Mentan sebut peneliti BRIN perkuat BRMP dukung swasembada pangan
Topics Covered –
Jakarta – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, kehadiran para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) merupakan langkah penting untuk memperkuat fungsi lembaga tersebut. Langkah ini, menurut Amran, bertujuan memastikan upaya pencapaian swasembada pangan nasional dapat berjalan lebih efektif. Pernyataan tersebut disampaikannya saat mengikuti Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Jakarta, Rabu, dalam diskusi terkait pagu anggaran Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional untuk Tahun Anggaran 2027, serta berbagai isu sektor pertanian yang menjadi sorotan.
BRMP Dinilai Belum Optimal
Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi, dikenal sebagai Titiek Soeharto, menyoroti kondisi BRMP yang selama ini dianggap kurang maksimal. Menurutnya, setelah banyak tenaga peneliti beralih ke BRIN beberapa tahun belakangan, BRMP belum mampu memainkan perannya secara optimal. Titiek menunjukkan kekhawatiran terhadap penggunaan fasilitas yang dimiliki BRMP, seperti lahan dan infrastruktur riset, yang seharusnya bisa dimaksimalkan untuk mendorong inovasi dalam sektor pertanian.
Dalam RDP tersebut, Titiek mempertanyakan langkah Kementerian Pertanian dalam memulihkan peran strategis BRMP. “BRMP ini mau diapain? Luas sekali di setiap daerah, itu BRMP-nya tuh besar, luas sekali dan sebetulnya tenaga-tenaganya dulu juga banyak,” tanya Titiek. “Nah, setelah ditarik ke BRIN kan tidak ada pergerakan apa-apa di BRMP masing-masing (daerah).”
Langkah Kementerian Pertanian dan BRIN
Menanggapi sorotan Titiek, Amran mengatakan pihaknya telah memperkirakan isu tersebut akan menjadi fokus Komisi IV. Karena itu, Kementerian Pertanian bersama BRIN telah melakukan langkah konkret untuk memperkuat BRMP. Salah satu tindakan tersebut adalah penandatanganan kesepakatan kerja sama yang dilakukan pada 9 Juni 2026.
Amran menjelaskan, melalui kerja sama ini, sekitar 1.000 peneliti BRIN akan ditempatkan di seluruh unit BRMP yang tersebar di Indonesia. “Ini seribu, ini langsung ke pertanian semua, semua berkantor (ke) BRMP se-Indonesia. Para peneliti (BRIN) seribu menempati semua (BRMP) dan Cimanggu kita gunakan kembali,” ujarnya.
Kementerian Pertanian juga berkomitmen memberikan dukungan anggaran untuk memastikan hasil riset yang dihasilkan dapat langsung diterapkan di lapangan. “Anggarannya kita support, penelitiannya. Kemudian tetap sebagai (pegawai) BRIN tapi absennya di tempat kami. Jadi sebenarnya administrasi saja,” tambah Amran.
Optimisme tentang Kinerja BRMP
Amran menjelaskan, peneliti yang ditempatkan di BRMP akan membantu mengisi dan memaksimalkan fasilitas riset yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Salah satu fasilitas yang kembali diaktifkan adalah kawasan penelitian Cimanggu, Bogor, Jawa Barat. Menurutnya, kehadiran para peneliti ini akan mempercepat proses pengembangan teknologi dan inovasi yang diperlukan untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian.
Dalam penjelasannya, Amran menyatakan bahwa kerja sama ini menciptakan sinergi yang lebih kuat antara riset dan penerapan di lapangan. “Ini akan mempercepat proses riset, pengembangan teknologi, dan inovasi yang dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas sektor pertanian nasional,” kata Mentan.
Kebutuhan Kembali Memperkuat Sumber Daya Manusia
Titiek menambahkan, ia mengharapkan pemerintah mampu memastikan para peneliti yang sebelumnya bertugas di BRMP dapat kembali diberdayakan. Menurutnya, keberadaan mereka di bawah BRIN harus diimbangi dengan upaya pemerintah untuk memulihkan kemampuan BRMP dalam menghasilkan teknologi pertanian yang relevan.
Amran menegaskan, skema penempatan para peneliti BRIN di BRMP menguntungkan kedua pihak. Dengan status pegawai BRIN tetap berlaku, mereka bisa memanfaatkan ketersediaan fasilitas riset di BRMP, sementara Kementerian Pertanian memberikan dukungan anggaran yang lebih spesifik. “Kita juga akan memberikan dana penelitian agar hasil yang dihasilkan bisa langsung digunakan untuk kebutuhan pembangunan pertanian,” jelasnya.
Kemajuan Teknologi Pertanian
Dalam pandangan Amran, penguatan BRMP melalui penempatan 1.000 peneliti BRIN diharapkan mampu meningkatkan kualitas inovasi pertanian secara nasional. “Dengan langkah ini, kapasitas riset dan inovasi kita akan semakin kuat,” ujarnya.
Titiek, dalam tanggapannya, menyetujui langkah tersebut tetapi menekankan pentingnya transparansi dalam pengelolaan status para peneliti. Ia juga menginginkan penjelasan lebih lanjut mengenai skema kerja sama antara BRIN dan BRMP. “Ya itu kan jelas. Jadi mau diapain, diapainnya jelas gitu,” tambah Titiek.
Peran BRMP dalam Swasembada Pangan
BRMP memiliki peran kritis dalam pengembangan pertanian Indonesia. Sebagai lembaga yang fokus pada perakitan dan modernisasi, BRMP diharapkan bisa menjadi pusat pengembangan teknologi pertanian, termasuk peningkatan hasil panen, efisiensi penggunaan lahan, dan inovasi dalam sistem pertanian.
Komitmen Kementerian Pertanian untuk memperkuat BRMP memperlihatkan pentingnya penelitian terapan dalam mencapai target swasembada pangan. Dengan kerja sama yang telah disepakati, BRMP diharapkan mampu menjadi lebih aktif dalam menciptakan solusi teknologi yang adaptif terhadap kondisi lokal di setiap daerah.
Dalam konteks globalisasi, swasembada pangan tidak hanya menjadi target kebijakan nasional tetapi juga sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Amran menegaskan, BRMP yang kuat akan mempercepat proses transisi ke pertanian berbasis teknologi tinggi. “Dengan ini, kita bisa menciptakan pertanian yang lebih modern dan berkelanjutan,” katanya.
Kehadiran para peneliti BRIN di BRMP juga menjadi solusi untuk meningkatkan kinerja lembaga tersebut. Titiek menilai, selama ini ada kekurangan dalam koordinasi antara BRIN dan BRMP, sehingga kerja sama yang lebih erat diperlukan untuk memastikan pengembangan teknologi bisa berjalan optimal.
Mentan menyebut, dengan memperkuat BRMP melalui kerja sama ini, pemerintah bisa menjamin adanya inovasi yang tepat waktu dan relevan dengan kebutuhan pertanian Indonesia. “Kita juga akan mengevaluasi hasil kerja sama ini setiap tahun untuk menyesuaikan kebutuhan masyarakat pertanian,” tambah Amran.
Perkembangan di Masa Depan
Langkah-langkah yang diambil Kementerian Pertanian dan BRIN diharapkan menjadi fondasi untuk keberlanjutan pertanian nasional. Dengan penggunaan fas
