Fukushimask
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Main Agenda: Kemdiktisaintek-Pertamina kolaborasi perkuat SDM ketahanan energi

Published July 3, 2026 · Updated July 3, 2026 · By Joseph Wilson

Kemdiktisaintek-Pertamina kolaborasi perkuat SDM ketahanan energi

Main Agenda - Kota Jakarta menjadi pusat perhatian dalam upaya pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang menjadi fondasi penting untuk transisi energi nasional. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta PT Pertamina (Persero) telah menggali peluang kerja sama strategis untuk mendorong pertumbuhan industri energi dalam negeri. Kerja sama ini mencakup penguatan SDM melalui pendidikan vokasi, serta pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) seperti PLTS 100 Gigawatt (GW) dan energi panas bumi. Pihak berwenang menyatakan bahwa langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) yang diimpor, sekaligus meningkatkan keberlanjutan energi nasional.

Pengembangan SDM sebagai Kunci Transisi Energi

Menurut Mendiktisaintek Brian Yuliarto, penguatan SDM di sektor energi merupakan komponen strategis dalam mencapai target transisi energi. Ia menjelaskan bahwa pergeseran dari energi fosil ke EBT memerlukan tenaga kerja yang terampil dan ketersediaan sumber daya yang optimal. "Kita perlu mempercepat pengurangan impor BBM, terutama untuk pembangkit diesel yang masih mengandalkan solar," ujar Brian dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat lalu. Ia menambahkan, kebijakan elektrifikasi juga meningkatkan permintaan terhadap PLTS, sehingga memerlukan kajian yang mendalam tentang pemanfaatan SDM dalam bidang energi.

"Salah satu program yang diharapkan pemerintah adalah mempercepat pengurangan impor BBM, terutama untuk pembangkit-pembangkit diesel yang masih mengkonsumsi solar. Seiring dengan kebijakan elektrifikasi, kebutuhan terhadap pembangkit PLTS juga akan semakin besar. Ini merupakan hal yang sangat strategis, dan kita berharap program ini juga bisa membangkitkan industri maupun ekonomi di dalam negeri. Semakin besar kita bisa memproduksi sendiri dan menghasilkan sendiri, tentu akan semakin baik," ujar Mendiktisaintek Brian Yuliarto.

Menurut Brian, kajian yang disiapkan oleh Kemdiktisaintek tidak hanya berfokus pada pendidikan vokasi, tetapi juga memberikan masukan untuk penguatan kapasitas SDM secara keseluruhan. "Dengan menggali peluang EBT, kita bisa mengurangi risiko ketergantungan pada energi importir dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal," tambahnya. Ia menekankan bahwa pelaku industri energi seperti Pertamina memiliki peran penting dalam menyusun konsep-konsep inovatif yang mendukung keberlanjutan sektor energi. Salah satu contoh adalah pengembangan PLTS dalam program Dediselisasi, yang diharapkan bisa menjadi solusi untuk pengurangan ketergantungan pada bahan bakar minyak.

Pengembangan EBT untuk Penguatan Industri Nasional

Kemdiktisaintek juga mengungkapkan bahwa pengembangan EBT bisa memberikan manfaat yang lebih luas, seperti peningkatan ketahanan energi, penyerapan tenaga kerja, serta penguatan kekuatan industri dalam negeri. "Melalui pendidikan vokasi, kita bisa melatih SDM yang mampu memenuhi kebutuhan teknis dan operasional dalam bidang energi," jelas Brian. Ia menambahkan bahwa pihaknya telah menyiapkan berbagai studi untuk menjadi dasar rekomendasi kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PT PLN (Persero), Danantara, dan para pemangku kepentingan lainnya.

"Kemdiktisaintek telah memiliki berbagai kajian mengenai model pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan, sehingga hasil kajian tersebut dapat menjadi masukan apabila terdapat peluang pengembangan lebih lanjut oleh pihak yang berkepentingan," kata Mendiktisaintek Brian Yuliarto.

Menurut Brian, studi-studi ilmiah yang diproduksi oleh Kemdiktisaintek akan menjadi referensi untuk program EBT yang dijalankan oleh lembaga teknis. "Kami berharap masukan dari Pertamina bisa membantu memperkaya analisis kami mengenai kebutuhan SDM di sektor energi," ujarnya. Pertamina, sebagai pelaku utama dalam sektor energi, memiliki kontribusi signifikan dalam menyusun konsep strategis transisi energi. Dalam keterangan resmi, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menyebutkan bahwa perusahaan tersebut telah menyusun berbagai inisiatif, termasuk pengembangan PLTS, energi panas bumi, serta sistem pendidikan vokasi yang lebih efektif.

Perspektif Pertamina dalam Pembangunan SDM Energi

Agung Wicaksono menjelaskan bahwa Pertamina berkomitmen untuk memperkuat SDM di sektor energi melalui pendekatan berbasis keahlian dan inovasi. "Pengembangan PLTS dalam Program Dediselisasi merupakan bagian dari upaya memproduksi energi listrik yang lebih murah dan terjangkau," kata Agung. Ia menambahkan bahwa program ini tidak hanya mengurangi biaya energi, tetapi juga mengembangkan lapangan kerja baru, khususnya di daerah-daerah yang memiliki potensi sumber daya alam EBT. "Pertamina berharap melalui kerja sama dengan Kemdiktisaintek, kita bisa menghasilkan SDM yang siap menghadapi tantangan transisi energi," ujarnya.

"Sejumlah inisiatif Pertamina dalam mendukung transisi energi antara lain melalui pengembangan PLTS dalam Program Dediselisasi, energi panas bumi, serta penyusunan konsep pendidikan vokasi yang menjadi bagian dari penguatan kapasitas SDM di sektor energi," kata Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono.

Menurut Agung, kemitraan antara Kemdiktisaintek dan Pertamina memungkinkan penggabungan antara penelitian ilmiah dan praktik industri. "Kami telah mengidentifikasi kebutuhan SDM di sektor energi terbarukan, dan Kemdiktisaintek memiliki peran kunci dalam menyusun rekomendasi berdasarkan data yang akurat," jelasnya. Ia menekankan bahwa program transisi energi tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang kesadaran masyarakat dan kebijakan yang mendukung ekosistem SDM yang kompeten. "Dengan peningkatan keterampilan SDM, kita bisa mengurangi risiko kesenjangan energi dan meningkatkan daya saing industri nasional," tambah Agung.

Kerja sama antara kedua lembaga ini juga mencakup pelatihan khusus untuk tenaga teknis di bidang energi, termasuk bidang geotermal dan PLTS. Brian Yuliarto menyoroti bahwa keberhasilan transisi energi bergantung pada SDM yang memiliki kemampuan mengelola teknologi baru dan mengoptimalkan sumber daya lokal. "Kemdiktisaintek akan terus menggali solusi berbasis riset, sementara Pertamina fokus pada implementasi yang efektif," katanya. Ia menambahkan bahwa ker