diberi latihan nyata, termasuk mengevakuasi korban dari air menggunakan perahu karet dan mempraktikkan tindakan pertolongan pertama. Pelatihan ini berlangsung di lingkungan terbuka di Desa Banyubendu, Kecamatan Waru, sebagai simulasi kondisi nyata. "Lokasi ini dipilih karena sering menjadi titik kritis saat banjir terjadi," tambah Kepala BPBD.
Kelengkapan peralatan dan keterampilan personel menjadi fokus utama selama pelatihan. BPBD juga mengadakan evaluasi akhir untuk memastikan semua peserta memahami materi yang diberikan. "Hasil evaluasi akan digunakan sebagai dasar peningkatan program pelatihan di masa depan," kata salah satu peserta. Ia menambahkan bahwa seluruh tim akan terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang berpotensi memicu bencana.
Sebagai bagian dari upaya ini, BPBD Jember juga menyusun rencana kerja bersama dengan instansi terkait. "Kami ingin menyelesaikan pelatihan tingkat lanjut pada akhir tahun ini, yang akan melibatkan lebih banyak anggota dan cakupan wilayah yang lebih luas," kata Kepala BPBD. Ia menekankan bahwa kesiapan tanggap darurat menjadi prioritas dalam kebijakan penanggulangan bencana daerah.