Internasional

Main Agenda: ICRC: Ribuan jenazah di Jalur Gaza terancam tak dapat diidentifikasi

ICRC: Ribuan Jenazah di Jalur Gaza Berpotensi Tidak Bisa Diidentifikasi Main Agenda - Istanbul, 15 Oktober - Komite Palang Merah Internasional (ICRC)

Desk Internasional
Published June 15, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

ICRC: Ribuan Jenazah di Jalur Gaza Berpotensi Tidak Bisa Diidentifikasi

Main Agenda – Istanbul, 15 Oktober – Komite Palang Merah Internasional (ICRC) mengkhawatirkan bahwa ratusan ribu jenazah warga Palestina yang diduga masih terkubur di bawah reruntuhan di Jalur Gaza mungkin tidak akan pernah bisa diidentifikasi. Pernyataan ini diungkapkan dalam laporan terbaru yang disiarkan oleh The Guardian, yang menyoroti hambatan besar dalam proses pencarian dan evakuasi jenazah sejak gencatan senjata rapuh yang dipimpin Amerika Serikat mulai berlaku bulan ini. Selama konflik yang berlangsung, banyak bangunan hancur, menyisakan puing-puing yang menumpuk dan memperumit upaya pemulihan.

Berlalunya waktu telah berdampak signifikan pada kondisi jenazah. Menurut laporan, tubuh-tubuh yang ditemukan bisa mengalami pembusukan hingga tidak lagi teridentifikasi, terutama jika proses evakuasi tertunda. Pat Griffiths, juru bicara ICRC di Yerusalem, mengatakan bahwa jenazah yang berada di bawah reruntuhan selama waktu lama berisiko besar untuk menjadi sulit dikenali. “Proses identifikasi menjadi semakin sulit jika jenazah terus tertahan di bawah material bangunan yang runtuh,” ujarnya.

“Semakin lama korban berada di bawah reruntuhan, semakin besar kemungkinan mereka mengalami pembusukan tingkat lanjut, bahkan hanya tersisa kerangka saat akhirnya ditemukan,” tambah Griffiths. Ia juga mengingatkan bahwa para ahli forensik bisa kehilangan akses terhadap bukti-bukti pendukung yang selama ini digunakan untuk memastikan identitas korban. Hal ini berpotensi mengganggu proses pemulihan dan mengurangi kemampuan untuk memberi kepastian kepada keluarga.

Sejumlah warga Palestina terus menyisir area yang terkena dampak perang, mencari jenazah yang masih tersembunyi di antara tumpukan puing. Puing-puing tersebut mencapai total sekitar 61 juta ton, yang terus menumpuk sejak konflik memanas. Otoritas kesehatan di Gaza memperkirakan setidaknya 10.000 orang masih tertimbun reruntuhan, dengan kemungkinan jumlahnya mencapai 14.000 orang. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa jenazah yang ditemukan akan semakin sulit dianalisis.

Tim pencari jenazah sebagian besar mengandalkan alat sederhana, seperti sekop, beliung, gerobak dorong, garu, dan cangkul, bahkan terkadang hanya tangan kosong untuk mengevakuasi korban. Permintaan guna mengizinkan masuknya ekskavator dan alat berat lainnya untuk mempercepat proses pemulihan masih belum mendapat persetujuan. “Mesin dan peralatan berat sangat penting untuk mempercepat evakuasi, tetapi saat ini masih sulit dibawa masuk ke Gaza,” jelas Griffiths.

Menurut laporan, upaya untuk mendapatkan izin penggunaan alat berat dihadapkan pada hambatan administratif dan logistik. Griffiths menekankan bahwa akses ke seluruh lokasi yang diduga mengandung jenazah menjadi kunci untuk mengurangi risiko kehilangan bukti. “Kami terus berupaya memastikan para ahli bisa mendapatkan akses yang diperlukan, agar identifikasi bisa berjalan efisien,” katanya.

