Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

BPBD Lombok Tengah siapkan 300 tangki air hadapi musim kemarau

Published Mei 23, 2026 · Updated Mei 23, 2026 · By Hendra Wijaya

BPBD Lombok Tengah Sediakan 300 Tangki Air untuk Antisipasi Musim Kemarau 2026

BPBD Lombok Tengah siapkan 300 tangki - Kabupaten Lombok Tengah, yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), tengah melakukan persiapan untuk menghadapi musim kemarau 2026. Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, Ridwan Maruf, pihaknya telah menyiapkan 300 tangki air bersih guna memenuhi kebutuhan masyarakat saat musim kering memasuki fase puncak. "Permintaan air bersih mulai terdengar di tengah persiapan menghadapi musim kemarau 2026," ujarnya pada hari Sabtu. Menurut Ridwan, prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa musim kemarau tahun ini akan lebih panjang dibandingkan tahun lalu. "Meski hujan masih terjadi, permintaan air telah mulai muncul," tambahnya, meski tingkatnya belum terlalu tinggi.

"Berdasarkan informasi dari BMKG, musim kemarau 2026 diprediksi lebih panjang dari musim kemarau 2025. Kondisi saat ini memang masih berupa hujan, tetapi permintaan air sudah ada meskipun jumlahnya belum banyak,"

Dalam kesempatan yang sama, Ridwan menyebutkan bahwa distribusi air bersih yang dilakukan BPBD telah mencapai tujuh tangki hingga bulan Mei. "Stok air yang disalurkan saat ini berasal dari beberapa kecamatan seperti Pujut, Praya Timur, dan Jonggat," imbuhnya. Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, ia menjelaskan bahwa seiring memasuki bulan Mei, permintaan air mulai meningkat drastis. Namun, situasi hujan yang terjadi beberapa hari terakhir menimbulkan kejadian tak terduga, seperti pohon tumbang yang menghantam rumah warga di Desa Kerembong, Kecamatan Janapria. Fenomena tersebut, meski memengaruhi akses distribusi, tidak mengurangi upaya pihaknya untuk memastikan ketersediaan air bersih.

Persiapan ini dilakukan dengan strategi distribusi yang lebih terencana. Ridwan menyampaikan bahwa BPBD telah mengantisipasi kebutuhan masyarakat dengan menyediakan dua mobil armada. Kedua kendaraan tersebut akan berfungsi sebagai sarana pengantaran air jika terjadi lonjakan permintaan. "Mobil tersebut bisa digunakan sewaktu-waktu untuk menyalurkan air kepada warga yang membutuhkan," katanya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk respons cepat terhadap situasi kritis yang bisa terjadi saat musim kemarau memasuki masa puncak.

Saat ini, menurut Ridwan, stok air bersih dari dinas masih mencukupi. "Dinas memiliki stok hingga 200 tangki di PDAM dan 100 tangki yang disimpan di BPBD," jelasnya. Ketersediaan ini memungkinkan pihaknya untuk langsung mengirimkan air jika dibutuhkan. "Kami percaya bahwa stok air saat ini masih aman, sehingga bisa memenuhi permintaan selama musim kemarau," tambahnya. Dengan adanya persediaan yang cukup, BPBD berupaya memastikan akses air tidak terganggu meskipun cuaca menjadi lebih kering.

"Kami harap masyarakat mulai bijak dalam penggunaan air, agar tidak terjadi konsumsi yang berlebihan menjelang musim kemarau 2026. Kami menyarankan warga untuk melakukan penyimpanan air secara dini,"

Persiapan ini menjadi penting karena Lombok Tengah memiliki sejarah musim kemarau yang terkadang ekstrem. Dalam beberapa tahun terakhir, curah hujan tercatat fluktuatif, sehingga risiko kekeringan meningkat. Untuk mengatasi hal tersebut, BPBD menyiapkan rencana distribusi air yang lebih luas, termasuk fokus pada area yang rawan krisis air. "Kami juga mendorong masyarakat untuk melibatkan diri dalam upaya konservasi air," lanjut Ridwan. Ia menekankan bahwa antisipasi dini akan membantu mengurangi dampak negatif jika musim kemarau terjadi lebih lama dari ekspektasi.

Dalam upaya memperkuat sistem distribusi, BPBD Lombok Tengah juga melibatkan pihak lain. "Kerja sama dengan PDAM dan instansi terkait sangat penting agar stok bisa dipastikan mencukupi," kata Ridwan. Pihaknya melakukan koordinasi untuk memastikan logistik dan kebutuhan operasional terpenuhi. "Kami tidak hanya menyimpan air, tetapi juga memperbaiki sistem distribusi agar lebih efisien dan cepat," imbuhnya. Selain itu, BPBD juga berencana meningkatkan kapasitas penyimpanan air untuk menghadapi kondisi yang lebih kritis.

Musim kemarau 2026 dinilai memiliki potensi lebih besar karena kelembapan tanah berkurang. "Cuaca yang kering akan mempercepat penguapan air dan mengurangi persediaan di sumber daya alam," jelas Ridwan. Ia menambahkan bahwa BPBD telah melakukan survei kecil terhadap daerah-daerah yang sering mengalami keterbatasan air. "Hasil survei menunjukkan bahwa beberapa kecamatan membutuhkan bantuan lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya," katanya. Hal ini menjadi dasar bagi distribusi yang lebih terarah dan tidak merata.

Upaya antisipasi juga mencakup pengaturan jadwal distribusi. "Kami menyiapkan rencana saluran air yang akan diprioritaskan untuk wilayah yang paling terdampak," tutur Ridwan. Ia menjelaskan bahwa distribusi dilakukan secara bertahap, mengingat ketersediaan logistik dan keterbatasan sumber daya. "Masyarakat harus berkoordinasi dengan pihak setempat untuk memastikan distribusi berjalan lancar," katanya. Dengan adanya tangki air yang cukup, BPBD berharap bisa menjaga stabilitas pasokan air di tengah tantangan cuaca.

Selama beberapa bulan terakhir, BPBD terus memantau kondisi cuaca dan kebutuhan masyarakat. "Kami tidak hanya fokus pada persiapan saat musim kemarau tiba, tetapi juga melakukan pengawasan terhadap penyimpanan air di tingkat desa," kata Ridwan. Ia menambahkan bahwa kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga ketersediaan air menjadi faktor kunci dalam keberhasilan persiapan. "Jika masyarakat tidak bijak, kita bisa saja mengalami kekeringan yang lebih parah," imbuhnya.

Secara keseluruhan, BPBD Lombok Tengah memperlihatkan komitmen untuk mengurangi dampak musim kemarau. "Kami berharap kegiatan ini bisa meningkatkan kualitas layanan air bagi masyarakat," tutur Ridwan. Dengan persiapan yang lebih matang, pihaknya yakin masyarakat dapat tetap memperoleh air bersih meski musim kering berlangsung lebih lama. "Ini adalah upaya untuk memastikan kebutuhan air tetap terpenuhi," pungkasnya. Langkah-langkah yang diambil menunjukkan bahwa BPBD tidak hanya reaktif, tetapi juga proaktif dalam menghadapi perubahan iklim dan cuaca ekstrem.