Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Khofifah dorong Muslimat NU bertransformasi ke dakwah digital

Published July 12, 2026 · Updated July 12, 2026 · By David Garcia

Khofifah Indar Parawansa Mengajak Muslimat NU Manfaatkan Teknologi Digital untuk Dakwah

Transformasi Digital dalam Komunikasi Keagamaan

Khofifah dorong Muslimat NU bertransformasi ke dakwah - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan ajakan penting kepada seluruh anggota Muslimat Nahdlatul Ulama agar memanfaatkan kemajuan teknologi digital sebagai sarana dakwah yang efektif. Dalam era modern ini, pemanfaatan platform digital dinilai memiliki potensi besar untuk memperluas jangkauan pesan-pesan keagamaan kepada masyarakat yang lebih luas dan beragam. Langkah ini menjadi semakin relevan mengingat perubahan perilaku masyarakat yang semakin banyak berinteraksi melalui media sosial dan platform online.

Menurut Gubernur Khofifah, transformasi menuju dakwah digital bukan sekadar tren sesaat, melainkan kebutuhan strategis yang harus diadopsi oleh organisasi keagamaan. Melalui media digital, pesan Islam dapat disampaikan dengan cara yang lebih menarik, interaktif, dan mudah diakses oleh berbagai kalangan masyarakat, termasuk generasi muda yang akrab dengan teknologi. Hal ini sejalan dengan visi untuk membuat dakwah lebih relevan dengan kondisi zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar keislaman.

Peran Kecerdasan Buatan dalam Dakwah Modern

Selain memperluas jangkauan, pemanfaatan teknologi digital juga perlu diimbangi dengan penggunaan kecerdasan buatan secara bijak dan bertanggung jawab. Khofifah menekankan bahwa artificial intelligence atau AI memiliki peran signifikan dalam mendukung efektivitas dakwah digital. Namun, penggunaannya harus tetap mengedepankan nilai-nilai etika dan prinsip-prinsip Islam yang telah lama dianut oleh umat Muslim di Indonesia.

Kecerdasan buatan dapat membantu dalam berbagai aspek dakwah, mulai dari analisis audiens, personalisasi konten, hingga otomatisasi distribusi pesan. Namun, hal ini tidak boleh menggantikan peran manusia dalam menyampaikan ajaran agama. Teknologi harus menjadi alat pendukung, bukan pengganti esensi dakwah itu sendiri. Dengan demikian, keseimbangan antara teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan menjadi kunci keberhasilan.

Etika dan Tanggung Jawab dalam Era Digital

Menurut Gubernur Khofifah, pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, menjadi langkah penting agar pesan keislaman dapat menjangkau masyarakat lebih luas dengan tetap mengedepankan etika dan tanggung jawab. Setiap konten yang dihasilkan dan disebarluaskan melalui platform digital harus sesuai dengan nilai-nilai Islam dan tidak menyesatkan umat. Ini termasuk memastikan akurasi informasi dan menghindari penyebaran hoaks yang dapat merusak citra organisasi.

Dalam konteks ini, Muslimat NU dituntut untuk tidak hanya aktif menggunakan media digital, tetapi juga memastikan bahwa setiap aktivitas dakwah digital dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Hal ini mencakup verifikasi informasi, pemilihan platform yang tepat, serta interaksi yang konstruktif dengan masyarakat. Kolaborasi antar anggota dan stakeholder terkait juga menjadi kunci keberhasilan dalam mewujudkan dakwah digital yang efektif.

Membangun Ekosistem Dakwah Digital yang Berkelanjutan

Transformasi digital dalam dakwah juga memerlukan pembangunan ekosistem yang berkelanjutan. Muslimat NU diharapkan dapat mengembangkan kapasitas sumber daya manusia dalam menguasai teknologi digital, sekaligus mempertahankan nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasi organisasi. Pelatihan dan workshop secara berkala dapat membantu meningkatkan kompetensi anggota dalam memanfaatkan berbagai platform digital untuk kegiatan dakwah.

Dengan demikian, ajakan Gubernur Khofifah kepada Muslimat NU untuk bertransformasi ke dakwah digital merupakan langkah strategis yang sejalan dengan perkembangan zaman. Melalui pemanfaatan teknologi secara optimal dan bertanggung jawab, pesan Islam dapat terus disebarluaskan kepada masyarakat luas, baik di dalam maupun luar negeri. Ini membuka peluang baru untuk memperkuat peran Muslimat NU sebagai organisasi keagamaan yang progresif dan relevan.

(Achmad Saif Hajarani/Dudy Yanuwardhana/I Gusti Agung Ayu N)