Pertemuan Strategis antara Iran dan Oman
Key Discussion – Pada 22 Juni, Mohammad Bagher Ghalibaf, anggota parlemen Iran dan utusan utama negara tersebut, mengumumkan bahwa ia akan melakukan kunjungan ke Oman untuk membahas kondisi Selat Hormuz. Pernyataan ini diberikan melalui saluran Telegram, di mana Ghalibaf menyebutkan rencana pertemuan dengan Sultan Oman, Haitham bin Tarik, selama perjalanan ini. Tujuan utama diskusi tersebut adalah untuk mengevaluasi perkembangan kerja sama bilateral antara dua negara serta meninjau langkah-langkah yang dapat membantu Iran mengelola lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Peran Mediator dalam Negosiasi dengan AS
Sebelumnya, Iran dan Amerika Serikat telah melangsungkan pertemuan di Burgenstock, Swiss, pada Minggu (21/6). Pertemuan ini diikuti oleh negosiasi dengan Qatar dan Pakistan sebagai pihak penengah. Delegasi AS dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, sementara tim Iran dipimpin oleh Ghalibaf. Dalam pertemuan tersebut, para juru bicara kedua negara menyatakan ada kemajuan dalam pembicaraan, meski rincian kesepakatan masih dirahasiakan.
Kemajuan dalam Negosiasi dengan AS
Dalam sebuah pernyataan yang diluncurkan setelah pertemuan, Esmaeil Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, menyebutkan bahwa hasil diskusi dengan AS memberikan perspektif positif untuk penyelesaian masalah yang menghambat kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Sementara itu, Vance juga menyampaikan bahwa negosiasi tersebut berjalan lancar, dengan fokus pada penyelesaian konflik militer yang dimulai pada 28 Februari lalu.
“Ghalibaf akan bertemu dengan Sultan Oman Haitham bin Tarik selama kunjungannya dan membahas perkembangan kerja sama bilateral, serta perihal bantuan untuk pengaturan Iran dalam mengelola Selat Hormuz,” demikian pernyataan Ghalibaf dalam saluran Telegram.
Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran utama bagi sekitar 20 persen dari minyak mentah dunia, telah menjadi pusat perhatian internasional akibat ketegangan antara Iran dan AS. Sejak awal bulan Februari, kejadian kapal-kapal militer AS menghalangi perjalanan kapal Iran melalui wilayah tersebut memicu krisis diplomatik yang berpotensi memengaruhi aliran energi global. Dalam konteks ini, negosiasi antara Iran dan AS dianggap sebagai langkah penting untuk mencegah eskalasi konflik.
Kesiapan untuk Kesepakatan Bersama
Pada 12 Juni 2026, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang akan menemani Ghalibaf dalam kunjungan ke Oman, menyatakan bahwa Teheran dan Muscat sedang merancang pernyataan bersama mengenai masalah Selat Hormuz. Menurut Araghchi, dokumen tersebut akan dirilis dalam waktu dekat, menunjukkan komitmen kedua negara untuk menemukan solusi bersama. Pernyataan ini memberikan petunjuk bahwa kesepakatan antara Iran dan Oman bukan hanya tentang pertahanan, tetapi juga kerja sama ekonomi dan logistik.
Di sisi lain, pada 18 Juni malam, Iran dan AS menandatangani memorandum secara jarak jauh yang mengatur pengakhiran konflik militer. Dokumen ini menetapkan tenggat waktu bagi AS untuk mencabut blokade angkatan lautnya terhadap pelabuhan Iran, sementara Iran diwajibkan memulihkan pelayaran di Selat Hormuz. Kesepakatan ini diharapkan mampu menciptakan stabilitas di kawasan yang kritis bagi ekonomi global, terutama dalam memastikan pasokan energi tetap lancar.
“Kami telah mencapai kesepakatan penting yang memungkinkan pihak-pihak terkait mengambil langkah-langkah konkret untuk mengakhiri perangkap yang mengganggu lalu lintas kapal,” jelas juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, setelah pertemuan dengan AS.
Konflik di Selat Hormuz tidak hanya mengenai masalah navigasi, tetapi juga berdampak pada keamanan dan kestabilan energi internasional. Dengan mengakui keterlibatan Oman, Iran menunjukkan upaya untuk membangun koalisi regional yang dapat mendukung kebijaksanaan negara tersebut dalam menghadapi tekanan dari pihak luar. Oman, sebagai negara Arab yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz, berperan sebagai pihak penengah yang membantu mempercepat komunikasi antara Iran dan AS.
Perkembangan Terkini dalam Perundingan
Para pemangku kebijakan Iran menekankan bahwa hasil pertemuan dengan Oman akan menjadi dasar bagi langkah-langkah lebih lanjut. Mereka menilai bahwa kesepakatan dengan AS bisa diperkuat melalui dukungan negara-negara tetangga seperti Qatar dan Pakistan, yang sejak awal menjadi mediator dalam perundingan tersebut. Dengan keterlibatan Oman, perspektif baru muncul mengenai integrasi kebijakan Iran dengan negara-negara lain di Timur Tengah.
Kunjungan Ghalibaf ke Oman juga merupakan bagian dari strategi Iran untuk meredam tekanan internasional. Dengan memperkuat hubungan bilateral, Iran berharap menunjukkan kemampuannya dalam mengelola krisis sendiri. Sementara itu, AS terus memantau perkembangan ini, memastikan bahwa semua syarat dalam memorandum yang ditandatangani telah dipenuhi. Sejumlah analis mengatakan bahwa langkah Iran dan AS ini menandai pergeseran dalam hubungan diplomatik antara keduanya.
Analisis Kesepakatan dan Dampak Global
Kesepakatan antara Iran dan AS untuk mengakhiri blokade angkatan laut di Selat Hormuz dinilai sebagai langkah konservatif yang berpotensi mengurangi risiko krisis energi. Meski tidak sepenuhnya menyelesaikan semua masalah, perjanjian ini memberikan ruang bagi negosiasi lebih lanjut, termasuk pengaturan mekanisme pelayaran yang lebih efektif. Para ekonom mengingatkan bahwa stabilitas Selat Hormuz sangat vital bagi pasokan minyak ke pasar internasional, terutama ke Eropa dan Asia.
Di samping itu, keterlibatan Oman dalam perundingan menunjukkan bahwa negara-negara Timur Tengah juga berperan aktif dalam mengatasi ketegangan energi. Sultan Haitham bin Tarik, sebagai pemimpin Oman, dianggap sebagai pihak yang netral namun mampu memberikan dukungan politik. Dengan itu, keberhasilan negosiasi tidak hanya bergantung pada hubungan bilateral Iran-AS, tetapi juga pada kerja sama dengan negara-negara lain yang memiliki kepentingan serupa.
Sebagai langkah lanjutan, Iran dan Oman diperkirakan akan mengumumkan rencana pengelolaan Selat Hormuz yang lebih terstruktur. Ini mencakup pengaturan jadwal pelayaran, pengurangan kejadian penghalangan kapal, serta kebijakan pengamanan yang lebih harmonis. Kesepakatan ini juga berdampak pada hubungan Iran dengan negara-negara tetangga, termasuk Arab Saudi dan Iran yang sedang membangun koalisi baru di kawasan tersebut.
Sebagai penutup, keterlibatan Oman dalam perundingan menunjukkan bahwa diplomasi
