Mengantar kepergian Cak Sholeh; Keadilan tak boleh menunggu viral

6 days ago  ·  3 min read
By Patricia Hernandez - fukushimask.com
khrisna-edit-1786078063-cf46655ba7

Mengantar Kepergian Cak Sholeh: Keadilan yang Tak Boleh Menunggu Viral

Fukushimask.com – Mengantar kepergian Cak Sholeh Keadilan tak boleh menunggu viral. Kematian Muhammad Sholeh, yang lebih dikenal luas dengan panggilan Cak Sholeh, telah meninggalkan jejak mendalam bagi masyarakat Indonesia. Kabar kepergiannya pada hari Jumat, 7 Agustus 2026, bukan sekadar kehilangan seorang tokoh publik, melainkan momen refleksi kolektif tentang bagaimana keadilan dipahami dan diperjuangkan di tengah masyarakat modern. Berbeda dengan banyak figur yang meninggalkan warisan berupa bangunan megah atau jabatan tinggi, Cak Sholeh meninggalkan sebuah gagasan yang telah menyentuh hati jutaan orang.

Ungkapan yang Menjadi Cermin Zaman

Ungkapan “No Viral No Justice” yang dipopulerkan oleh Cak Sholeh telah menjadi bagian dari kosakata publik Indonesia. Namun, kalimat ini bukanlah hasil strategi pemasaran atau penciptaan slogan semata. Ia lahir dari pengalaman langsung mendampingi masyarakat yang merasa suaranya tenggelam dalam sistem yang kompleks. Dalam banyak kasus yang melibatkan warga kecil, perhatian baru datang ketika sebuah perkara menjadi perbincangan hangat di media sosial.

“No Viral No Justice” bukan sekadar slogan. Ia adalah kritik yang lahir dari realita pahit bahwa keadilan sering kali membutuhkan popularitas untuk mendapatkan perhatian.

Fenomena ini dibaca oleh Cak Sholeh dengan tajam, lalu diterjemahkan menjadi sebuah kritik yang sederhana namun menohok. Ia menyadari bahwa tanpa viralitas, suara masyarakat kecil sering kali hilang ditelan birokrasi yang kaku dan tidak responsif.

Perjalanan Hidup yang Konsisten

Sebagai mantan aktivis reformasi, advokat, dan pendiri LBH No Viral No Justice, perjalanan hidup Cak Sholeh menunjukkan benang merah yang konsisten. Keberpihakan kepada masyarakat yang merasa tidak memiliki akses terhadap keadilan menjadi komitmennya sepanjang hidup. Ia tidak hanya berbicara tentang keadilan, tetapi juga bertindak untuk mewujudkannya melalui berbagai cara yang inovatif.

Cak Sholeh memanfaatkan perkembangan teknologi digital sebagai ruang advokasi baru. Ia membuka konsultasi hukum melalui media sosial, YouTube, hingga warung kopi. Pendekatan ini memungkinkan masyarakat lebih mudah memperoleh pendampingan hukum tanpa harus melalui prosedur yang rumit. Cara yang mungkin tidak lazim bagi sebagian advokat konvensional, namun justru menjadi kekuatan tersendiri bagi Cak Sholeh di era digital.

Transformasi Digital dalam Pencarian Keadilan

Media sosial telah mengubah wajah kehidupan publik secara fundamental. Sebelum internet menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, pengaduan masyarakat bergantung pada jalur birokrasi tradisional, surat pembaca, atau pemberitaan media massa konvensional. Kini, situasinya berbeda sepenuhnya. Satu video berdurasi satu menit dapat memicu perhatian nasional. Satu unggahan mampu menggerakkan ribuan orang untuk bertindak.

Tidak sedikit kasus yang bertahun-tahun mandek, kemudian memperoleh percepatan penanganan setelah menjadi viral. Fenomena ini membawa dua kenyataan sekaligus. Di satu sisi, media sosial telah menjadi instrumen kontrol sosial yang efektif. Publik memiliki ruang untuk mengawasi pelayanan negara, mengingatkan aparat, sekaligus memperjuangkan hak-haknya secara lebih terbuka.

Pertanyaan yang Tinggal

Kepergian Cak Sholeh mengundang duka mendalam. Namun, yang lebih penting untuk dikenang adalah pertanyaan yang ia tinggalkan. Mengapa masyarakat sampai merasa bahwa keadilan harus lebih dahulu menjadi viral agar memperoleh perhatian? Pertanyaan itu jauh lebih besar daripada sosok Cak Sholeh sendiri. Ia menyentuh inti dari sistem keadilan yang ada dan menuntut perubahan struktural.

Warisan Cak Sholeh bukan hanya tentang ungkapan yang viral, melainkan tentang kesadaran bahwa keadilan seharusnya tidak menunggu popularitas. Ia mengajak kita untuk merenungkan bagaimana membangun sistem yang responsif terhadap suara masyarakat tanpa harus bergantung pada tren media sosial. Dalam konteks Indonesia yang sedang berkembang, warisan ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak yang terlibat dalam penegakan hukum.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Cak Sholeh

Kapan Cak Sholeh meninggal dunia? Cak Sholeh meninggal pada hari Jumat, 7 Agustus 2026, meninggalkan duka bagi masyarakat Indonesia.

Apa yang dimaksud dengan “No Viral No Justice”? Ini adalah ungkapan yang dipopulerkan Cak Sholeh, menggambarkan fenomena di mana keadilan sering kali baru datang ketika sebuah kasus menjadi viral di media sosial.

Organisasi apa yang didirikan oleh Cak Sholeh? Cak Sholeh mendirikan LBH No Viral No Justice, sebuah lembaga bantuan hukum yang berfokus pada advokasi masyarakat kecil melalui pendekatan digital.

Bagaimana Cak Sholeh melakukan advokasi hukum? Ia memanfaatkan media sosial, YouTube, dan warung kopi sebagai ruang konsultasi hukum, memungkinkan masyarakat memperoleh pendampingan tanpa prosedur rumit.

More from this category