Bisnis

Pelindo: Perdagangan RI bergerak di intra-Asia saat konflik Timteng

Pelindo: Perdagangan RI tetap stabil di kawasan Asia tengah meski konflik Timteng berlangsung Pelindo - Jakarta, 26 April 2026 — Perusahaan pelabuhan

Desk Bisnis
Published May 31, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Pelindo: Perdagangan RI tetap stabil di kawasan Asia tengah meski konflik Timteng berlangsung

Pelindo – Jakarta, 26 April 2026 — Perusahaan pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo mengungkapkan bahwa arus perdagangan nasional masih kuat bergerak dalam wilayah Asia tengah, terlepas dari ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang sedang berlangsung. Dalam pernyataannya, Direktur Utama Pelindo Achmad Muchtasyar menekankan bahwa struktur perdagangan Indonesia berfokus pada hubungan ekonomi yang kuat dengan Tiongkok serta negara-negara Asia Tenggara (ASEAN). “Kita melihat bahwa komunitas perdagangan nasional tetap dinamis di dalam kawasan Asia, terutama dengan mitra utama seperti Tiongkok dan anggota ASEAN,” ujarnya.

Pertumbuhan Ekspor-Impor sebagai Indikator Daya Tahan Ekonomi

Menurut Muchtasyar, data aktivitas ekspor dan impor mencerminkan ketahanan Indonesia dalam menghadapi fluktuasi global, termasuk dampak dari ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah dan perlambatan ekonomi di beberapa negara. Meski ada tantangan internasional, ia menegaskan bahwa ekspor-impor tetap menjadi motor utama pertumbuhan perekonomian. “Dengan struktur dagang yang lebih terpusat di kawasan Asia, kita mampu menjaga kestabilan arus barang,” tambahnya.

“Dalam distribusi perdagangan nasional, Tiongkok dan ASEAN memberikan kontribusi besar, mencapai 46,2 persen dari total ekspor serta 56,5 persen impor,” kata Muchtasyar dalam wawancara di Jakarta, Sabtu.

Pertumbuhan arus peti kemas (container traffic) menjadi indikator utama kinerja logistik dan perdagangan. Data terkini menunjukkan bahwa hingga April 2026, throughput peti kemas yang dikelola Pelindo mencapai 6,42 juta Twenty-foot Equivalent Units (TEUs), naik sekitar 7 persen dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya. Angka tersebut menggambarkan peningkatan permintaan barang dan jasa di dalam negeri, sekaligus kepercayaan pasar terhadap kemampuan Indonesia dalam menyuplai kebutuhan ekonomi.

Ketahanan Ekonomi Nasional dalam Menghadapi Globalisasi

Muchtasyar menyoroti bahwa pertumbuhan ini tidak hanya berasal dari kegiatan ekspor-impor, tetapi juga dari distribusi barang domestik. Kenaikan throughput domestik mencapai 4 persen, dengan aktivitas bongkar dan muat masing-masing meningkat 5 persen dan 4 persen. “Faktor tersebut menunjukkan bahwa rantai pasok dan sistem distribusi di Indonesia tetap kuat, terutama dalam memenuhi kebutuhan konsumen di berbagai wilayah,” jelasnya.

Sementara itu, sektor ekspor menunjukkan peningkatan 10 persen, sementara impor naik 12 persen, mencerminkan kebutuhan pasar akan bahan baku dan teknologi. Pertumbuhan sektor internasional mencapai 11 persen, yang menjadi sinyal positif bagi aktivitas ekonomi nasional di awal tahun 2026. “Selain itu, peningkatan ini juga didorong oleh kegiatan hilirisasi dan investasi di berbagai industri,” tambahnya.

Komoditas Ekspor dan Impor yang Mengalami Pertumbuhan

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), beberapa komoditas utama ekspor Indonesia mencatatkan peningkatan signifikan. Lebih dari 7 persen pertumbuhan terjadi pada ekspor lemak dan minyak hewan/nabati, sementara mesin serta peralatan mekanis tumbuh sebesar 9,26 persen. Produk elektronik dan komponen kimia juga menunjukkan pertumbuhan positif, masing-masing 4,9 persen dan 12,27 persen.