Kondisi Lingkungan dan Tantangan dalam Pemulihan

Kondisi lingkungan yang memburuk juga memperparah situasi. Cuaca, kelembapan, dan penghancuran bangunan yang terus berlangsung berpotensi mengikis bukti-bukti forensik penting. Dalam beberapa kasus, jenazah bisa berpindah tempat akibat gempa atau aktivitas pembersihan, menyulitkan pencocokan identitas. Griffiths menambahkan bahwa hilangnya barang-barang pribadi, seperti perhiasan atau dokumen, juga mengurangi kemungkinan identifikasi.

“Kami melihat besarnya tugas yang harus dilakukan dan memahami apa yang dipertaruhkan. Ribuan keluarga masih mencari jawaban mengenai nasib orang-orang yang mereka cintai. Itulah yang dipertaruhkan, yakni hak mereka untuk mengetahui nasib anggota keluarga mereka,” kata Griffiths.

Sebagai contoh, dalam proses identifikasi, para penyelidik harus membandingkan data yang diperoleh dengan informasi dari keluarga korban. Namun, jika jenazah ditemukan dalam kondisi rusak atau tidak lengkap, data tersebut bisa tidak cukup untuk memastikan identitas. Griffiths menyoroti bahwa keterlambatan dalam pemulihan berisiko menghambat upaya identifikasi jangka panjang, terutama jika bukti-bukti fisik terus menghilang.

Di sisi lain, otoritas Israel yang diwawancarai The Guardian menyatakan bahwa belum ada persetujuan untuk memasukkan peralatan berat ke Gaza. Pihak mereka mengatakan bahwa penggunaan alat-alat tersebut masih memerlukan evaluasi tambahan. “Kami sedang mengevaluasi persetujuan masuknya ekskavator, tetapi masih ada proses yang perlu dilalui,” ujar salah satu pejabat.

Griffiths mengungkapkan bahwa hal ini berdampak langsung pada kemampuan tim penyelidik untuk mempercepat pemulihan. Dengan alat sederhana, proses evakuasi memakan waktu lebih lama, menyebabkan kenaikan risiko pembusukan jenazah. Hal ini juga berpotensi memperburuk kesulitan dalam membedakan antara korban dan benda-benda yang tidak terkait.

Dalam beberapa hari terakhir, ribuan jenazah yang ditemukan telah menjadi bahan perdebatan antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Beberapa keluarga kehilangan harapan, sementara lainnya masih menunggu hasil identifikasi. Griffiths berharap persetujuan untuk mengizinkan alat berat dapat segera diberikan, agar proses evakuasi bisa berjalan lebih cepat dan efisien.

Kehadiran alat berat seperti ekskavator bisa mempercepat pencarian dan pemulihan jenazah, terutama di daerah-daerah yang terisolasi. Dengan peralatan ini, tim penyelidik bisa mengakses lokasi yang lebih dalam dan menghindari risiko kerusakan lebih lanjut pada jenazah. Griffiths menegaskan bahwa ICRC terus bekerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk mempercepat proses ini, meskipun hambatan tetap menghalangi.

Kondisi ini memperlihatkan betapa beratnya tugas yang dihadapi oleh tim penyelidik. Selain itu, proses identifikasi juga membutuhkan koordinasi yang baik antar pihak. “Kami yakin bahwa identifikasi bisa dilakukan, tetapi membutuhkan waktu dan dukungan yang lebih besar dari semua pihak,” tambah Griffiths. Ia menekankan bahwa setiap jenazah yang ditemukan memiliki nilai historis dan emosional, yang tidak bisa diremehkan.

Dengan begitu banyak jenazah yang masih terkubur, proses evakuasi dan identifikasi menjadi tanggung jawab bersama. Griffiths berharap keterlibatan semua pihak, termasuk otoritas Israel, bisa membantu mempercepat pemulihan. “Kami terus berusaha menyelesaikan masalah ini, agar keluarga korban bisa mendapatkan kepastian,” tutupnya.

Leave a Comment