Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Strategy: Ahli ingatkan mitigasi gempa kembar dari pengalaman gempa Venezuela

Published July 3, 2026 · Updated July 3, 2026 · By Robert Davis

Ahli Seismologi Ingatkan Perlu Penguatan Mitigasi Gempa Kembar Berdasarkan Pengalaman Venezuela

Key Strategy - Sejumlah ahli seismologi dari Pusat Studi Gempa Sulawesi (PSGS) mengingatkan bahwa Pemerintah Indonesia sebaiknya mengambil pelajaran dari peristiwa gempa kembar yang terjadi di Venezuela pada 24 Juni 2026. Fenomena ini menunjukkan pentingnya meningkatkan upaya mitigasi bencana sebelum dan selama kejadian gempa, bukan hanya fokus pada penanganan setelah gempa berakhir. Peringatan ini disampaikan oleh Direktur PSGS, Dr. Ardy Arsad, di Makassar, Sulawesi Selatan, pada hari Rabu.

Konteks Seismologi Venezuela

Di Venezuela, seismik besar yang terjadi secara berurutan dalam rentang waktu singkat telah memperlihatkan risiko yang serius bagi wilayah yang berada di zona tectonik aktif. Pertama, gempa berkekuatan 7,2 Mw (Magnitudo Momen) mengguncang area tertentu, kemudian dalam waktu 39 detik, gempa kedua dengan kekuatan 7,5 Mw mengikuti. Fenomena ini dianggap sebagai "gempa kembar" atau earthquake doublet, yang jarang terjadi dalam sejarah seismologi global. Menurut Dr. Ardy Arsad, kejadian ini menjadi pengingat bahwa skenario seperti ini tidak boleh diabaikan dalam perencanaan mitigasi bencana.

"Peristiwa Venezuela menjadi pengingat bahwa skenario earthquake doublet (gempa kembar) tidak dapat diabaikan dalam kajian mitigasi bencana," ujarnya.

Konteks seismologi Venezuela menunjukkan bahwa gempa besar yang terjadi hampir bersamaan dapat menghasilkan dampak yang lebih parah dibandingkan gempa tunggal. Meski tidak umum, skenario ini memperlihatkan bagaimana struktur tanah dan bangunan bisa terpengaruh oleh dua gelombang gempa yang saling berdekatan. Dengan durasi hanya sekitar 40 detik, dua gempa tersebut menciptakan pola getaran yang berbeda, mengubah cara analisis risiko bencana.

Potensi Gempa Kembar di Indonesia

Indonesia, yang memiliki tiga jenis zona tectonik seperti zona subduksi, sesar geser aktif, dan sistem patahan bersegmen, juga berada di area rawan gempa kembar. Faktor ini menjadi perhatian khusus, terutama setelah peristiwa gempa di Palu, Sulawesi Tengah, yang menunjukkan bagaimana kejadian beruntun bisa mengancam kestabilan infrastruktur. Dr. Ardy Arsad menekankan bahwa beberapa sistem patahan aktif di Indonesia, seperti Sesar Palu–Koro, Sesar Sumatra, atau zona subduksi Sunda, memiliki karakteristik rupture bersegmen yang bisa memicu pelepasan energi secara berulang.

Penelitian terkini menunjukkan bahwa ruptur gempa besar tidak selalu terbatas pada satu segmen, melainkan bisa menyebar ke segmen lain. Hal ini berpotensi menghasilkan durasi guncangan yang lebih lama dan kerusakan yang lebih luas. Dengan kondisi ini, studi tentang bagaimana bangunan bersifat tahan terhadap multiple strong ground motions perlu diperluas, terutama di daerah dekat sumber gempa.

Kajian Lebih Lanjut tentang Kerusakan Akumulatif

Persoalan yang muncul adalah bagaimana dua atau lebih episode guncangan kuat yang terjadi hampir bersamaan dapat mengakibatkan kerusakan akumulatif (cumulative damage) pada struktur bangunan. Meski SNI 1726:2019 dikembangkan berdasarkan representasi satu kejadian gempa rencana (single design earthquake), standar ini mungkin tidak memadai jika menghadapi skenario gempa kembar. Menurut Dr. Ardy Arsad, pendekatan saat ini memberikan tingkat keselamatan yang memadai untuk sebagian besar kondisi, tetapi kurang mengantisipasi skenario pembebanan ekstrem.

"Pendekatan tersebut telah memberikan tingkat keselamatan yang baik untuk sebagian besar kondisi, namun fenomena gempa kembar menunjukkan adanya skenario pembebanan ekstrem yang belum banyak dievaluasi secara khusus," tuturnya.

Kajian lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi apakah dampak dari dua episode gempa berurutan bisa memperparah kerusakan pada bangunan. Faktor ini penting karena kejadian serupa bisa menyebabkan penurunan kekakuan struktur, degradasi kapasitas, hingga keruntuhan meskipun bangunan sudah memenuhi standar desain. Khususnya, bangunan kritis seperti rumah sakit, jembatan, bendungan, pembangkit listrik, pelabuhan, dan fasilitas vital lainnya perlu dianalisis lebih dalam.

Perluasan penelitian ini juga membuka peluang untuk memahami bagaimana mekanisme rupture bersegmen bisa memengaruhi pola guncangan. Sesar Palu–Koro, misalnya, merupakan salah satu zona yang berpotensi menghasilkan gempa berulang. Sementara itu, zona subduksi Sunda yang terletak di sekitar lepas Samudra Hindia memiliki risiko gempa besar yang mungkin berdampingan dengan peristiwa lain. Studi mengenai cumulative damage yang sebelumnya terbatas perlu diperkaya untuk memperkuat sistem ketahanan gempa nasional.

Menurut Dr. Ardy Arsad, Indonesia berada di posisi unik karena menggabungkan berbagai jenis struktur patahan yang bisa menyebabkan peristiwa gempa kembar. Hal ini memperkuat kebutuhan untuk menerapkan pendekatan yang lebih holistik dalam mitigasi bencana. Tidak hanya penanganan pascagempa, tetapi juga persiapan sebelum kejadian, seperti pengaturan kawasan rawan, penguatan infrastruktur, dan simulasi skenario terburuk.

Dengan memahami bagaimana gempa kembar berdampak pada bangunan, para ahli bisa merancang standar yang lebih mumpuni. Misalnya, konsep desain yang mempertimbangkan gempa ganda bisa mengurangi risiko kehilangan fungsi kritis pada struktur yang vital. Perluasan kajian ini juga memungkinkan pemerintah mengidentifikasi titik rawan yang perlu diutamakan dalam rencana pemulihan dan mitigasi.

Kajian tentang multiple strong ground motions tidak hanya penting untuk bangunan tetap, tetapi juga untuk bangunan portabel seperti tenda pengungsian atau alat transportasi darurat. Dr. Ardy Arsad menyebutkan bahwa kerusakan akumulatif bisa menyebabkan kelemahan yang tidak terlihat sebelumnya, terutama jika bangunan telah terkena gempa sebelumnya. Untuk itu, pendekatan yang lebih integratif diperlukan, termasuk kolaborasi