Bulutangkis

New Policy: Devin/Faathir terhenti di 32 besar Australian Open 2026

Devin/Faathir Terhenti di Babak 32 Besar Australian Open 2026 New Policy - Jakarta – Pasangan ganda putra Indonesia Devin Artha Wahyudi/Ali Faathir Rayhan

Desk Bulutangkis
Published June 9, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Devin/Faathir Terhenti di Babak 32 Besar Australian Open 2026

New Policy – Jakarta – Pasangan ganda putra Indonesia Devin Artha Wahyudi/Ali Faathir Rayhan mengakhiri perjalanan mereka di babak 32 besar turnamen BWF World Tour Super 5000 Australian Open 2026 setelah kalah dari wakil Hong Kong, Hung Kuei Chun/Lui Chun Wai. Pertandingan yang berlangsung di Quaycentre, Olympic Boulevard, Sydney, Selasa (10 Januari 2026), berlangsung cukup dramatis dengan skor 17-21, 21-11, dan 13-21. Meski sempat bangkit di gim kedua, duo Indonesia tak mampu mempertahankan performa di gim penentuan.

Kesalahan di Gim Ketiga Menjadi Titik Pecah

Devin Artha Wahyudi mengungkapkan bahwa mereka kewalahan menghadapi tekanan di gim ketiga. “Awal pertandingan kami mengalami kesulitan, terutama di gim ketiga. Kesalahan yang sama terjadi seperti di Indonesia Open pekan lalu,” ujar Devin, dikutip dari keterangan resmi PBSI. Menurutnya, permainan mereka mengalami penurunan signifikan di gim penentuan, yang membuat lawan kembali menguasai bola.

“Start kami ketinggalan, terutama di gim ketiga. Itu kesalahan yang sama seperti pekan lalu di Indonesia Open. Mainnya tiba-tiba berubah dari gim kedua, banyak bikin kesalahan sendiri,”

Kondisi Tekanan Menjadi Fokus Evaluasi

Dalam wawancara pasca-laga, Devin menjelaskan bahwa mereka masih perlu belajar menghadapi situasi di mana tim tertinggal dalam skor. “Kami harus belajar bagaimana mengatasi situasi ketika sedang ketinggalan,” tambahnya. Ali Faathir Rayhan juga menyetujui analisis tersebut. Menurutnya, kekurangan konsistensi di gim penentuan menjadi salah satu faktor utama kekalahan.

“Kami harus belajar bagaimana mengatasi situasi ketika sedang ketinggalan,”

Berhasil Membuka Peluang, Tapi Kehilangan Momentum

Meski sempat membuka peluang untuk membalikkan keadaan setelah menang di gim kedua dengan skor 21-11, pasangan Indonesia tak mampu mempertahankan momentum tersebut. Permainan mereka mengalami penurunan yang signifikan di gim ketiga, yang akhirnya memungkinkan Hung/Lui menutup pertandingan dengan kemenangan.

“Kami tadi sempat mengejar, tetapi poin terus menjauh. Fokus dan cara bermain kami belum bisa konsisten. Ini menjadi evaluasi dan pelajaran bagi kami,”

Ali Faathir Rayhan juga menyoroti kebutuhan untuk lebih adaptif dalam penerapan strategi. “Selain itu kami tidak boleh monoton polanya, harus bisa baca pola lawan lalu cari cara melawan ya,” ujarnya. Menurutnya, kesulitan dalam merespons perubahan strategi lawan menjadi hal yang perlu diperbaiki sebelum laga berikutnya.

Kebiasaan Permainan dan Kesiapan untuk Laga Berikutnya

Dalam sesi wawancara, Devin dan Ali sepakat bahwa konsistensi menjadi kunci utama dalam menghadapi lawan yang lebih kuat. “Kami harus belajar bagaimana mengatasi situasi ketika sedang ketinggalan,” kata Devin kembali, menegaskan pentingnya mentalitas dan taktik di babak-babak penting.

