Main Agenda: Ekonom: Ruang kenaikan BI-Rate masih ada jika kurs di atas Rp18.200

2 months ago  ·  4 min read
By David Garcia - fukushimask.com
1000125493

Ekonom: Potensi Peningkatan BI-Rate Masih Ada Jika Rupiah Terus Melemah

Main Agenda –

Di Jakarta, pada hari Selasa, ekonom dari Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, menyatakan bahwa peluang untuk menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) masih terbuka jika nilai tukar rupiah (IDR) tetap berada di bawah tekanan hingga mencapai level Rp18.200 per dolar AS (USD) dan defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit) melebar di atas 1,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). “Peningkatan BI-Rate dapat dilanjutkan jika rupiah terus melemah di level di atas Rp18.200 terhadap dolar AS, serta defisit transaksi berjalan melebar lebih dari 1,5 persen dari PDB,” katanya dalam wawancara dengan ANTARA.

BI Menjaga Stabilitas Nilai Tukar Dengan Langkah Preemptive

Menurut Hosianna, keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan BI-Rate dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan di hari ini adalah langkah strategis yang diperlukan untuk mengantisipasi risiko volatilitas rupiah. Ia menekankan bahwa rupiah telah mengalami penurunan signifikan sepanjang tahun kalender (year to date / ytd) hingga 8 persen terhadap USD, saat kurs mencapai Rp18.190 per dolar. “Kenaikan bunga ini penting untuk menjaga ketahanan nilai tukar, terutama dalam menghadapi tekanan inflasi yang berasal dari impor,” jelas Hosianna.

Pengaruh Kenaikan BI-Rate pada Pasar Keuangan

Dalam menjelaskan dampak kebijakan BI, Hosianna menyatakan bahwa respons pasar terhadap kenaikan BI-Rate yang diumumkan pada Selasa siang tergolong positif. Rupiah langsung menguat sebesar 0,7 persen, mencapai level Rp18.070 per dolar di pasar spot. “Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik, terutama bagi investor yang mencari pengembalian lebih tinggi,” tambahnya.

RDG Bulanan Mei 2026: Kenaikan BI-Rate 50 Basis Poin

Dalam beberapa bulan terakhir, BI telah melakukan kenaikan suku bunga acuan sebanyak lima kali sepanjang 2025, dengan total penurunan 125 basis poin. Namun, keputusan kenaikan BI-Rate pada RDG Bulanan Mei 2026 menandai langkah awal setelah BI mempertahankan suku bunga di 4,75 persen sejak September 2025. Dalam sesi tersebut, BI meningkatkan BI-Rate sebesar 50 basis poin, sehingga mencapai 5,5 persen.

Langkah Kebijakan Lain Untuk Stabilisasi Rupiah

Selain menaikkan BI-Rate, BI juga mengambil sejumlah tindakan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar. Dalam siaran persnya, bank sentral tersebut menyebutkan penyesuaian struktur suku bunga Surplus Rupiah (SRBI) yang berlaku untuk seluruh sektor. BI juga memberikan insentif kepada investor asing dengan menurunkan tingkat swap lindung nilai. Selain itu, bank sentral membuka kembali window lelang instrumen repo bagi perbankan, serta meningkatkan intensitas operasi moneter baik untuk rupiah maupun valuta asing.

Gerakan Kurs JISDOR dan Cadangan Devisa

Pada akhir Mei 2026, cadangan devisa Indonesia mencapai 144,9 miliar USD, turun 1,3 miliar USD dari bulan sebelumnya karena pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi rupiah. Dalam lima bulan terakhir, total cadangan devisa berkurang sebesar 11,6 miliar USD dari posisi 156,5 miliar USD pada akhir Desember 2025.

Di sisi lain, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Selasa sore (9/6) bergerak menguat ke level Rp18.141 per dolar AS, dibandingkan Rp18.171 pada hari Senin (8/6) sebelumnya. Pergerakan ini menunjukkan adanya tekanan terhadap rupiah yang mulai berkurang, meski masih ada ruang untuk kenaikan suku bunga.

Faktor Eksternal dan Internal yang Mempengaruhi Kebijakan BI

Hosianna menyoroti bahwa kebijakan BI bukan hanya berdasarkan kinerja ekonomi internal, tetapi juga kondisi global. Penguatan rupiah di pasar spot setelah kenaikan BI-Rate membuktikan bahwa keputusan tersebut mampu memengaruhi psikologi investor. Namun, ia menegaskan bahwa kenaikan suku bunga bisa kembali dilakukan jika defisit transaksi berjalan terus memburuk. “Defisit transaksi berjalan yang melebar berdampak langsung pada tekanan inflasi, sehingga BI perlu siap mengambil langkah lebih agresif,” jelas Hosianna.

Rencana Kebijakan Pada RDG Berikutnya

Menyusul keputusan kenaikan BI-Rate dalam RDG Mingguan, BI akan kembali menggelar Rapat Dewan Gubernur Bulanan pada 17-18 Juni 2026. Kebijakan tersebut akan menjadi titik evaluasi terhadap keputusan penyesuaian yang diambil di bulan Mei.

Hosianna Evalita Situmorang juga menyoroti bahwa peningkatan BI-Rate tidak hanya sebagai respons terhadap tekanan eksternal, tetapi juga untuk menopang kebijakan moneter yang lebih ketat. “BI-Rate yang lebih tinggi bisa menjadi alat untuk mengurangi kebutuhan likuiditas, yang berdampak pada inflasi impor,” tegasnya.

Analisis Kenaikan BI-Rate dalam Konteks Ekonomi Global

Dalam lingkungan global yang dinamis, Hosianna menegaskan bahwa BI tetap bergerak sesuai dengan kondisi pasar. Kenaikan bunga sebesar 25 basis poin dalam RDG Mingguan menunjukkan kebijakan yang lebih proaktif dibandingkan langkah konservatif sebelumnya. Ia juga menyoroti bahwa kenaikan suku bunga ini memberikan sinyal kuat bagi pelaku pasar untuk menilai stabilitas ekonomi Indonesia.

BI-Rate yang meningkat ke 5,5 persen adalah bagian dari upaya bank sentral untuk menstabilkan inflasi dan menopang pertumbuhan ekonomi. Dengan kenaikan bunga, BI berharap mengurangi tekanan pada nilai tukar, yang selama ini menjadi salah satu faktor utama dalam kinerja kebijakan moneter.

Pel

MORE FROM THIS CATEGORY