Ratu Tisha ingin timnas Indonesia dikenal punya mental baja

1 day ago  ·  4 min read
By David Garcia - fukushimask.com

Visi Ratu Tisha: Membangun “Mental Baja” Timnas Indonesia Melalui Riset Sport Science

Fukushimask.com – Di tengah perdebatan panjang soal mengapa skuad Garuda kerap tumbang di momen-momen krusial, Wakil Ketua Umum PSSI Ratu Tisha Darmawangsa menggarisbawahi satu kata kunci yang selama ini menjadi bahan obrolan di warung kopi: mental. Namun alih-alih berhenti pada keluhan verbal, Tisha mendorong agar persoalan ketangguhan psikologis pemain Indonesia ditangani lewat pendekatan ilmiah yang terstruktur, bukan sekadar narasi emosional setelah peluit akhir berbunyi.

Pernyataan itu ia sampaikan pada Minggu (24/11) saat menghadiri jumpa pers penutupan Liga Universitas Coca-Cola 2026 di Stadion PTIK, Jakarta Selatan. Acara tersebut menjadi panggung bagi Tisha untuk mengartikulasikan agenda jangka panjang PSSI dalam memperkuat dimensi psikologis sepak bola nasional.

Dari Obrolan Tongkrongan ke Meja Riset

Tisha mengakui bahwa frasa “kalah mental” sudah menjadi refleks verbal masyarakat setiap kali Indonesia menelan kekalahan. Ia menggambarkan bagaimana percakapan kasual di kedai kopi selalu berujung pada kesimpulan yang sama: masalahnya ada di kepala pemain, bukan di kaki mereka.

“Kita selalu berbicara kita apa sih kurangnya kita? Kita pasti ada kurang tuh, ah kalah mental. Kita kalau lagi bicara lah ngobrol-ngobrol warung kopi itu ngobrolin seluruh pertandingan sepak bola itu kita pasti keluar kata-kata ‘mental nih, mental nih’. Jadi daripada kita terus-terusan ngobrol-ngobrol aja sifatnya warung kopi, kita turn deh into scientific research.”

Pergeseran paradigma yang ia usulkan cukup tegas: dari stigma menjadi variabel yang bisa diukur, diintervensi, dan dievaluasi secara empiris. Dalam kerangka sport science, ketangguhan mental bukan sifat bawaan yang tak bisa diubah, melainkan kapasitas yang dapat dilatih melalui protokol spesifik.

Liga Universitas sebagai Laboratorium

Untuk menjembatani ambisi tersebut dengan aksi nyata, PSSI memanfaatkan Liga Universitas sebagai wadah eksperimen. Kompetisi sepak bola antar perguruan tinggi ini, sepanjang penyelenggaraannya, mengusung tema “Football For Mental Health”. Setiap sesi pertandingan dan sesi latihan dirancang agar tidak hanya menguji teknik dan taktik, tetapi juga menguji bagaimana pemain mengelola tekanan, frustrasi, dan euforia di bawah kondisi kompetitif.

Tisha menjelaskan bahwa aktivitas fisik—khususnya sepak bola—memiliki banyak dimensi yang dapat dikaji secara akademis. Ia menyinggung aspek physical strengthening, conditioning, hingga injury prevention yang harus mengikuti perkembangan terbaru dalam football science. Dengan kata lain, tubuh dan pikiran pemain dipandang sebagai satu sistem terintegrasi yang memerlukan intervensi simultan.

Aturan Pertandingan sebagai Alat Ukur Emosi

Salah satu elemen menarik yang Tisha soroti adalah penerapan aturan sin bin—sistem pengusiran sementara pemain yang melanggar disiplin—di dalam Liga Universitas. Aturan ini, menurutnya, membuka ruang penelitian tentang bagaimana pemain merespons penalti emosional di tengah pertandingan. Apakah mereka mampu menjaga kendali diri setelah kehilangan rekan? Bagaimana dinamika tim berubah ketika satu pemain harus menunggu di area khusus? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu, kata Tisha, layak menjadi objek kajian ilmiah, bukan sekadar catatan wasit.

Horison Sepuluh Tahun

Tisha tidak menutup mata pada skala waktu yang dibutuhkan. Ia secara eksplisit menyebut bahwa dampak dari program yang sedang dibangunnya baru akan terasa setidaknya satu dekade ke depan. Targetnya bukan sekadar satu turnamen, melainkan pergeseran persepsi publik tentang identitas mental timnas Indonesia.

“Jadi ini adalah sarana untuk area latihan, latihan dan agar kita mungkin 10 tahun dari sekarang bergosipnya itu adalah ‘Wah tim Indonesia itu di mana pun main bolanya level apa pun mentalnya paling kuat’. Inginnya kan visinya gitu ya. Jadi mental kita adalah yang paling kuat seperti kita melihat Jepang lah kemarin bagaimana tenangnya mereka bermain dan lain sebagainya.”

Perbandingan dengan Jepang yang ia sebutkan merujuk pada konsistensi emosional skuad Samurai Blue di panggung internasional—kemampuan bermain dengan ketenangan relatif bahkan saat tertinggal skor atau menghadapi tekanan eliminasi. Bagi Tisha, itulah standar yang ingin dikejar: bukan kekebalan dari kekalahan, melainkan kekebalan dari kepanikan.

Melampaui Ruang Kelas

Di bagian akhir keterangannya, Tisha menegaskan bahwa pembentukan mental tidak dapat direduksi menjadi materi ceramah di ruang kuliah. Pemain membutuhkan paparan langsung terhadap situasi kompetitif—tekanan penonton, keputusan wasit yang kontroversial, kelelahan fisik di menit-menit akhir—agar pemahaman teoretis bertransformasi menjadi respons otomatis di lapangan.

“Karena yang begini nggak bisa diomongin di dalam ruang kelas, ya bisa hanya satu-dua hari, setelah itu praktiknya ada di lapangan karena kan di sepak bola adalah the real praktiknya.”

Dengan demikian, Liga Universitas bukan sekadar turnamen rekreasi mahasiswa. Ia diposisikan sebagai infrastruktur awal bagi ekosistem riset dan pelatihan mental yang, dalam skenario ideal, akan mengalir ke level akademi klub, timnas U-16 hingga senior, dan pada akhirnya mengubah narasi publik tentang sepak bola Indonesia dari “kalah mental” menjadi “kuat di mana pun, di level mana pun.”

Frequently Asked Questions

What is Ratu Tisha ingin timnas Indonesia dikenal?

Ratu Tisha ingin timnas Indonesia dikenal is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Ratu Tisha ingin timnas Indonesia dikenal matter?

Ratu Tisha ingin timnas Indonesia dikenal matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category