Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Embun upas di Dieng berpotensi lebih sering pada kemarau 2026

Published July 18, 2026 · Updated July 18, 2026 · By Robert Davis

Embun Upas di Dieng Diprediksi Lebih Sering Muncul Selama Kemarau 2026

Perkiraan Cuaca yang Lebih Dingin dan Kering

Embun upas di Dieng berpotensi lebih - Purwokerto — Lembaga Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan proyeksi bahwa fenomena embun beku atau yang dikenal masyarakat sebagai embun upas di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, akan mengalami peningkatan frekuensi kemunculannya. Periode kemarau tahun 2026 diprediksi memiliki karakteristik yang lebih kering dibandingkan dengan dua tahun terakhir, yaitu 2024 dan 2025. Kondisi ini secara langsung berkontribusi terhadap kemungkinan terjadinya embun upas yang lebih sering di kawasan tersebut. Berdasarkan analisis cuaca yang dilakukan, embun upas di Dieng berpotensi muncul lebih sering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Guruh Tjiptanto, yang menjabat sebagai Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, memberikan penjelasan komprehensif terkait fenomena ini saat dihubungi dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, pada hari Sabtu. Ia menekankan bahwa suhu yang sering dilaporkan mencapai nol derajat Celsius atau bahkan minus bukanlah suhu udara secara keseluruhan, melainkan suhu minimum yang terukur pada permukaan rumput. Pengukuran ini dilakukan menggunakan termometer khusus yang diletakkan tepat di atas permukaan vegetasi.

"Suhu nol derajat atau minus memang terjadi, namun itu bukan suhu udara, melainkan suhu minimum rumput, yaitu termometer yang dipasang di permukaan rumput," tegas Guruh Tjiptanto.

Kondisi Puncak Kemarau yang Mendukung

Menurut analisis Guruh, peluang kemunculan embun upas akan meningkat signifikan apabila karakteristik musim kemarau menunjukkan tingkat keringness yang lebih tinggi atau berada di bawah kondisi normal historis. Saat ini, kawasan Dieng belum memasuki fase puncak kemarau, sehingga potensi peningkatan frekuensi embun upas masih terbuka lebar. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada bulan Agustus 2026, dengan kondisi kering yang diprediksi berlanjut hingga September. Oleh karena itu, periode Agustus hingga September menjadi waktu paling potensial bagi wisatawan dan masyarakat lokal untuk menyaksikan fenomena embun upas secara lebih intensif.

"Semakin kemaraunya kering atau di bawah normal sifatnya maka kemungkinan embun upas akan lebih sering terjadi, apalagi ini belum di puncak kemarau. Puncak kemarau di Agustus nanti, bahkan di September pun masih kering kemaraunya," ujarnya.

Karakteristik Khusus Kemarau 2026

Guruh menambahkan bahwa musim kemarau tahun 2026 diprakirakan memiliki suhu yang lebih dingin dibandingkan dengan kemarau tahun 2024 maupun 2025. Bahkan, karakteristik suhu pada tahun 2026 diperkirakan mendekati kondisi yang terjadi pada musim kemarau 2023, yang juga ditandai dengan kemunculan embun upas di kawasan Dieng. Fenomena yang dikenal masyarakat lokal sebagai "mbediding" atau saat suhu udara sangat dingin akan lebih terasa kuat pada periode Agustus hingga September. Dengan demikian, embun upas di Dieng berpotensi menjadi daya tarik wisata yang semakin menarik pada tahun depan.

"Peluang lebih dingin saat puncak kemarau sekitar Agustus. Pada Agustus hingga September 'mbediding' (fenomena saat suhu udara sangat dingin) akan lebih terasa," kata Guruh.

Panduan untuk Wisatawan

Bagi wisatawan yang berencana mengunjungi Dieng untuk menyaksikan embun upas, Guruh memberikan rekomendasi pakaian berlapis atau layering system. Sistem ini mencakup penggunaan pakaian dalam termal, sweater, hingga jaket tebal tahan angin untuk menjaga kehangatan tubuh. Aksesoris tambahan seperti kupluk yang menutup telinga, sarung tangan, syal, kaus kaki tebal, dan sepatu nyaman juga sangat disarankan. Wisatawan dengan riwayat kesehatan tertentu seperti asma, sinusitis, atau alergi terhadap udara dingin diminta membawa obat-obatan pribadi atau inhaler sebagai antisipasi.

Selain itu, udara pegunungan pada musim kemarau memiliki tingkat kekeringan yang tinggi, sehingga penggunaan pelembap kulit dan pelembap bibir menjadi penting untuk mencegah kulit maupun bibir pecah-pecah. Fenomena embun upas umumnya mulai terbentuk pada malam hari dan dapat diamati paling jelas di sekitar lapangan Kompleks Candi Arjuna pada pukul 04.00 hingga 06.00 WIB. Setelah waktu tersebut, embun upas akan mulai mencair seiring dengan naiknya posisi matahari di langit.

"Bagi wisatawan yang ingin berburu embun upas di Dieng, fenomena tersebut umumnya mulai terbentuk pada malam hari dan terlihat paling jelas di sekitar lapangan Kompleks Candi Arjuna pada pukul 04.00-06.00 WIB sebelum mencair saat matahari mulai meninggi," kata Guruh.