Warga lansia di China main gim untuk pererat hubungan sosial

6 days ago  ·  4 min read
By Richard Wilson - fukushimask.com
khrisna-edit-1786077547-c2b96a7a26

Generasi Emas China Menaklukkan Dunia Game Digital

Fukushimask.com – Transformasi digital di Tiongkok tidak hanya melibatkan kaum muda. Kini, para lansia juga semakin aktif menjelajahi dunia permainan video, bukan sekadar sebagai hiburan, tetapi sebagai sarana mempererat ikatan sosial dengan keluarga dan sesama generasi mereka. Fenomena ini terlihat jelas di berbagai kota besar, dari Hangzhou hingga Chengdu, di mana kelas-kelas e-sport khusus untuk warga lanjut usia mulai bermunculan.

Angka-angka terbaru menunjukkan percepatan adopsi teknologi di kalangan kelompok usia tua. Hingga akhir tahun 2025, Tiongkok mencatat lebih dari 323 juta penduduk berusia enam puluh tahun ke atas, atau setara dengan 23 persen dari total populasi nasional. Tingkat penetrasi internet di segmen ini juga melonjak tajam, mencapai 53,7 persen pada bulan Desember. Data dari perusahaan analisis seluler QuestMobile mengonfirmasi bahwa 351 juta pengguna berusia di atas lima puluh tahun telah aktif menggunakan internet seluler per November 2025, meningkat 5,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Belajar Bermain di Usia Senja

Di Hangzhou, ibu kota Provinsi Zhejiang di bagian timur Tiongkok, lembaga pendidikan komunitas Binjiang menjadi pelopor dengan membuka kelas e-sport pertama untuk warga berusia lima puluh lima tahun ke atas pada November 2024. Antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Dalam jangka waktu tiga hari saja, hampir 150 orang lansia mendaftar. Dari jumlah tersebut, lebih dari 60 orang benar-benar mengikuti seluruh proses pembelajaran, termasuk seorang peserta berusia delapan puluh dua tahun yang tetap semangat.

Setiap peserta memiliki motivasi berbeda. Sebagian ingin memahami tren permainan yang digemari anak muda. Lainnya tertarik pada elemen seni bela diri yang banyak ditampilkan dalam gim. Ada pula yang berharap menemukan topik percakapan baru dengan anak maupun cucu mereka. Staf komunitas mencatat bahwa antusiasme ini mencerminkan keinginan generasi tua untuk tetap relevan di era digital.

Zhou Zhihong, seorang wanita berusia 67 tahun, adalah salah satu contoh nyata. Awalnya, ajakan bermain dari cucu perempuannya yang berusia 14 tahun terasa asing baginya. Namun, setelah sang cucu selesai mengerjakan tugas sekolah dan menghampirinya dengan pertanyaan sederhana, “Nenek, mau bermain?”, Zhou mulai tertarik. Kini, ia telah menjadi pemain yang cukup mahir dalam “Naraka: Bladepoint”, sebuah gim pertarungan multipemain, bahkan mampu memimpin tim lansia meraih kemenangan.

Kisah Cinta dan Game

Li Aixia, 57 tahun, sebenarnya sudah ingin mempelajari e-sport sebelum masa pensiunnya tiba. Suaminya, Li Zhongli, 62 tahun, sering kali mendengarkan putranya menjelaskan jalannya pertandingan. Keduanya kadang tidak sepenuhnya memahami, namun memutuskan untuk belajar sendiri. Dengan nama panggilan “Mad Swordsman” dan “Enchantress”, pasangan ini membatasi diri bermain hanya tiga ronde pada hari-hari biasa karena mata dan sendi jari mereka cepat lelah.

Sebelum mengikuti kompetisi, mereka rutin berlatih secara daring bersama rekan satu tim. Mereka juga bertemu di kafe untuk berlatih sekaligus mengevaluasi kesalahan saat bermain. Aktivitas ini membawa perubahan signifikan dalam percakapan di rumah. Li kini sering mendiskusikan strategi permainan dan momen-momen berkesan bersama putranya. Dalam satu acara pertemuan keluarga, dia mengenakan kacamata baca, memutar ponselnya ke posisi horizontal, lalu bermain bersama suaminya. Para kerabat yang lebih tua memandang terkejut melihat adegan tersebut.

“Banyak yang sudah lupa apa yang baru saja dijelaskan lima menit yang lalu. Anda harus mengulanginya dan membiarkan mereka berlatih lagi dan lagi,” ujar Gao Liying, 63 tahun, salah satu rekan satu tim Zhou.

Dari Siswa Menjadi Instruktur

Kursus di Hangzhou dirancang untuk orang-orang yang hanya memiliki sedikit pengalaman bermain gim, atau bahkan tidak sama sekali. Lima sesi pertamanya dimulai dengan mengunduh gim dan mempelajari antarmukanya. Istilah-istilah yang umum bagi pemain muda ditulis ulang dalam bahasa yang lebih sederhana, sementara tanda panah digunakan untuk menjelaskan gerakan. Proses pembelajarannya cukup sulit. Hanya 30 hingga 40 peserta yang berhasil menyelesaikan kursus lima sesi tersebut.

Beberapa di antara mereka yang berhasil kemudian bahkan menjadi instruktur. Gao Liying menyusun ulang catatan dan pengalaman praktisnya, menggunakan alat kecerdasan buatan untuk membuat kerangka tulisan, lalu mengetik sebuah buku panduan yang terdiri dari 17 bab di ponselnya selama lebih dari 20 hari. Lembaga pendidikan tersebut kini telah membina tujuh angkatan untuk lebih dari 300 peserta didik dan melatih delapan instruktur lokal. Lulusan angkatan pertama telah mengajar di tiga komunitas percontohan.

Model yang berbeda sedang diuji coba di Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan di Tiongkok barat daya. Hal ini menunjukkan bahwa tren permainan video di kalangan lansia bukan sekadar fenomena sementara, melainkan gerakan sosial yang semakin berkembang. Dengan populasi lansia yang terus bertambah dan tingkat penggunaan internet yang meningkat, permainan video menjadi jembatan antar-generasi yang efektif. Mereka tidak hanya bermain untuk bersenang-senang, tetapi juga untuk tetap terhubung dengan dunia yang terus berubah.

Frequently Asked Questions

What is Warga lansia di China main gim?

Warga lansia di China main gim is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Warga lansia di China main gim matter?

Warga lansia di China main gim matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category