BNPB Perkuat Pendampingan Darurat Longsor di Krayan Selatan Nunukan
BNPB perkuat pendampingan darurat longsor Krayan – Jakarta — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengambil langkah konkret untuk memperkuat pendampingan darurat longsor di wilayah Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Langkah strategis ini diambil sebagai respons terhadap bencana tanah longsor yang telah mengisolasi ribuan warga sejak awal Juli lalu. Dengan memperkuat koordinasi dan bantuan, BNPB berkomitmen untuk memastikan pemulihan berjalan optimal.
Kepala BNPB, Suharyanto, dalam keterangan persnya di Jakarta pada hari Jumat, menegaskan bahwa instruksi khusus telah dikeluarkan kepada Kedeputian Penanganan Darurat. Fokus utama dari instruksi tersebut adalah percepatan proses bantuan dan penanganan di lapangan. Suharyanto juga menyatakan bahwa timnya terus memantau hasil kaji cepat yang dilakukan di lokasi bencana.
“Kami terus memantau perkembangan hasil kaji cepat di lapangan dan dalam kesempatan pertama saya perintahkan tim untuk menuju ke sana,” jelas Suharyanto.
Bencana tanah longsor yang terjadi sejak hari Selasa, tanggal 7 Juli, dipicu oleh hujan deras yang jatuh pada kondisi tanah yang labil. Peristiwa ini telah memutus akses jalan utama yang menghubungkan Kecamatan Krayan Barat dengan Krayan Selatan. Akibatnya, masyarakat di wilayah terdampak mengalami isolasi total dari dunia luar.
Kondisi Masyarakat Terisolasi
Terputusnya akses transportasi darat membawa dampak yang sangat signifikan bagi masyarakat setempat. Sebanyak 460 kepala keluarga atau sekitar 1.507 jiwa yang tersebar di 13 desa kini berada dalam kondisi terisolasi. Mereka kesulitan untuk mendapatkan bantuan dari luar maupun melakukan aktivitas normal sehari-hari.
Direktorat Pengendalian Operasi BNPB telah mengidentifikasi ke-13 desa terdampak melalui asesmen lapangan yang komprehensif. Desa-desa tersebut antara lain Long Pa’sia, Liang Lunuk, Long Budung, Pa’ Dalan, Pa’ Urang, Pa’tera, Pa’ Sing, Long Pupung, Pa’ Upan, Long Birar, Pa’ Kaber, Pa’ Amai, dan Desa Pa’ Ibang. Setiap desa memiliki tingkat kerusakan yang bervariasi.
Tantangan Logistik dan Energi
Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa longsor tidak hanya menutup jalan, tetapi juga merusak jembatan penghubung utama. Kerusakan ini menghentikan distribusi logistik dan pasokan bahan bakar minyak (BBM) dari Desa Long Bawan menuju Desa Long Kayu.
Menurut Abdul Muhari, terhambatnya pasokan BBM berdampak langsung pada layanan kelistrikan warga. Pasokan listrik yang sebelumnya menyala hingga 12 jam kini hanya beroperasi selama empat jam, yaitu dari pukul 18.00 hingga 22.00 waktu setempat. Kondisi ini tentu saja sangat memberatkan aktivitas masyarakat.
Merespons eskalasi dampak bencana, Pemerintah Kabupaten Nunukan telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Alam Tanah Longsor selama 14 hari. Periode darurat ini berlaku mulai tanggal 15 hingga 28 Juli 2026, memberikan ruang bagi koordinasi penanganan yang lebih terstruktur.
Kebutuhan Mendesak Warga
“Saat ini kebutuhan paling mendesak bagi masyarakat terdampak meliputi pasokan BBM untuk operasional pembangkit listrik, obat-obatan, susu balita, serta kebutuhan pokok seperti beras dan bahan pangan lainnya,” kata Abdul Muhari.
BNPB terus berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk memastikan bantuan dapat sampai ke lokasi dengan cepat. Tim-tim lapangan telah disiapkan untuk melakukan pendampingan intensif dan memastikan bahwa setiap desa mendapatkan perhatian yang memadai sesuai dengan tingkat kerusakan dan kebutuhan masing-masing.
Upaya pemulihan akses jalan dan jembatan juga sedang dilakukan dengan prioritas tinggi. Sementara itu, distribusi bantuan logistik menggunakan metode alternatif untuk mengatasi keterbatasan akses darat yang ada saat ini. Melalui langkah-langkah ini, BNPB berharap kondisi masyarakat Krayan Selatan dapat segera pulih.

