Polres Malang Menginvestigasi Ledakan Petasan yang Menyebabkan Kematian Satu Orang
Key Issue – Kepolisian Resort Malang (Polres Malang) tengah melakukan penyelidikan terhadap peristiwa ledakan petasan yang terjadi di sebuah rumah di Desa Jenggolo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Insiden tersebut menyebabkan satu orang tewas, yakni pemilik rumah yang berinisial S (48). Sebagai wujud upaya mencari penyebab pasti ledakan, polisi telah mengamankan barang bukti di lokasi kejadian, termasuk satu ember berisi petasan.
Kepala Seksi Humas Polres Malang, AKP Bambang Subinanjar, memberikan keterangan kepada ANTARA pada Minggu. Menurutnya, selama penyelidikan awal, tim dari Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan barang bukti. “Petasan dengan berbagai ukuran sudah diambil dari lokasi, dan penyidik sedang mencari penyebab pasti ledakan tersebut, termasuk sumber bahan peledak yang digunakan oleh korban,” ujar Bambang.
“Keluarga korban menerima kejadian ini dan tidak ingin dilakukan autopsi. Meski demikian, penyelidikan tetap kami lanjutkan untuk mengungkap seluruh rangkaian peristiwa,” tutur Bambang.
Menurut informasi yang dihimpun, ledakan terjadi pada Sabtu (23/5) sekitar pukul 11.15 WIB. Saat itu, warga sekitar mendengar suara ledakan dari dalam rumah S. Reaksi cepat warga memicu mereka untuk bergerak ke lokasi kejadian, berharap menemukan korban dalam kondisi baik. Namun, ketika tiba di TKP, kondisi korban telah memburuk.
Sementara itu, tim Polres Malang dan Polsek Kepanjen segera dikerahkan untuk menangani situasi darurat. Setibanya di lokasi, mereka langsung membantu mengevakuasi S ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan. Meski korban diberi perlakuan medis, setelah dua jam perawatan, S dinyatakan meninggal dunia. Pihak kepolisian menyampaikan bahwa penanganan medis yang dilakukan merupakan upaya pertama untuk memastikan korban dalam kondisi terbaik sebelum penyebab kematian lebih lanjut dikaji.
Dalam proses penyelidikan, polisi juga mengajukan permintaan untuk melakukan visum dan autopsi. Hal ini dilakukan sebagai langkah untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai kondisi tubuh korban saat kejadian dan kemungkinan penyebab kematian. Namun, keluarga korban menolak tawaran tersebut, dengan alasan bahwa mereka telah menerima kejadian dan mempercayai kondisi yang terjadi.
Kondisi Korban dan Respons Warga
Menurut saksi mata yang hadir di lokasi, ledakan petasan terjadi secara tiba-tiba tanpa tanda-tanda sebelumnya. Bunyi ledakan yang keras mengagetkan warga sekitar, yang kemudian berlari ke rumah S untuk memastikan keadaan korban. Saat mereka sampai, S ditemukan dalam kondisi mengalami luka bakar serius di beberapa bagian tubuh, seperti kaki, tangan, dada, perut, dan wajah. Luka tersebut terlihat cukup parah, dengan beberapa area tubuh terlihat hangus dan berdarah.
Korban ditemukan oleh warga di bagian dalam rumah, yang pada saat itu sebagian besar dalam kondisi berantakan. Karena luka yang dialami cukup mengancam, warga segera menghubungi pihak kepolisian untuk minta bantuan. Tim yang datang ke lokasi menyatakan bahwa korban tidak sadarkan diri dan keadaannya sangat kritis.
Setelah penyelidikan awal selesai, polisi fokus pada pengumpulan bukti fisik dan analisis kondisi lingkungan sekitar rumah S. Dari hasil olah TKP, ditemukan bahwa petasan yang digunakan berbagai ukuran, termasuk jenis yang tidak biasa digunakan dalam pemakaian sehari-hari. Polisi juga melakukan pemeriksaan terhadap sisa-sisa bahan peledak yang ditemukan di area kejadian.
