Surabaya Dorong 1.361 RW Berperan dalam Ketahanan Pangan Lewat Urban Farming
Fukushimask.com – Kota metropolitan dengan kepadatan penduduk tinggi kerap menghadapi tantangan ganda: ruang hijau yang semakin menyempit dan ketergantungan pasokan pangan dari luar wilayah. Surabaya memilih menjawab persoalan itu dari akar rumput. Sejak lima tahun terakhir, pemerintah kota menyalurkan program urban farming yang kini memasuki fase kelima melalui kompetisi bertajuk Surabaya Urban Farming Competition (SUFC) 2026. Program ini tidak sekadar menjadi ajang perlombaan, melainkan dirancang sebagai gerakan kolektif yang melibatkan seluruh 1.361 rukun warga (RW) di kota tersebut.
Gerakan Pangan dari Lingkungan Terdekat
Anna Fajriatin, Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Surabaya, menegaskan bahwa SUFC 2026 diarahkan untuk meningkatkan produksi pangan lokal sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan harga komoditas pokok. Komoditas utama yang dibudidayakan pada edisi tahun ini adalah cabai rawit dan bawang merah, dengan target panen jatuh pada awal Desember 2026.
“Program yang digelar Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya ini sudah berlangsung pada tahun kelima dengan menjadikan cabai rawit dan bawang merah menjadi komoditas utama yang dibudidayakan, dengan target panen pada awal Desember 2026.”
Pendekatan yang dipilih Surabaya menempatkan ketahanan pangan bukan sebagai urusan sentral semata, melainkan sebagai tanggung jawab kolektif di tingkat lingkungan terkecil. Dengan melibatkan ribuan RW secara simultan, kota ini berupaya membangun kapasitas produksi pangan yang tersebar, terdesentralisasi, dan berkelanjutan di skala rumah tangga hingga permukiman.
Sinergi dengan Kampung Pancasila
Yang membedakan edisi 2026 dari tahun-tahun sebelumnya adalah integrasi eksplisit dengan program Kampung Pancasila, khususnya pada pilar lingkungan. Lomba Kampung Pancasila sendiri menjangkau seluruh 1.361 RW di Surabaya, sehingga urban farming tidak berdiri sendiri melainkan menjadi bagian dari kerangka pembangunan kewilayahan yang lebih luas.
“Di tahun 2026 ini akan menjadi sebuah sinergi yang hebat. Program dari Dinas Ketahanan Pangan melalui Urban Farming Competition akan bersinergi dengan Lomba Kampung Pancasila.”
Anna menjelaskan bahwa kolaborasi ini diharapkan mengubah persepsi masyarakat: urban farming bukan lagi kegiatan musiman atau kompetitif semata, melainkan gerakan bersama yang berakar di setiap wilayah. Keterlibatan ribuan RW sekaligus menciptakan efek jaringan di mana pengetahuan budidaya pangan menyebar secara organik dari satu lingkungan ke lingkungan lainnya.
“Urban farming ini tidak hanya menjadi kegiatan lomba, tetapi menjadi gerakan bersama di setiap wilayah. Dengan keterlibatan 1.361 RW, kita ingin membangun ketahanan pangan mulai dari lingkungan masing-masing.”
Empat Kategori dan Mekanisme Kompetisi
Kepala DKPP Surabaya, Nanik Sukristina, merinci bahwa SUFC 2026 menyediakan empat jalur kompetisi: urban farming terintegrasi atau terpadu, kuantitas bawang merah, kuantitas cabai rawit, serta urban farming pemula. Kategori terpadu menjadi pembeda utama karena menuntut peserta menggabungkan praktik pertanian dengan unsur perikanan dan peternakan dalam satu sistem produksi.
“Kategori urban farming terpadu menjadi pembeda karena menggabungkan pertanian dengan unsur perikanan dan peternakan.”
Pada kategori kelompok tani, peserta membudidayakan cabai rawit dan bawang merah secara bersamaan. Panitia menyediakan 30 bibit bawang merah dan satu paket benih cabai rawit untuk setiap kelompok, sementara media tanam serta perlengkapan budidaya lainnya disiapkan secara mandiri oleh peserta. Penanaman dan pemeliharaan resmi dimulai pada 6 September 2026.
Ruang Perkotaan sebagai Lahan Produktif
Nanik menekankan bahwa program ini mendorong pemanfaatan berbagai ruang yang selama ini belum difungsikan secara produktif di kawasan perkotaan. Pekarangan rumah, lahan aset pemerintah, fasilitas umum, hingga lahan tidur yang belum termanfaatkan semuanya menjadi sasaran. Pendekatan bertahap diterapkan: ketahanan pangan dimulai dari skala rumah tangga, lalu secara progresif dikembangkan ke tingkat RW dan seterusnya.
“Ketahanan pangan kita mulai dari skala rumah tangga. Setelah itu, secara bertahap bisa dikembangkan ke skala yang lebih luas, misalnya tingkat RW.”
Selama periode kompetisi berlangsung, DKPP bersama pemangku kepentingan dan mitra pendukung melakukan monitoring serta pendampingan teknis kepada peserta. Tujuannya memastikan bahwa pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama kompetisi tidak berhenti di arena perlombaan, melainkan diterapkan dan dikembangkan di lingkungan masing-masing sehingga produksi pangan dapat terus berjalan secara berkelanjutan.
“Yang ingin kita dorong adalah bagaimana masyarakat bisa ikut memperkuat ketahanan pangan melalui urban farming. Pengetahuan dan pengalaman selama kompetisi diharapkan dapat diterapkan dan dikembangkan di lingkungan masing-masing, sehingga produksi pangan bisa terus berjalan.”
Implikasi bagi Ketahanan Pangan Perkotaan
Langkah Surabaya ini memiliki dimensi strategis yang melampaui sekadar peningkatan produksi lokal. Dalam konteks fluktuasi harga komoditas pangan nasional dan kerentanan rantai pasok akibat faktor cuaca maupun logistik, kemampuan sebuah kota metropolitan untuk memproduksi sebagian kebutuhan pangan warganya secara mandiri menjadi bantalan penting. Dengan menjangkau ribuan RW secara simultan, Surabaya membangun lapisan ketahanan yang tidak bergantung pada satu titik distribusi tunggal.
Integrasi dengan Kampung Pancasila juga memberi dimensi sosial-budaya pada program pangan tersebut. Ketahanan pangan tidak lagi diposisikan sebagai urusan teknis semata, melainkan sebagai bagian dari identitas kewilayahan dan partisipasi warga dalam menjaga lingkungan tempat tinggalnya. Model ini, jika berhasil, berpotensi menjadi rujukan bagi kota-kota besar lain di Indonesia yang menghadapi tekanan serupa terhadap ketersediaan pangan di tengah kontraksi lahan pertanian konvensional.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Surabaya andalkan urban farming perkuat ketahanan?
Surabaya andalkan urban farming perkuat ketahanan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Surabaya andalkan urban farming perkuat ketahanan matter?
Surabaya andalkan urban farming perkuat ketahanan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