Kemenangan Hung/Lui dalam pertandingan tersebut menandai kekalahan keempat dari lima kali tampil di Australian Open 2026. Namun, bagi Devin/Faathir, ini menjadi pengalaman berharga untuk mengevaluasi kelemahan mereka. Pasangan tersebut menyadari bahwa dalam pertandingan panjang, pemain harus lebih siap menghadapi tekanan, terutama ketika sedang dalam posisi tertinggal.

Meski kalah, Devin dan Ali tetap optimistis akan kesempatan untuk memperbaiki performa. “Kami masih punya banyak waktu untuk belajar dan meningkatkan diri,” kata Ali. Ia menambahkan bahwa kesalahan sendiri di gim ketiga terjadi karena kurangnya konsentrasi dan kurangnya variasi dalam teknik.

Evaluasi dan Harapan di Babak Berikutnya

Dalam penjelasannya, Devin mengakui bahwa mereka belum sepenuhnya bisa mengatasi tekanan di babak penting. “Pertandingan tiba-tiba berubah dari gim kedua, banyak bikin kesalahan sendiri,” ujarnya. Menurutnya, ini menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan strategi dan mental dalam laga berikutnya.

“Mainnya tiba-tiba berubah dari gim kedua, banyak bikin kesalahan sendiri,”

Ali Faathir Rayhan juga menyebut bahwa mereka perlu lebih fokus pada pola permainan di setiap babak. “Kami tidak boleh monoton polanya, harus bisa baca pola lawan lalu cari cara melawan ya,” ujarnya. Kunci utama peningkatan performa, menurut Ali, adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lawan yang berbeda di setiap laga.

Kesiapan Menghadapi Tantangan di Turnamen Berikutnya

Devin/Faathir menilai bahwa kekalahan di Australian Open 2026 menjadi pembelajaran penting. Mereka menyadari bahwa ketika tertinggal, permainan harus lebih cepat beradaptasi dan terus memberikan tekanan kepada lawan. “Kami akan terus meningkatkan diri, karena BWF World Tour Super 5000 adalah ajang penting untuk mengukur kemampuan kami,” kata Devin.

Ali Faathir Rayhan menambahkan bahwa mereka sudah memperkenalkan beberapa perubahan strategi sebelum laga ini. Namun, kekonsistenan dalam penerapan tersebut masih perlu ditingkatkan. “Kami telah mencoba variasi dalam teknik, tetapi belum sepenuhnya berhasil mengakibatkan perubahan dalam permainan lawan,” ujarnya.

Analisis Kinerja dan Langkah Peningkatan

Para pelatih juga memberikan penilaian bahwa kekalahannya berhubungan dengan kurangnya ketangguhan dalam mengejar poin saat tertinggal. “Mereka harus lebih kuat dalam mengubah tempo permainan dan menekan lawan di babak kritis,” kata salah satu pelatih. Ini menjadi fokus utama dalam persiapan untuk turnamen selanjutnya, di mana tekanan dari lawan yang lebih unggul akan terus ada.

Bagi Devin/Faathir, kekalahan ini menjadi bahan evaluasi untuk menemukan celah dalam permainan. “Kami masih punya waktu untuk memperbaiki diri, karena banyak hal yang bisa ditingkatkan,” kata Ali. Ia menegaskan bahwa mereka akan terus berlatih dan belajar dari setiap pertandingan untuk mengejar target lebih tinggi di turnamen-turamen mendatang.

Kesiapan dan Harapan di Tahun Depan

Dengan menempati posisi 32 besar, Devin/Faathir tetap optimistis akan kemampuan mereka. “Kami sangat berharap bisa menembus babak lebih jauh di tahun depan,” ujar Devin. Ia menambahkan bahwa kekalahan ini menjadi pelajaran berharga untuk meningkatkan mental dan teknik dalam menghadapi laga-laga berat.

PBSI menyatakan bahwa mereka akan terus mendukung pasangan tersebut untuk berkembang. “Kami percaya Devin dan Ali memiliki potensi besar, dan kekalahan ini adalah bagian dari proses pembelajaran,” kata juru bicara PBSI. Dengan evaluasi yang terus dilakukan, pasangan Indonesia diharapkan bisa memberikan performa yang lebih baik di ajang-ajang bergengsi lainnya.

Leave a Comment