Presiden Jerman Agendakan Kunjungan ke Istiqlal dan Katedral Jakarta
Meeting Results – Jakarta, Senin – Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier menyiapkan agenda kunjungan ke Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta, dengan menggunakan Terowongan Silaturahmi sebagai jalur penghubung. Tujuan utamanya adalah mengamati praktik toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia secara langsung. Selama kunjungan tersebut, Steinmeier juga akan melintasi terowongan persahabatan untuk menuju tempat ibadah lainnya.
“Kunjungan hari ini merupakan bagian dari upaya untuk melihat bagaimana nilai toleransi dihidupkan dalam masyarakat Indonesia,” ujar Steinmeier dalam pidatonya di Istana Merdeka, Jakarta.
Kegiatan ini dijadwalkan dilakukan setelah pertemuan bilateral dan makan siang resmi dengan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto. Agenda tersebut menjadi salah satu dari rangkaian kegiatan resmi yang dilakukan oleh kepala negara Jerman selama kunjungan ke Jakarta. Terowongan Silaturahmi, yang sepanjang 34 meter, menjadi simbol keharmonisan antaragama, terutama dalam konteks kota yang dikenal sebagai pusat keberagaman budaya.
Steinmeier menyatakan bahwa ia telah mengamati kondisi kerukunan antarumat beragama di Indonesia selama kunjungan sebelumnya. Dari pengalaman itu, ia menyimpulkan bahwa nilai toleransi di Indonesia tidak hanya dianut secara teori, tetapi juga diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut mantan presiden Jerman, hal ini menjadi dasar untuk memperkuat hubungan bilateral antara dua negara.
Katedral Jakarta dan Masjid Istiqlal, yang terletak di dua lokasi berbeda, berperan sebagai titik fokus dalam dialog kebudayaan dan agama. Terowongan Silaturahmi dirancang sebagai jembatan simbolis antara dua tempat ibadah ini, menunjukkan komitmen Indonesia terhadap keberagaman. Pemerintah Jerman mengapresiasi upaya pemerintah Indonesia dalam menjaga toleransi, menganggapnya sebagai contoh baik di tingkat internasional.
Terowongan Silaturahmi resmi diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 12 Desember 2024, meski hingga kini akses ke jalur tersebut belum terbuka secara umum untuk wisatawan. Aplikasi terowongan ini lebih sering digunakan dalam kegiatan kenegaraan, seperti kunjungan diplomatik atau acara resmi yang terkoordinasi dengan pengelola Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta. Pemakaian terowongan diatur agar tetap menjaga keseimbangan antara fungsi ibadah dan penghormatan terhadap tradisi lokal.
Dalam kunjungan ini, Steinmeier berharap dapat memberikan penghargaan terhadap keberagaman budaya dan keyakinan yang menjadi bagian dari identitas Indonesia. Ia menekankan bahwa isu agama dan budaya sering muncul dalam diskusi antara kedua negara, dengan fokus pada kerja sama dalam menghadapi tantangan global terkait pluralisme. “Kita memiliki kesamaan dalam menjaga nilai-nilai kehidupan beragama yang damai,” tambahnya.
Katedral Jakarta, yang merupakan gereja tertua di Asia Tenggara, dan Istiqlal, masjid yang dianggap sebagai simbol kebebasan beragama, menjadi dua landmark penting dalam sejarah kota ini. Kedua tempat ibadah ini tidak hanya memiliki nilai religius, tetapi juga menjadi pusat kegiatan sosial dan budaya. Dengan terowongan yang menghubungkan keduanya, pemerintah Indonesia menunjukkan upaya konkret untuk mempererat ikatan antarumat beragama, sekaligus menjadi media edukasi bagi masyarakat.
Steinmeier menyatakan bahwa kunjungan ke dua tempat ibadah ini merupakan bagian dari perjalanan diplomatiknya yang bertujuan memperdalam pemahaman tentang budaya dan nilai-nilai Indonesia. Ia berharap kegiatan ini dapat menginspirasi negara-negara lain untuk membangun hubungan yang lebih inklusif. “Indonesia menunjukkan bahwa toleransi bukan hanya slogan, tetapi praktik yang berkelanjutan,” katanya.
Terowongan Silaturahmi juga menjadi contoh inovasi arsitektur yang menggabungkan fungsi fiskal dan simbolis. Selain sebagai jalur akses, terowongan ini menghadirkan pengalaman unik bagi pengunjung, di mana mereka dapat melihat dua tempat ibadah yang berbeda secara visual dan budaya. Pemerintah Jerman mengapresiasi upaya Indonesia dalam menciptakan ruang yang terbuka untuk dialog antaragama, yang dianggap sebagai langkah penting dalam menghadapi isu-isu keagamaan di era modern.
Dalam perjalanan hari ini, Steinmeier juga akan memperkenalkan kebijakan-kebijakan Jerman terkait kerukunan antarumat beragama, termasuk program pendidikan dan pembangunan yang mendukung keberagaman. Ia menyoroti pentingnya kerja sama antarbudaya dalam membangun masyarakat yang lebih harmonis. “Kerja sama ini menjadi fondasi untuk pertukaran ide dan pengembangan kebijakan yang berkelanjutan,” tuturnya.
Kunjungan ini diharapkan tidak hanya menjadi simbol hubungan diplomatik, tetapi juga menjadi ajang pembelajaran bagi masyarakat internasional tentang pentingnya toleransi. Dengan membangun jembatan antaragama melalui terowongan Silaturahmi, Indonesia menunjukkan bahwa kerukunan dapat diwujudkan dalam bentuk fisik dan budaya. Steinmeier menegaskan bahwa ia siap berpartisipasi dalam upaya ini, termasuk memperkuat komitmen untuk menjaga persatuan dalam keberagaman.