Di sisi impor, pertumbuhan terbesar dicatatkan pada mesin dan peralatan mekanis sekitar 22,1 persen, disusul mesin elektrik (17,91 persen), instrumen optik (20,8 persen), serta produk kimia (36,31 persen). Pertumbuhan ini menunjukkan kebutuhan industri nasional terhadap barang modal, komponen, dan bahan bantu produksi yang berkelanjutan. “Ini berhubungan erat dengan peningkatan kapasitas produksi dan aktivitas investasi yang sedang berkembang,” ujar Muchtasyar.

Pelabuhan Utama sebagai Penopang Aktivitas Logistik

Kinerja pelabuhan utama di Indonesia turut mencerminkan stabilitas logistik nasional. Pelabuhan Tanjung Priok, Tanjung Emas, dan Tanjung Perak menjadi pusat distribusi barang yang dinamis. Di Tanjung Priok, throughput domestik meningkat 8 persen, terutama karena peningkatan pengiriman ke wilayah timur. Sementara Tanjung Perak tumbuh 2 persen, didorong oleh peningkatan layanan antar pelabuhan di Makassar, Kendari, dan Berau. “Dari sisi pengiriman, pelabuhan-pelabuhan ini menjadi tulang punggung dalam memperkuat jaringan logistik nasional,” tambahnya.

Pelabuhan Makassar juga mencatat peningkatan sebesar 7 persen, yang didukung oleh pergerakan komoditas pertanian seperti beras, jagung, dan palawija. Kenaikan ini mengikuti perkembangan ekonomi Sulawesi Selatan dan sekitarnya. “Selain itu, peningkatan distribusi domestik menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi tidak hanya terfokus pada wilayah barat, melainkan juga berkembang di wilayah timur,” ujar Muchtasyar.

Kawasan Asia sebagai Penyangga Ekonomi Global

Pelindo menjelaskan bahwa hubungan dagang dengan Tiongkok dan ASEAN bertindak sebagai penyangga bagi perekonomian Indonesia. “Struktur perdagangan yang kuat di kawasan ini memungkinkan Indonesia mengurangi ketergantungan pada pasar global yang tidak stabil,” katanya. Pertumbuhan ekspor dan impor dalam wilayah Asia juga memperkuat rantai pasok dan hubungan antar daerah, yang berkontribusi pada stabilitas pertumbuhan nasional.

Konsistensi arus barang di kawasan Asia menunjukkan bahwa Indonesia mampu menjaga kestabilan perdagangan sekalipun menghadapi perubahan politik dan ekonomi global. Dengan daya tahan ini, perekonomian Indonesia diharapkan tetap berjalan baik, terutama dalam menyuplai kebutuhan industri dan masyarakat. “Pelindo terus berupaya untuk memperkuat kapasitas logistik dan memastikan distribusi barang berjalan lancar,” pungkas Muchtasyar.

Kebutuhan Industri dan Agenda Hilirisasi Nasional

Dalam jangka panjang, pertumbuhan perdagangan Indonesia juga terkait dengan agenda hilirisasi nasional. “Dengan memperkuat keterlibatan dalam industri, kita bisa mengurangi ketergantungan pada impor barang modal dan menaikkan daya saing ekspor,” katanya. Pertumbuhan impor mesin dan peralatan mekanis, serta bahan baku kimia, mengindikasikan kebutuhan sektor manufaktur yang terus meningkat. “Ini adalah tanda bahwa industri dalam negeri sedang berkembang, terutama di kawasan industri utama seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya,” tambahnya.

Pelindo juga menyebutkan bahwa infrastruktur pelabuhan yang memadai menjadi faktor penting dalam menunjang pertumbuhan ini. “Dengan terus memperbaiki kinerja terminal dan mempercepat pengolahan barang, kita bisa meningkatkan efisiensi logistik,” ujarnya. Dalam konteks ini, pelabuhan-pelabuhan besar Indonesia menjadi penyangga utama bagi kegiatan ekspor-impor dan distribusi barang domestik.

Ketahanan perdagangan Indonesia di tengah dinamika global menunjukkan adaptasi yang baik terhadap perubahan ekonomi. Dengan konsistensi arus barang di kawasan Asia, negara ini tetap mampu menjaga

Leave a Comment