Selain itu, pihak kepolisian juga melibatkan pihak terkait seperti perwakilan dari Dinas Pemadam Kebakaran dan petugas medis untuk melakukan pengecekan tambahan. Meskipun S telah dibawa ke RSUD Kanjuruhan, tim medis mengungkapkan bahwa luka bakar yang dialami korban sangat berat, sehingga menimbulkan risiko komplikasi yang serius.
Di sisi lain, warga sekitar menyampaikan bahwa tidak ada tanda-tanda ledakan sebelumnya di sekitar rumah S. Mereka menilai ledakan terjadi akibat kesalahan penggunaan petasan, terutama di bagian yang tidak terpantau. Dalam beberapa hari terakhir, S terlihat menggunakan petasan secara intensif, terutama pada malam hari. Namun, tidak ada penggunaan yang tidak wajar atau ketidaksadaran sebelum kejadian.
Langkah-Langkah Penyelidikan dan Keterangan Saksi
Bambang menjelaskan bahwa penyelidikan sedang berjalan dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan penyebab ledakan. Diantaranya, penyebab ledakan bisa berasal dari kesalahan teknis, penggunaan bahan peledak yang tidak sesuai standar, atau faktor kecelakaan yang tidak terduga. “Kami juga mengecek sumber bahan peledak yang digunakan, baik dari bahan yang tersisa di lokasi maupun dari warga yang dikenal menggunakan petasan tersebut,” tambah Bambang.
Dalam penyelidikan, polisi berupaya memperoleh keterangan dari warga sekitar, termasuk teman dan tetangga korban. Sejumlah warga menyatakan bahwa S sering menggunakan petasan untuk perayaan hari raya, terutama pada malam hari. Namun, tidak ada laporan bahwa S menggunakan petasan di tempat yang tidak aman atau dengan cara yang tidak benar.
Polres Malang juga menginvestigasi apakah ada kecelakaan pada saat penggunaan petasan. Misalnya, apakah terjadi kebocoran bahan peledak atau penggunaan yang tidak sesuai dengan petunjuk. Berdasarkan informasi yang diperoleh, proses penggunaan petasan berjalan normal, namun ledakan terjadi secara mendadak.
Menurut Bambang, polisi masih memerlukan waktu untuk melacak asal-usul petasan dan bahan peledak yang digunakan. Dengan adanya bukti fisik, mereka berharap dapat menemukan keterkaitan antara bahan yang digunakan dan kejadian ledakan. “Kami sedang mengumpulkan informasi tambahan untuk memastikan bahwa penyebab pasti ledakan telah teridentifikasi,” tutur Bambang.
Dalam upaya mencari kebenaran, polisi juga meminta keterangan dari pihak yang berwenang, seperti Dinas Pemadam Kebakaran dan para ahli bahan peledak. Selain itu, mereka melakukan pemeriksaan terhadap kondisi lingkungan sekitar, termasuk apakah ada faktor eksternal yang memicu ledakan, seperti cuaca atau bahan bakar yang menyala.
Karena ledakan terjadi di rumah, polisi juga mengecek apakah ada kemungkinan kesalahan dalam penyaluran bahan peledak atau penggunaan petasan secara tidak terkendali. Berdasarkan hasil investigasi, tidak ditemukan tanda-tanda kebocoran atau kecelakaan teknis yang dapat menyebabkan ledakan tersebut. Dengan demikian, penyebab pasti kejadian masih dalam proses penyelidikan.
Sebagai upaya melengkapi investigasi, polisi juga berencana melakukan pemeriksaan terhadap sisa-sisa petasan yang masih ditemukan di TKP. Hasil dari pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar untuk memastikan bahwa bahan peledak yang digunakan sesuai dengan standar atau terdapat kekurangan kualitas. “Kami sedang memeriksa apakah petasan yang digunakan korban memiliki standar keamanan yang memadai,” ujar Bambang.
